• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Refleksi Sebuah Fenomen: Perlukah Pertobatan Nasional?
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Pakar Menulis

Refleksi Sebuah Fenomen: Perlukah Pertobatan Nasional?

redaksi Rabu, 29 April 2026
Share
5 Min Read
Ilustrasi pertobatan/dok.aktual.co.id
Ilustrasi pertobatan/dok.aktual.co.id

Aktual.co.id – Politik Indonesia belakangan ini, menurut hemat penulis, seringkali terasa seperti ruang yang bising namun hampa makna. Alih-alih menjadi jembatan untuk kesejahteraan, komunikasi politik kita lebih sering terjebak dalam pusaran hoaks, polarisasi tajam, hingga penggunaan sentimen agama sebagai senjata pemukul lawan. Ada sebuah ironi besar yang menghuni ruang publik Indonesia. Indonesia mengukuhkan diri sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia serta memiliki keragaman agama yang tinggi (BPS, 2021). Pancasila sebagai dasar negara menempatkan “Ketuhanan Yang Maha Esa” di sila pertamanya. Ini sebuah pengakuan bahwa kehidupan berbangsa tidak bisa dipisahkan dari dimensi spiritual.

Namun realitas berkata lain. Setiap menjelang musim pemilihan umum, lanskap komunikasi politik Indonesia berubah menjadi medan pertempuran yang sarat disinformasi, politik identitas yang memecah-belah, dan ujaran kebencian yang mengeksploitasi simbol-simbol agama. Data Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) mencatat bahwa sepanjang periode Pemilu 2024 terdapat ribuan konten hoaks yang berhasil diidentifikasi. Sebagian besar menyerang karakter kandidat dengan muatan fitnah bernuansa agama (MAFINDO, 2024). Indeks Demokrasi Indonesia yang dirilis oleh The Economist Intelligence Unit menempatkan Indonesia di skor 6,53 pada tahun 2023 dalam kategori flawed democracy atau “demokrasi cacat” (EIU, 2024). Kategori ini menunjukkan bahwa meskipun pemilihan umum berlangsung bebas dan adil, terdapat tantangan signifikan dalam kebebasan sipil, budaya politik, dan fungsi pemerintahan.

Baca Juga:  Studi Baru Menunjukkan Sikap Menghibur Kunci Keberhasilan Tokoh Politik

Korupsi di Indonesia juga telah menjadi dosa struktural yang mengakar dalam ekosistem politik. Indonesia Corruption Watch (ICW) dalam laporan tahunan 2023 mencatat bahwa terdapat 791 kasus korupsi yang ditangani aparat penegak hukum dengan total kerugian negara mencapai Rp8,02 triliun. Sektor terbesar yang dikorupsi mencakup pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Hal ini berarti merampas hak-hak dasar jutaan warga paling rentan (ICW, 2024). Sementara itu, Transparency International dalam Corruption Perceptions Index 2023 menempatkan Indonesia di peringkat 115 dari 180 negara, dengan skor 34 dari 100 (TI, 2024). Skor ini mencerminkan kondisi korupsi yang memburuk akibat minimnya dukungan nyata dari pemangku kepentingan. Ironisnya, banyak pelaku korupsi adalah tokoh yang secara publik menampilkan diri sebagai orang beragama.

Dalam konteks inilah, gagasan mengenai pertobatan nasional menjadi relevan. Gagasan pertobatan nasional bukan sekadar wacana moral, melainkan kebutuhan mendesak bagi keberlanjutan demokrasi Indonesia. Ini juga bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi sebuah proses sosial-politik yang melibatkan refleksi, pengakuan kesalahan, dan komitmen perubahan bersama. Dalam teori komunikasi Jürgen Habermas, ini disebut sebagai upaya mencapai “Tindakan Komunikatif” (Communicative Action) di mana komunikasi diarahkan untuk mencapai kesepahaman, bukan manipulasi atau dominasi (Habermas, 1984). Pertobatan nasional merupakan bentuk reintegrasi sosial. Artinya, mengembalikan masyarakat dari kondisi terfragmentasi menuju kesatuan nilai dan tujuan bersama.

Baca Juga:  Homeless Media di Bawah Bayang-Bayang Kekuasaan

Pertobatan nasional bukan sekadar pernyataan permintaan maaf kolektif yang dibacakan di hadapan kamera. Ia adalah sebuah gerakan etis-spiritual yang terstruktur yang melibatkan tiga elemen pokok. Pertama, pengakuan kolektif. Artinya, keberanian untuk melihat dan menyebut secara jujur praktik-praktik destruktif yang telah berlangsung dalam kehidupan politik. Misalnya, korupsi sistemis, manipulasi suara rakyat, politik kebohongan, eksploitasi simbol agama untuk kepentingan kekuasaan sempit, dan pengabaian terhadap hak-hak kelompok marginal. Kedua, komitmen transformatif. Pertobatan tanpa perubahan perilaku adalah kepalsuan. Dimensi ini menuntut reformasi nyata. Habermas menyebutnya sebagai rasionalitas komunikatif (communicative rationality) yang menopang legitimasi demokrasi (Habermas, 1984). Ketiga, pemulihan dan rekonsiliasi. Pertobatan yang sejati bergerak ke depan dengan membangun kembali kepercayaan, menjembatani luka-luka sosial yang ditimbulkan oleh polarisasi, dan merawat keadilan bagi mereka yang telah dirugikan. Model rekonsiliasi pasca-konflik Afrika Selatan melalui Truth and Reconciliation Commission menjadi referensi global yang relevan dalam hal ini (Tutu, 1999).

