Aktual.co.id – Sebuah penelitian tertarik mengetahui aksen Swift yang berubah seiring perjalanan kariernya. Sekaligus selaras perpindahan geografis dan perubahan profesionalnya.
Dikutip dari Psypost, Tylor Swift pindah dari Pennsylvania ke Tennessee pada saat remaja untuk menekuni musik country, dan beralih ke musik pop.
Wawancara di medianya, yang direkam dalam berbagai fase perjalanan memberikan materi bagaimana bunyi vokal tertentu berubah dalam ucapannya. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa orang sering kali tidak sadar menyesuaikan gaya bicaranya sesuai dengan orang-orang di sekitarnya
Bagi peneliti, Swift yang membangun karier di musik country yang dianggap genre yang terkait dengan identitas Selatan, menyelaraskan gaya bicaranya dengan ekspektasi regional dapat meningkatkan autentisitas dan keterhubungannya dengan penonton.
“Karya ini dimungkinkan oleh Miski Mohamed, penggemar berat Taylor Swift. Miski adalah teman sekelas saya di mana saya mengajar tentang pengukuran sifat fisik suara, dan kami mencetuskan ide untuk studi Taylor Swift berdasarkan perubahan aksennya dan kesempatan untuk melihat perubahan dalam musiknya ketika membandingkan pertunjukan di studio dengan pertunjukan langsung,” ujar penulis senior Matthew Winn , seorang profesor madya audiologi di University of Minnesota.
Biasanya sangat sulit mempelajari bagaimana sebuah dialek bisa berubah. “Karena tidak realistis untuk mengikuti seseorang dengan mikrofon dan berharap pindah ke kota lain dan mengubah cara bicaranya,” katanya.
Namun, Taylor Swift memberi dirinya kesempatan dengan cara mengijinkan merekam suara berkali-kali selama bertahun-tahun dalam wawancara dan penampilan media.
Disampaikan jika Swift tinggal di wilayah geografis yang berbeda, dan memiliki berbagai macam pengaruh sosial dan aspirasi karier yang membentuknya.
Para peneliti menganalisis pidato Swift dari wawancara selama tiga periode kariernya. Pada tahun 2008 ketika ia mempromosikan album country dan tinggal di Nashville. Pada tahun 2012 ketika beralih ke musik pop dan terhubung kembali dengan wilayah Philadelphia.
Pada tahun 2019 ketika tinggal di New York City dan berbicara di depan umum tentang isu keadilan sosial. Klip audio dipilih dengan cermat untuk menghindari noise dan suara yang tumpang tindih, dan hanya vokal alami tanpa tekanan yang dianalisis.
Peneliti berfokus pada vokal karena merupakan indikator yang andal untuk perbedaan aksen. Perhatian khusus diberikan pada vokal dalam kata-kata seperti “ride”, “code”, “thought”, dan “cot”, karena vokal-vokal ini bervariasi di berbagai dialek Amerika.
Selama periode Nashville, pelafalan Swift mencakup ciri-ciri yang berkaitan dengan Bahasa Inggris Putih Selatan. Yang paling mencolok adalah pemendekan vokal /aɪ/, yang muncul dalam kata-kata seperti “ride”.
Disampaikan jika Swift menghasilkan vokal /u/ yang lebih di depan. Pemendekan ini terjadi bahkan ketika bunyi-bunyi di sekitarnya. Menunjukkan bahwa hal itu bukan sekadar efek otomatis, tetapi dipengaruhi paparan dan tujuan sosial yang lebih luas.
Ketika kembali mempromosikan musik di luar genre country, kata peneliti, gaya bicaranya menunjukkan tanda-tanda kembali ke ciri-ciri yang konsisten dengan akarnya di wilayah Philadelphia.
“Vokal /aɪ/-nya kembali memiliki lintasan yang lebih panjang dan lebih jelas, terutama dalam konteks bersuara seperti “ride”, meskipun perbedaannya kurang terlihat dalam konteks tak bersuara seperti “right”,” kata peneliti.
Vokal /u/-nya juga menjadi kurang di depan, demikian yang disampaikan oleh peneliti. Tahun 2019, gaya bicara Swift semakin bergeser.
“Saat tinggal di New York, ia menunjukkan pemisahan yang lebih jelas antara vokal dalam “cot” dan “caught”, sebuah perbedaan yang umum dalam dialek Utara tetapi tidak menonjol di Selatan,” ujar peneliti.
Disampaikan juga, jika vokal /aɪ/-nya menjadi lebih panjang dan lebih jelas dibandingkan versi Nashville-nya. “Perubahan ini menunjukkan adanya jarak yang disengaja atau tidak disadari dari aksen Selatannya sebelumnya,” kata Matthew Winn.
Seperti halnya semua penelitian, terdapat keterbatasan yang perlu dipertimbangkan. “Analisis ini didasarkan pada satu pembicara, yang berarti hasilnya belum tentu dapat digeneralisasikan ke orang lain,” kata Matthew.
Selain itu, wawancara dilakukan dalam suasana santai dan tidak terkendali, sehingga beberapa variasi gaya bicara dapat dipengaruhi oleh konteks, nada emosional, atau lawan bicara. (ndi/psypost)
