Aktual.co.id – Puluhan siswa MTsN 3 Jombang pada Kamis (7/8/2025) mengikuti pelatihan public speaking yang digelar bekerja sama dengan UPN “Veteran” Jawa Timur. Kegiatan bertajuk “Pelatihan Keterampilan Public Speaking sebagai Upaya Penguatan Potensi Siswa/i” ini tidak hanya mengajarkan teknik berbicara, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk menyuarakan pendapat.
Enam pembicara hadir membawakan materi yang beragam, mulai dari teknik berbicara di depan umum, membangun rasa percaya diri, hingga etika public speaking. Salah satunya adalah Wisnu Pudji Pawestri, Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jatim, yang membawakan materi “Berani Berbicara: Mengapa dan Untuk Siapa”.
Dalam paparannya, ia mengajak peserta meninggalkan “budaya diam” yang kerap menjadi penyakit sebagian besar orang. Padahal, “suara” itu dapat membawa perubahan. “Suara kita bisa menjadi alat untuk membela yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan menciptakan lingkungan yang lebih baik,” kata Wisnu.
Ia juga mengajak siswa memahami bahwa berbicara adalah tindakan sosial yang memiliki dampak nyata. Ia mencontohkan tokoh-tokoh perubahan seperti Nabi Muhammad SAW, Bung Karno, R.A. Kartini, hingga Greta Thunberg. “Para tokoh ini menjadi bukti nyata bahwa kata-kata yang diucapkan dengan tepat bisa menjadi kekuatan perubahan yang melampaui batas panggung,” tegasnya.
Setelah sesi materi, para siswa mempraktikkan public speaking dengan topik yang mereka susun sendiri, mulai dari pengalaman hidup, cita-cita, hingga isu lingkungan di sekolah. Salah satu peserta membawakan pidato tentang penanganan sampah, mengajak seluruh warga sekolah untuk lebih peduli terhadap kebersihan.
Setiap penampilan dinilai oleh para fasilitator, termasuk guru pendamping dan narasumber. Umpan balik diberikan secara langsung, mulai dari intonasi, kontak mata, hingga struktur pidato.“Sebagian besar peserta punya potensi yang kuat. Tinggal diasah terus, mereka bisa menjadi retoris ulung,” kata Rifky Farouq, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UPNVJT Jombang.
Bagi banyak siswa, kegiatan ini menjadi pengalaman pertama berbicara di depan umum. “Awalnya grogi, tapi ternyata bisa juga,” kata seorang peserta sambil tersenyum lega.
Pelatihan ditutup dengan suasana hangat dan tepuk tangan panjang. Lebih dari sekadar belajar berbicara, hari itu para siswa pulang dengan keyakinan baru: suara mereka berarti, dan bisa menjadi bagian dari perubahan. (Penulis: Wisnu Pudji Pawestri)
