Aktual.co.id -Sebuah studi terbaru memetakan ciri kepribadian narsistik diturunkan dari orang tua ke anak melalui genetik, bukan pengasuhan anak.
Penelitian yang diterbitkan dalam Social Psychological and Personality Science ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup individu di luar rumah masa kanak-kanak membentuk variasi lain dalam sifat ini.
Narsisisme adalah ciri kepribadian yang ditandai rasa keagungan diri, perasaan berhak, dan dorongan kuat memperoleh status sosial.
Orang yang menunjukkan tingkat narsisisme tinggi seringkali mengalami kesuksesan awal dalam berkencan dan peran kepemimpinan.
Pada saat yang sama, dimensi kepribadian ini secara teratur menyebabkan konflik interpersonal, pengambilan keputusan yang berisiko, dan gangguan organisasi dalam jangka panjang.
Model psikoanalitik menunjukkan perilaku narsistik muncul sebagai topeng pertahanan untuk mengimbangi orang tua yang dingin dan tidak penyayang.
Teori pembelajaran mengusulkan anak-anak mengadopsi pandangan diri yang tidak realistis ketika orang tua terlalu menghargai atau terus-menerus menempatkan di atas pedestal.
Kedua kerangka kerja ini mendominasi wacana publik tentang narsisme. Keduanya didasarkan pada asumsi yang sebagian besar belum teruji bahwa gaya pengasuhan anak yang spesifik dari orang tua memberikan pengaruh yang membentuk kepribadian anak-anaknya.
Psikolog Mitja Back dari Universitas Münster di Jerman dan rekan-rekannya ingin menguji validitas asumsi perkembangan ini.
Tim peneliti mencatat orang tua dan materi genetik dengan anak-anak, sehingga sulit memisahkan efek warisan fisik dari pola pengasuhan.
Untuk memisahkan faktor-faktor ini, para peneliti menggunakan desain penelitian keluarga kembar yang diperluas untuk menganalisis pola luas sifat-sifat keluarga.
Studi genetika perilaku telah meneliti narsisisme, tetapi studi tersebut bergantung pada ukuran sampel yang kecil dan model kembar tradisional yang tidak dapat menjelaskan kompleksitas orang tua yang memilih pasangan yang serupa.
Studi ini menggunakan data dari proyek TwinLife Jerman, sebuah penilaian skala besar terhadap kembar dan keluarga mereka. Sampel akhir mencakup 6.715 orang, terdiri dari kembar identik dan kembar non-identik beserta saudara kandung non-kembar mereka, ibu, ayah, dan pasangan.
Struktur keluarga memungkinkan ilmuwan membandingkan kesamaan kepribadian kerabat yang terbagi jumlah materi genetik yang berbeda.
Kembar identik berbagi hampir semua DNA mereka, sementara kembar non-identik dan saudara kandung biasa berbagi sekitar setengah dari urutan genetik mereka.
Para peneliti menemukan bahwa faktor genetik menyumbang sekitar 50 persen dari perbedaan individu dalam narsisisme.
50 persen lainnya berasal dari lingkungan, artinya lingkungan keluarga yang sama hampir tidak berkontribusi pada perkembangan sifat tersebut.
Faktor-faktor yang dialami saudara kandung, termasuk strategi pengasuhan yang luas atau kehangatan yang diberikan oleh ibu atau ayah mereka, tidak membuat lebih mirip dalam tingkat narsisismenya.
Kembar identik jauh lebih mirip satu sama lain daripada kembar non-identik, yang menunjukkan adanya dasar biologis yang kuat.
Studi ini mengandalkan kuesioner yang diisi sendiri oleh peserta, yang terkadang dapat menimbulkan bias jika peserta kurang memiliki kesadaran diri atau menjawab dengan cara yang dianggap dapat diterima secara sosial.
Bias semacam itu dapat secara artifisial mengurangi perkiraan matematis dari kesamaan keluarga yang sebenarnya. Namun, para peneliti mencatat bahwa keterbatasan data ini tidak mengubah kesimpulan utama.
Narsisisme diturunkan dalam keluarga terutama melalui pewarisan genetik, bukan melalui lingkungan bersama di rumah masa kecil.
Back dan rekan-rekannya menyarankan penelitian di masa mendatang harus sangat berfokus pada pengalaman individu yang membentuk lingkungan non-bersama.
Karena gaya pengasuhan menunjukkan sedikit pengaruh, psikolog perlu menyelidiki jaringan pertemanan, hubungan romantis, dan peningkatan status berulang di tempat kerja memperkuat kecenderungan narsistik.
Para peneliti mengusulkan mempelajari bagaimana orang bereaksi terhadap penghargaan sosial dalam jangka waktu yang lama.
Interaksi sosial yang unik ini mungkin berinteraksi dengan predisposisi genetik untuk memperkuat perilaku seseorang dari waktu ke waktu.
Para ilmuwan juga perlu mengidentifikasi mekanisme biologis spesifik yang dipengaruhi oleh pewarisan genetik. Para penulis studi merekomendasikan untuk mengeksplorasi bagaimana urutan gen tertentu memengaruhi kadar hormon.
Memahami bagaimana sensitivitas biologis terhadap status sosial berinteraksi dengan peristiwa kehidupan tertentu akan secara mendasar membentuk kembali cara psikolog mendekati individu narsistik dalam terapi, tempat kerja, dan hubungan sehari-hari. (ndi/psypost)
