Aktua.co.id – Para ilmuwan di University of Surrey baru-baru ini menemukan hubungan antara preferensi tidur, keterampilan kesadaran, dan gejala depresi dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di PLOS ONE.
Tim peneliti menemukan bahwa orang yang suka begadang mendapat skor lebih rendah pada kemampuan kesadaran tertentu. Mereka memiliki kualitas tidur yang buruk sehingga rentan mengalami gejala depresi dibanding orang yang tidur di awal malam.
Orang yang bangun pagi dan yang begadang berbeda tidak hanya dalam hal waktu tidur saja. Namun “Kronotipe” ikut mempengaruhi kinerja kognitif hingga pemrosesan emosional. Kecenderungan bawaan ini memiliki akar genetik yang bisa berubah sepanjang hidup.
Kebanyakan, orang yang menyukai begadang di malam hari memiliki rentang usia remaja atau awal dua puluhan. Hampir setengah dari mahasiswa dalam penelitian tersebut, tergolong tipe malam, menempatkan mereka pada risiko rentan depresi.
Studi ini melibatkan 546 mahasiswa dengan usia rata-rata 19,8 tahun. Setiap peserta menyelesaikan kuesioner yang mengukur kronotipe, gejala depresi, lima aspek mindfulness, merenung, kualitas tidur, dan konsumsi alkohol.
Tipe malam melaporkan kualitas tidur yang buruk daripada tipe pagi dan menengah. Mereka juga mengonsumsi banyak alkohol dan mendapat skor lebih rendah pada aspek “bertindak dengan kesadaran” dari mindfulness.
Salah satu temuan yang mengejutkan adalah peran alkohol. Meskipun orang yang suka begadang minum alkohol lebih banyak, namun jika dikaitkan gejala depresi pada sampel ini, peran alkohol hanya sebagai penghubung sosial.
Artinya mereka meminum alkohol sebatas syarat ketika melakukan aktifitas sosial, bukan konsumsi harian di saat mengalami depresi. Temuan ini melingkupi mahasiswa yang hanya 8,3% melakukan gaya hidup seperti itu.
Dengan peningkatan kesadaran tentang bahaya begadang di malam hari, maka secara efektif mengurangi gejala depresi pada populasi siswa. Mereka bisa mengikuti berbagai terapi untuk menghilangkan kebiasaan begadang sampai malam. (ndi)
