• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Saatnya Bergeser dari Narasi Hilirisasi ke Reindustrialisasi
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Pakar Menulis

Saatnya Bergeser dari Narasi Hilirisasi ke Reindustrialisasi

Redaktur III Sabtu, 14 Februari 2026
Share
8 Min Read
Ilustrasi industri / Foto : Freepik
Ilustrasi industri / Foto : Freepik

Peraih hadiah nobel ekonomi tahun 2025, Joel Mokyr dalam “The Holy Land of Industrialism”: Rethinking Industrial Revolution yang dipublikasi oleh Journal of British Academy pada 21 Agustus 2021 menyatakan bahwa industrialisasi sejak abad ke-18 di suatu negara selalu ditandai oleh kepemimpinan dalam bidang teknologi.

Revolusi industri di Inggris pada tahun 1760 dan kepemimpinan Inggris dalam bidang teknologi hingga tahun 1850 karena ditopang oleh ketersediaan tenaga kerja berketerampilan tinggi. Industrialisasi di Inggris ditandai oleh inovasi dan penemuan baru yang meningkatkan efisiensi dan produktifitas.

Hal ini berlanjut hingga akhir abad ke-19 dengan industrialisasi di Amerika Serikat (AS) ditandai oleh technology leadership yang didorong oleh inovasi baru.

Sementara, industrialisasi pada awal abad ke-20 di Jepang dan Korea Selatan (Korea) berubah dari new innovation atau new invention menjadi learning untuk mengabsorbsi teknologi maju dari Eropa dan AS.

Narasi Hilirisasi

Sejarah industrialisasi yang dimulai dari Inggris, Jerman dan AS hingga Jepang dan Korea mengajarkan bahwa untuk mencapai status sebagai negara maju tidak cukup hanya membangun narasi hilirisasi, yaitu memberikan nilai tambah (dawn streaming) terhadap ekspor Sumber Daya Alam (SDA).

Narasi hilirisasi yang dikerjakan dengan baik hanya akan menempatkan sektor industri manufaktur nasional dalam global supply chain (rantai pasok global).

Industri dalam negeri menjadi bagian dari intra-industry trade (IIT) global, seperti IIT dalam industri mobil listrik melalui hilirisasi nikel sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Menjadikan industri domestik kehilangan kesempatan membangun industri mobil listrik nasional.

Narasi hilirisasi SDA tidak akan mengubah secara signifikan besarnya kontribusi industri manufktur terhadap gross domestic product (GDP) secara nasional.

Artinya, hilirisasi tidak dapat membalik arah dari deindustriliasasi menjadi reindustrialisasi. Sejak tahun 2000-an, kontribusi industri manufaktur terhadap GDP terus menurun hingga hanya 18,98 persen tahun 2024.

Baca Juga:  Data PIHPS Harga Cabai Rawit Tembus Rp. 100.000/kg

Sebagai contoh, pengalaman Jepang membangun industrinya yang berciri state-led industrialization, yaitu pemerintah Jepang memimpin pengembangan industri manufakturnya.

Pemerintah Jepang menerapkan national champion strategy, yaitu menetapkan dan mendukung industri unggulan nasional untuk bersaing di pasar ekspor.

National champion industry Jepang adalah industri otomotif yang dipimpin oleh Toyota, Honda, Suzuki, Yamaha, Nissan, Mitsubishi dan lainnya yang sangat populer di pasar otomotif Indonesia.

Pada awalnya, perusahaan tersebut berskala kecil yang kemudian bertransformasi menjadi perusahaan raksasa global atas dukungan kebijakan pemerintah.

Pemerintah Jepang menetapkan industri baja, pembuatan kapal, semikonduktor dan elektronika sebagai industri unggulan. Dukungan pemerintah yang paling menonjol adalah membangun ekosistem industri guna memfasilitasi transfer teknologi, yaitu mengimpor teknologi dari negara maju, mengadaptasi dan melakukan inovasi teknologi secara mandiri.

Pemerintah Korea juga menganut state-led industrialization dengan beberapa industri sebagai national champion industry. Sebagai contoh national champion industry adalah industri baja dipimpin POSCO, elektronika dengan Samsung dan LG, otomotif dengan Hyundai Motor Company dan pembuatan kapal dengan Hyundai Heavy Industries, Daewoo dan Samsung.

