Aktual.co.id – Cina mengirimkan unit-unit militer untuk melakukan latihan besar-besaran di sekitar Taiwan. Komando Palagan Timur Tentara Pembebasan Rakyat, yang bertanggung jawab di Laut Cina Timur, pada Senin (29/12/2025) mengumumkan bahwa Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Pasukan Roket dikerahkan ke beberapa wilayah di sekitar Taiwan.
Latihan militer yang diberi kode nama “Misi Keadilan 2025” ini adalah latihan pertama semacam itu sejak April. Komando palagan mengatakan latihan tersebut berfungsi sebagai peringatan serius kepada pasukan separatis ‘Kemerdekaan Taiwan’ dan pasukan eksternal yang turut campur.
Komando tersebut menambahkan bahwa latihan yang melibatkan latihan tembak dengan peluru tajam akan dilakukan di wilayah perairan dan udara di sekitar Taiwan pada Selasa (30/12/2025) mulai pukul 8 pagi hingga 6 sore.
Cina meningkatkan tekanan militer terhadap pemerintahan Presiden Taiwan Lai Ching-te dari Partai Progresif Demokratik yang berkuasa. Partai tersebut dianggap Beijing sebagai prokemerdekaan.
Pemerintah Cina juga memprotes pernyataan yang dibuat oleh Perdana Menteri Jepang Takaichi Sanae dalam sidang Parlemen mengenai kemungkinan keadaan darurat di Taiwan.
Otoritas di Taiwan tetap waspada setelah Cina mengumumkan serangkaian latihan militer besar-besaran di wilayah sekitar.
Seorang juru bicara kantor kepresidenan menggambarkan aktivitas tersebut sebagai tantangan terbuka terhadap hukum dan ketertiban internasional.
Pejabat tersebut mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa latihan-latihan tersebut mengganggu keamanan di Selat Taiwan dan Indo-Pasifik.
Pernyataan itu menyebutkan bahwa militer dan pasukan keamanan Taiwan dalam kondisi siaga penuh setelah mendeteksi pergerakan Cina.
Pernyataan itu juga menyebutkan warga Taiwan dalam keadaan aman dan tidak perlu khawatir. Selain itu, Taiwan akan terus bekerja sama dengan mitra kawasan untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di Indo-Pasifik.
Para pejabat Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan telah mendirikan pusat respons darurat untuk memantau situasi. Mereka juga bertekad untuk mempertahankan kedaulatan Taiwan. (ndi/NHK)
