Aktual.co.id – Gerhana bulan merah diprediksi terjadi pada Selasa 3 Maret 2026 yang bisa disaksikan di beberapa titik terutama Amerika, Australia dan sebagian di Indonesia.
Disebut gerhana bulan merah karena pada saat terjadi gerhana bulan akan menampakkan warna kemerahan sebelum kembali menjadi keperakan lagi.
Bagi umat Islam, gerhana bulan bukan sekadar fenomena alam melainkan menjadi momen spritual untuk menyaksikan kebesaran Allah sekaligus beribadah kepada-Nya.
Kementerian agama RI pun memberikan himbauan untuk melaksanakan salat gerhana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mengutip dari laman Kementerian Agama, Syekh Nawawi menjelaskan, shalat gerhana memiliki tiga tingkatan. Pertama paling minimal, yaitu dua rakaat sebagaimana shalat sunnah Zuhur.
Kedua adalah tingkat pertengahan dengan dua kali rukuk dan dua kali sujud. Ketiga adalah tingkatan sempurna, yaitu setelah membaca Al-Fatihah dilanjutkan membaca surat-surat panjang sesuai kemampuan, misalnya Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa, dan Al-Ma’idah atau seukuran itu. Rukuk dan sujudnya pun dilakukan sesuai panjang bacaan surat tersebut.
Adapun tata cara melaksanakan shalat gerhana bulan (khusuf) tingkat pertengahan adalah sebagaimana berikut:
-. Niat shalat gerhana yang dibarengi dengan takbiratul ihram.
-. Membaca doa Iftitah.
-. Membaca Ta’awudz dan Al-Fatihah.
-. Membaca surat Al-Qur’an dengan jahr (lantang).
-. Rukuk pertama (lama).
-. Bangkit dari ruku (I‘tidal).
-. Membaca surat Al-Fatihah kembali.
-. Membaca surat yang lebih pendek dari surat pada poin 4.
-. Rukuk kedua (lebih singkat dari rukuk pertama).
-. Bangkit dari ruku (I‘tidal).
-. Sujud pertama.
-. Duduk di antara dua sujud.
-. Sujud kedua.
Selanjutnya berdiri melaksanakan rakaat kedua dan tata caranya pun sama sebagaimana pada rakaat pertama. Hanya saja, bacaan suratnya lebih pendek daripada bacaan surat pada rakaat pertama.
Setelah itu, dilanjutkan dengan melakukan tasyahud akhir dan ditutup dengan salam. Dengan demikian, tata cara shalat Khusuf atau gerhana bulan itu pada dasarnya adalah sama seperti shalat sunnah pada umumnya. Perbedaannya terletak pada jumlah rukuk dan sujud yang dilakukan di setiap rakaatnya. (kemenag/ndi)