Strategi yang sama ditempuh oleh pemerintah China, yaitu state-led indutrialization dengan national champion industry dalam bidang otomotif, khususnya kendaraan mobil listrik yang menjadikan China sebagai pemain nomor satu secara global dalam industri mobil listrik. Demikian juga industri elektronika, semikonduktor, pembuatan kapal, dan lainnya.

Narasi Reindustrialisasi

Belajar dari pengalaman negara lain yang saat ini berstatus negara maju, pemerintahan Prabowo Subianto sudah saatnya bergeser dari narasi hilirisasi yang dipopulerkan satu dekade yang lalu oleh presiden Jokowi ke narasi reindustrialisasi.

Pilihan strateginya adalah state-led industrialization dengan national champion industry yang menjadi andalan bersaing di pasar ekspor.

Baca Juga:  Prediksi Bank Dunia, Ekonomi RI Tumbuh 4,8 Persen Hingga 2027

Pemerintah menetapkan industri unggulan yang didukung kebijakan pemerintah dalam ekosistem industri yang menjamin keterkaitan antara core industry, supporting industry dan related industry.

Lalu, apa langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintahan Prabowo Subianto untuk bergeser dari sekedar hilirisasi menjadi reindustrialisasi dan membalik arah deindustrialisasi menjadi reindustrialisasi?

Langkah pertama, membangun aglomerasi industri di setiap daerah. Mula-mula, pemerintah secara terpusat menetapkan klaster industri tertentu sebagai national champion industry yang berbasis di setiap propinsi sesuai keunggulan sumber dayanya, baik Sumber Daya Manusia (SDM) maupun SDA.

Sebagai contoh, ekosistem atau klaster industri perikanan laut dapat dipusatkan di Maluku yang selama ini memiliki comparative adventage dalam produk perikanan laut.

Harapannya, Indonesia membangun satu merek dagang di bidang perikanan laut yang memiliki keunggulan bersaing di pasar ekspor.

Sementara klaster industri karet alam dapat dipusatkan di Sumatera Selatan (Sumsel). Selama ini, Sumsel adalah daerah dengan lahan karet alam terbesar di Indonesia.

Tujuannya, agar Indonesia memiliki produk turunan dari karet alam, seperti sarung tangan latex dan nitrile yang selama ini dikuasai oleh Top Glove Corporation Berhard, Malaysia.

Langkah kedua, peningkatan efisiensi dan produktifitas industri terbaru tidak lagi bergantung pada pengembangan teknologi baru yang bersifat eksogen.

Industrialisasi paling mutakhir ditentukan oleh faktor-faktor yang bersifat endogen, yaitu seberapa cepat suatu negara mengabsorbsi teknologi baru dari negara maju melalui foreign direct investment (FDI).

Aliran FDI membutuhkan perbaikan dalam efisiensi dan produktifitas nasional. Sehingga salah satu agenda prioritas nasional adalah melakukan reformasi struktural untuk menurunkan nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dari sangat tidak efisien, sebesar 6,25 – 6,50 tahun 2025 menjadi setara dengan rata-rata ICOR negara ASEAN sekitar 3,5 – 4,0.

Baca Juga:  Kementan Pastikan Harga Cabai Stabil di Libur Lebaran 2025

Langkah ketiga, mendongkrak The Economic Complexity Index (ECI) untuk meningkatkan produktifitas pengetahun dan SDM yang tercermin pada diversifikasi dan sopistikasi produk-produk ekspor nasional.

Faktanya, dalam 26 tahun terakhir, sejak awal tahun 2000-an, peringkat ECI Indonesia justru semakin buruk, dari peringkat 49 tahun 2000 menjadi 72 tahun 2023.

Hal ini, mencerminkan bahwa produk ekspor Indonesia semakin bergantung pada hasil eksploitasi SDA non olahan bernilai tambah rendah.

Kondisi ini sejalan dengan peran sektor manufaktur dalam pembentukan GDP Indonesia yang menurun dari 32 persen tahun 2000 menjadi 18,98 persen.

Langkah keempat, agenda strategis mendesak bagi Sovereign Wealth Fund Danantara (SWFD) adalah berinvestasi membangun aglomerasi industri berbasis komoditas unggulan di daerah.

Langkah teknisnya, mengaktifkan kembali kawasan industri di daerah yang selama ini hanya menjadi kawasan pergudangan minus pengolahan.