Baca Juga:  SBY : Kunci Danantara Harus di Memiliki Good Governance

Dalam konteks Indonesia kontemporer, pertobatan nasional bukanlah agenda satu agama atau satu kelompok. Ia membutuhkan partisipasi dari berbagai aktor secara berjenjang dan saling melengkapi. Pertobatan nasional tidak bisa terjadi secara instan atau seremonial. Ia membutuhkan proses berkelanjutan yang melibatkan berbagai level. Pertobatan nasional bukan peristiwa satu kali yang selesai setelah sebuah deklarasi bersama ditandatangani. Ia adalah proses panjang yang membutuhkan kelembagaan, komitmen generasional, dan budaya refleksi yang terus-menerus. Artikel ini ditulis sebagai ajakan refleksi bersama dan bukan sebagai tuduhan kepada satu pihak, melainkan sebagai cermin yang ditawarkan kepada seluruh komponen bangsa.

(Penulis: Ahmad Zamzamy, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIBPOL UPN “Veteran” Jatim)

SHARE
Tag :Pakar menulispolitik
Ad imageAd image

Berita Aktual

Samsung Galaxy M44/ Foto: Gizmochina
Samsung Bakal Meluncurkan Samsung Galaxy M47 yang Mulai Dilirik Pasar
Sabtu, 16 Mei 2026
Petugas layanan darurat bekerja di lokasi kecelakaan di Jalan Asok-Din Daeng yang melibatkan tabrakan kereta api dengan bus dan beberapa mobil/ Foto: Aljazeera
Delapan Orang Tewas dan 25 Luka Luka Kecelakaan KA vs Mobil Barang di Bangkok
Sabtu, 16 Mei 2026
Presiden Prabowo usai meresmikan koperasi merah putih/ Foto: setneg
Presiden Prabowo: MBG dan Koperasi Merah Putih Bangkitkan Ekonomi Rakyat
Sabtu, 16 Mei 2026
Ketua Samsung Electronics Co., Lee Jae-yong / Foto: Yonhap
Ketua Samsung Electronics Mengatakan Semua Pekerja Adalah Keluarga
Sabtu, 16 Mei 2026
Jang Dong Joo / Foto: Allkpop
Sebelum Mengudurkan Diri, Jang Dong Joo Terlibat Pembayaran Tagihan Hiburan Malam
Sabtu, 16 Mei 2026

Mental Health

Makanan bernutrisi/ Foto: Freepik

Studi Menyebutkan Konsumsi Makanan Bernutrisi Menekan Risiko Depresi

Tanda wanita tidak bahagia adalah kecemasan / Foto : Freepik

Studi Menemukan Intervensi Kesehatan Mental Lewat Medsos Mampu Mengurangi Kecemasan

Ilustrasi pria dan ponsel/ foto: freepik

Peneliti Menyebutkan Berhenti dari Medsos Tidak Signifikan Menghentikan Stres

Ilustrasi serangan asma/ Foto: national today

Hari Asma se Dunia Memperingatkan Bahaya Kesehatan Pernapasan

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Serikat Pekerja Samsung Elektronik Berencana Mogok Kerja Terkait Bonus Kinerja

Rumor Apple Menggunakan Prosesor Intel Semakin Menjadi Kenyataan

Studi Menemukan Intervensi Kesehatan Mental Lewat Medsos Mampu Mengurangi Kecemasan

Bocoran Xiaomi K100 Pro Max Akan Dirilis September 2026

Pelayanan RSUD Dr Soetomo Surabaya Dinyatakan Normal Pasca Kebakaran

More News

Pelaksanaan webiner literasi keuangan/dok.istimewa

Kuatkan Literasi Keuangan, UPN Veteran Jatim dan KKKS Plosoklaten Gelar Webinar “Guru Cerdas Financial”

Senin, 17 November 2025
Ilustrasi UU TNI by democrazy.id

Mengapa RUU TNI Harus Ditolak?

Kamis, 20 Maret 2025
Utut Adiato disorot publik karena menjadi ketua panja RUU TNI dari Fraksi PDIP / Foto : dokumen DPR RI

Beredar Daftar Nama Panja RUU TNI di Medsos, Publik Mengaku Kecewa

Minggu, 16 Maret 2025
Ilustrasi Desain Gratis di Era AI/dok.aktual.co.id

Desain Gratis di Era AI: Paradoks Akademik Dalam Industri Komunikasi Visual

Selasa, 12 Mei 2026
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id