Aktual.co.id – Perusahaan-perusahaan AS menandatangani perjanjian dan kemitraan senilai sekitar $60 miliar dengan pemerintah Irak pada hari Jumat. Kerja sama ini termasuk kesepakatan menciptakan jalur alternatif pengiriman minyak keluar dari Teluk Persia.
Kesepakatan-kesepakatan yang ditandatangani di Kamar Dagang AS tersebut juga melibatkan industri lain, termasuk perawatan kesehatan, komunikasi, dan infrastruktur.
Seperti dikabarkan oleh AP News, belum jelas kapan kesepakatan minyak tersebut menciptakan jalur alternatif untuk Selat Hormuz yang dilalui seperlima minyak dunia.
Pada Jumat sore, harga minyak mentah West Texas naik hampir 5% menjadi $88 per barel, naik dari sekitar $67 sebelum perang dimulai.
Harga tersebut sempat mencapai $110 pada awal April sebelum turun kembali setelah gencatan senjata tercapai. Sejak itu, harga kembali naik karena konflik yang kembali memanas antara AS dan Iran.
Thomas Barrack, Duta Besar AS untuk Turki, mengatakan perjanjian pipa minyak tersebut akan mengarah pada program yang akan membuat Selat Hormuz menjadi hal yang terlupakan.
Penandatanganan tersebut menyusul pertemuan antara Perdana Menteri Irak Ali Falah al-Zaidi pada hari Kamis dengan para eksekutif Chevron di Houston. Al-Zaidi mendesak perusahaan energi AS untuk memperluas dan mempercepat investasinya di Irak.
Dalam pidatonya pada hari Jumat, al-Zaidi mengatakan bahwa ekonomi Irak sedang mencari investasi dan kemitraan jangka panjang, bukan hanya kontraktor untuk melaksanakan proyek.
Al-Zaidi menekankan komitmen pemerintahannya terhadap komunikasi, dialog, dan kerja sama dengan Kamar Dagang AS, menggambarkan sebagai tempat di mana keputusan ekonomi dibuat.
Pada hari Jumat, Chevron menandatangani tiga perjanjian dengan pemerintah Irak. Jake Spiering, presiden pengembangan bisnis perusahaan Chevron, mengatakan bahwa dua perjanjian akan fokus pada peningkatan produksi minyak, sementara perjanjian ketiga melibatkan investasi dalam jalur pipa yang akan menciptakan rute ekspor lain dari Irak ke pasar dunia. (ndi/apnews)