Pilihan kebijakannya adalah mendorong pengembangan industri berbasis SDA dengan medium-technology industry di luar pulau Jawa dan high-tech industry yang membutuhkan tenaga kerja terampil, dukungan lembaga pelatihan, riset dan pengembangan dibangun di pulau Jawa.

Akhirnya, menggeser narasi hilirisasi menjadi narasi reindustrialisasi akan membantu keluar dari fenomena “5 percent growth trap”.

Untuk itu, sebagai penutup, ada baiknya merujuk fisikawan, Albert Einstein bahwa “insanity is doing the same thing over and over again and expecting the different result”.

Ibarat mobil, saatnya berpindah dari “gigi tiga ke gigi enam”, mengubah cara berpikir dan bertindak menuju status negara maju tahun 2045.

Muhammad Syarkawi Rauf/ Foto: Ist
Muhammad Syarkawi Rauf/ Foto: Ist

Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf (Dosen FEB Unhas dan Ketua KPPU RI, Periode 2015 – 2018)

SHARE
Tag :EkonomiIndustrialisasi
Ad imageAd image

Berita Aktual

Para lansia berolahraga dengan dumbel kayu dalam acara kesehatan yang menandai "Hari Penghormatan Lansia" Jepang /Foto: REUTERS
Jumlah Lansia Usia di Atas 100 Tahun Mencapai 107 Ribu di Jepang
Selasa, 15 September 2026
Purbaya Budi Sadewa/ Foto: Ist
Purbaya Menyerahkan ke Suahasil dengan Keahliannya Pimpin Kemenkeu
Selasa, 15 September 2026
Aktivitas SPBU di Makassar/ Foto: ANTARA
Pertamina Yakinkan Akan Memulihkan Layanan BBM di Kota Makassar
Selasa, 15 September 2026
Prediksi tampilan Galaxy S27/ Foto: gizmochina
Dirumorkan Samsung Galaxy S27 Menggunakan OLED M16 Terbaru
Selasa, 15 September 2026
Foto Pre Wedding Won Hyun Jun dan Lee Su Jin / Foto: Soompi
Won Hyun Jun dan Lee Su Jin Umumkan Jadwal Pernikahan Mereka
Selasa, 15 September 2026

Mental Health

Ilustrasi peduli terhadap kasus bunuh diri/ Foto: Freepik

Pencegahan Bunuh Diri Menekan Angka Kematian Akibat Bunuh Diri di Dunia

Ilustrasi olah raga/ Foto: psypost

Studi Menjelaskan Olah Raga Mampu Meredam Gangguan Depresi

Joe Biden/ Foto: capture ANTARA

Hunter Biden: Kanker Prostat Joe Biden Menyebar ke Tulang

Ilustrasi nyeri kepala/ Foto: freepik

Mengenali Nyeri Kepala yang Sering Diderita oleh Setiap Orang

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Mengenal Prof. Dr. Suahasil Nazara yang Dilantik Menjadi Menkeu

Menkeu Suahasil Mengatakan Akan Menjaga Defisit di Bawah 3 Persen

Suahasil Nazara Dilantik Menjadi Menkeu Menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa

KM Virgo Transport 8 Dihantam Ombak Tiga Meter Saat Kecelakaan

Yeji Absen Kegiatan ITZY di Amsterdam Karena Nenek Meninggal Dunia

More News

Anak panti menunjukkan kreativitasnya setelah dibina mahasiswa UPN Veteran Jatim/dok.aktual.co.id

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Ajak Anak Panti Belajar Toleransi dan Cinta Tanah Air Lewat Kreativitas

Kamis, 9 April 2026
Sumpah dokter FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya / Foto: Adv

FK UWKS Sumpah dan Lantik 98 Dokter Baru yang Siap Mengabdi untuk Negeri

Kamis, 5 Februari 2026
Mahasiswa UPN Veteran Jatim saat melakukan pengabdian/dok.aktual.co.id

Mahasiswa UPN Veteran Jatim Tanamkan Moderasi Beragama di TPQ Al-Muttaqin

Senin, 2 Maret 2026
Ilustrasi pertobatan/dok.aktual.co.id

Refleksi Sebuah Fenomen: Perlukah Pertobatan Nasional?

Rabu, 29 April 2026
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id