Aktual.co.id – Media Israel menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah “mengkhianati” Israel melalui kesepakatan yang dicapai dengan Iran, serta memperingatkan negara-negara kawasan tidak lagi mempercayai Washington untuk melangkah menuju normalisasi dengan Tel Aviv yang dianggap telah ditinggalkan sendirian.
Dalam artikel opini yang ditulis Boaz Haetzni di harian Yedioth Ahronot, kesepakatan antara AS dan Iran disebut bukti Trump tidak lagi tertarik mempertahankan tekanan terhadap Teheran.
“Anak berusia 80 tahun itu (Trump) kehilangan minat terhadap mainannya dan ingin beralih ke pekerjaan yang lebih mudah. Ketekunan, memerangi kejahatan, membangun kembali kredibilitas Amerika? Itu pekerjaan yang sulit dan bukan untuknya,” tulis Haetzni dikutip Anadolu.
Artikel tersebut menuduh perundingan yang dijalankan pemerintahan Trump dengan Iran justru memberi ruang bagi Teheran memperbaiki kondisi ekonominya dan membangun kembali kapasitas militernya.
Menurut penulis, kebijakan tersebut tidak hanya merupakan bentuk pengkhianatan terhadap Israel, tetapi terhadap negara-negara kawasan yang selama ini berpihak kepada Amerika Serikat.
“Tidak akan ada lagi Perjanjian Abraham baru karena Arab Saudi dan negara-negara lain tidak cukup gila untuk menggantungkan harapan pada fondasi rapuh di Washington,” tulisnya.
Artikel itu juga menilai negara-negara kawasan yang telah mengambil risiko dengan bergabung ke kubu Amerika kini tidak lagi memiliki alasan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel.
Haetzni menulis bahwa, berbeda dengan masa pemerintahan Barack Obama dan Joe Biden, kalangan konservatif serta pendukung Partai Republik di Israel semula menaruh harapan besar terhadap Trump.
Namun, menurutnya, perkembangan terbaru justru berpotensi merusak kredibilitas Amerika Serikat. “Amerika gagal dalam perang yang hampir dimenangkan dan dapat dilanjutkan dengan kerugian yang rendah. Sikap presiden saat ini dipandang lemah dan terputus dari realitas. Upaya mencari jalan kesepakatan dengan Iran melalui pihak ketiga ketika konflik masih berlangsung justru membuat Teheran semakin bertahan, bukan menyerah,” tulisnya.
Artikel tersebut menyebut tantangan terbesar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saat ini adalah menjaga kemitraan strategis dengan Amerika Serikat tanpa mengorbankan kepentingan keamanan Israel.
Kesepakatan AS-Iran juga disebut membuat Israel berada dalam posisi sendirian. “Bagi Israel, kemitraan dengan Amerika Serikat secara historis merupakan faktor pencegah. Namun operasi militer di Beirut dan front lainnya dibatasi akibat tawar-menawar diplomatik adalah situasi yang tidak dapat diterima,” tulis Haetzni.
Ia berpendapat jika Israel tetap mempertahankan keberadaannya di wilayah yang didudukinya di Jalur Gaza, Lebanon, dan Suriah selatan, maka hal itu menunjukkan bahwa keruntuhan hanya menjadi tanggung jawab Trump dan tidak mencerminkan posisi Israel. (ndi/Anadolu)