Aktual.co.id – Memiliki produk berkualitas dan penjualan yang terus meningkat belum tentu menjamin sebuah usaha mampu bertahan. Tanpa pengelolaan keuangan yang baik, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berisiko kesulitan mengembangkan bisnisnya, bahkan ketika produk yang dijual cukup diminati pasar.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan penguatan kapasitas UMKM perempuan di Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya. Melalui kegiatan ini, para pelaku usaha didorong untuk lebih disiplin mencatat transaksi, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, serta merencanakan penggunaan modal agar bisnis yang dirintis dapat berkembang secara berkelanjutan.
Penguatan literasi keuangan ini dinilai penting mengingat banyak UMKM perempuan memulai usahanya dari rumah dengan modal terbatas. Jenis usahanya pun beragam, mulai dari kuliner, produk olahan makanan, fesyen, hingga kerajinan dan produk kreatif lainnya.
Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur sekaligus fasilitator UMKM, Dhelittya Finaliyani Putri, S.Sos., M.I.Kom., mengatakan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi pelaku usaha kecil adalah belum optimalnya pencatatan keuangan. Akibatnya, pelaku usaha kerap kesulitan mengetahui secara pasti keuntungan yang diperoleh dari aktivitas bisnisnya.
“Usaha yang dimulai dari rumah tetap membutuhkan pengelolaan keuangan yang baik. Pelaku UMKM harus mengetahui berapa pemasukan, pengeluaran, modal yang berputar, dan keuntungan yang sebenarnya diperoleh. Dengan pencatatan sederhana, perkembangan usaha bisa dipantau secara lebih jelas,” ujar Dhelittya.
Menurutnya, kebiasaan mencampurkan uang hasil penjualan dengan kebutuhan rumah tangga juga perlu mulai diubah. Sebab, tanpa pemisahan yang jelas, pelaku usaha akan kesulitan membedakan keuntungan bisnis dengan uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Karena itu, Dhelittya mendorong peserta membangun kebiasaan mencatat setiap transaksi, sekecil apa pun nilainya. Langkah sederhana tersebut dapat menjadi dasar untuk mengevaluasi kondisi usaha sekaligus menentukan strategi pengembangan bisnis.
Ia menjelaskan, pencatatan keuangan tidak hanya berfungsi untuk mengetahui untung dan rugi. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk menghitung harga pokok produksi, menentukan harga jual, mengendalikan biaya operasional, hingga merencanakan tambahan modal.
“Literasi keuangan untuk UMKM tidak perlu dibuat rumit. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan mencatat dan memahami kondisi keuangan usaha. Dari langkah sederhana itu, pelaku UMKM bisa mulai menyusun perencanaan bisnis yang lebih baik,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga didorong untuk mengubah pola pikir dalam menjalankan usaha. Bisnis rumahan tidak cukup hanya berorientasi pada penjualan harian, tetapi perlu memiliki perencanaan agar keuntungan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk memperbesar kapasitas usaha.
Bagi pelaku UMKM perempuan, kemampuan mengelola keuangan secara mandiri juga menjadi bagian penting dalam memperkuat kemandirian ekonomi keluarga. Dengan memahami kondisi keuangan bisnisnya, mereka diharapkan lebih percaya diri dalam menentukan keputusan usaha, termasuk ketika menghadapi perubahan harga bahan baku maupun persaingan pasar.
Dhelittya menilai, pendampingan UMKM perlu dilakukan secara praktis dan menyesuaikan kondisi pelaku usaha. Karena itu, pemahaman mengenai keuangan sebaiknya tidak berhenti pada penyampaian teori, melainkan diarahkan pada penerapan kebiasaan pencatatan dan evaluasi usaha secara konsisten.
“Melalui penguatan kapasitas ini, UMKM perempuan di Gunung Anyar diharapkan tidak hanya mampu meningkatkan penjualan, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang lebih sehat. Dengan pengelolaan keuangan yang tertib, usaha yang semula dirintis dari rumah memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh, naik kelas, dan bertahan dalam jangka panjang,” pungkasnya.
(Penulis: Dhelittya Finaliyani Putri, S.Sos., M.I.Kom., Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Jawa Timur)
