Aktual.co.id – Nyeri kepala hampir semua orang pernah merasakan, namun jarang yang mengetahui kapan mulai memeriksakan ke dokter ketika nyeri kepala terus berlanjut.
Guna mengetahui seluk beluk nyeri kepala, Widjaja Asthama Center Surabaya di Jl Dharmawangsa No 7 (V-302) Surabaya, menggelar seminar Nyeri Kepala, dengan narasumber dr Euginia Putri Permatasari SpN, spesialis neurologi, Sabtu 25 Juli 2026.

Dalam penjelasannya, dr. Euginia memaparkan tentang definisi nyeri kepala yakni perasaan tidak enak yang terjadi pada daerah superior kepala yang menyebar pada wajah, gigi, rahang, dan leher.
“Gejala yang dirasakan mulai ringan sampai dengan berat dan terbagi menjadi nyeri kepala primer dan sekunder,” kata dr. Eugine dalam seminar yang dikuti 100 peserta.
Dikatakan dr Euginia ada banyak factor penyebab nyeri kepala, seperti stres kurang tidur, terlambat makan atau dehidrasi, kafein yang berlebihan, terpapar lampu terlalu terang, suhu panas, suhu terlalu dingin, terpapar bau menyengat yang terus menerus.
“Perubahan hormone seperti pra menstruasi atau menstruasi juga menjadi salah satu penyebab terjadinya nyeri kepala,” ungkapnya.
Adapun ciri khas nyeri kepala dibagi beberapa bagian, kata dr Euginia, antara lain Tension Type Headache yang dirasakan adalah seperti ditekan atau diikat, menusuk dirasakan 2 sisi kepala berkurang ketika beristirahat. Keadaan ini dirasakan 30 menit sampai 7 hari.

“Untuk migren rasa yang dirasakan pasien adalah berdenyut, nyeri 1-2 sisi, mual, sensitive dengan cahaya, gelisah, sering dikaitkan dengan persoalan hormonal pada wanita,” ungkapnya.
Sedangkan Cluster Headache ditandai dengan nyeri kepala di sekitar mata, dapat disertai dengan kemerahan dan berair.
Untuk sakit kepala sekunder, tambah dr Euginia, dikaitkan dengan sinusitis, nyeri gigi, mata minus silinder, katarak, glaucoma, hipertensi, anemia, efek samping obat, tumor otak, stroke, trauma kepala, kaku otot sendi area leher bahu.
Bagi masyarakat yang menderita sakit kepala hebat dan segera penanganan dokter rumah sakit jika merasakan nyeri kepala disertai demam dan penurunan berat badan.
“Bicara pelo, kejang, terjadi kelemahan, onset mendadak seperti dihantam petir, usia di atas 50 tahun nyeri kepala baru muncul, pola nyeri kepala berubah dari sebelumnya, makin nyeri buat bersin, pemeriksaan mata diserta mata kabur,” katanya.
Jika ada tanda di atas, dr Euginia meminta kepada penderita untuk segera dibawa ke IGD guna mendapatkan perawatan lebih intensif dari rumah sakit.
“Untuk menegakkan diagnose, dokter akan melakukan anamesa dengan pola sakit, waktu sakit, area yang sakit, seberapa nyeri, pencetus, yang menambah rasa nyeri dan riwayat penyakit pasien,” ungkap dr Euginia.
Selain itu dokter juga melakukan pemeriksaan penunjang seperti foto cervical shoulder, CT Scan kepala atau MRI, rekam otak, cek laboratorium seperti cek gula darah, kolesterol, asam urat.
Penanganan nyeri kepala bisa dimulai dengan minum paracetamol, ibuprofen dengan dosis tidak boleh berlebihan. Disamping itu, kata dr Euginia juga diberikan obat – obatan golongan NSAID dengan resep dokter serta beristirahat di tempat yang nyaman.
“Guna mencegah terjadinya sakit kepala berulang maka pasien bisa melakukan mengatur pola makan dan tidur, kelola stress, olah raga rutin, pencegahan dengan obat melalui konsultasi dokter, hindari pemicu,” ujarnya.
Dikatakan oleh dr Euginia jika nyeri kepala sekunder maka penanganan yang dilakukan adalah mengobati sesuai dengan penyebabnya, penanganan nyeri kepala sekunder berbeda dengan nyeri kepala primer.
Tidak semua nyeri kepala berbahaya, kata dr Euginia, oleh sebab itu perlu mengenali jenis pemicunya, penanganan yang tepat maka hidup akan nyaman, serta segera ke dokter untuk konsultasi tentang penyebab sakit kepala tersebut. (ndi)

dr. Euginie Putri Permatasari, Sp.N
Praktek : Widjaja Asthma Center
Alamat : Jl Dharmawangsa No 7 (V-302) Surabaya
