Aktual.co.id – Sebuah studi berskala besar yang diterbitkan dalam Journal of Affective Disorders menemukan bahwa remaja yang mengalami gelombang panas yang lebih intens cenderung mengalami gejala depresi dan kecemasan lebih tinggi.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran dampak perubahan iklim terhadap kesehatan mental. Meskipun penelitian telah menunjukkan suhu panas ekstrem dapat memengaruhi kesehatan fisik, penelitian ini melengkapi sejumlah bukti baru bahwa udara panas bisa mempengaruhi tekanan psikologis.
Para peneliti melakukan penelitian untuk memahami bagaimana stresor lingkungan seperti suhu panas dapat memengaruhi kesejahteraan mental pada remaja.
Depresi dan kecemasan sudah menjadi penyebab utama kalangan remaja di seluruh dunia. Keadaan ini makin diperburuk seiring meningkatnya suhu global.
“Sebagai seorang sarjana Tiongkok, saya telah mengamati gelombang panas yang sering terjadi dan intens di Tiongkok selama dekade terakhir,” kata penulis studi Yizhen Yu, seorang profesor di Tongji Medical College di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong.
Prof Yizhen Yu mengatakan, dirinya fokus pada kesehatan masyarakat remaja, karena khawatir perubahan iklim bedampak pada kesehatan pada kelompok tersebut.
Selama ini penelitian keterkaitan antara udara panas dengan kesehatan mental orang dewasa sudah dilakukan, sehingga dibutuhkan data tambahan pengaruh terhadap depresi usia remaja.
“Penelitian kami bertujuan untuk membantu menjembatani kesenjangan pengetahuan yang selama ini sudah dilakukan oleh peneliti sebelumnya,” katanya Prof Yizhen Yu.
Para peneliti menganalisis data dari hampir 20.000 remaja di Tiongkok, yang diambil dari survei kesehatan berbasis sekolah nasional yang dilakukan pada tahun 2021.
Para siswa, yang berusia 10 hingga 18 tahun, direkrut melalui proses pengambilan sampel multi-tahap yang dirancang menangkap variasi di seluruh wilayah geografis, jenis sekolah, dan lingkungan perkotaan-pedesaan.
Setelah membuang respons yang tidak lengkap atau tidak konsisten, sampel mencakup 19.852 peserta, dengan jumlah anak laki-laki dan perempuan yang hampir sama.
Untuk mengukur depresi dan kecemasan, para peneliti menggunakan dua alat skrining yang diterima secara luas: Kuesioner Kesehatan Pasien-9 dan skala 7-item Generalized Anxiety Disorder.
Siswa yang memperoleh skor 10 atau lebih tinggi pada skala ini dianggap berisiko mengalami depresi atau kecemasan. Sekitar 19% peserta memenuhi kriteria depresi, dan 16% memenuhi kriteria kecemasan.
Paparan panas dinilai menggunakan tiga definisi gelombang panas yang berbeda. Ukuran utamanya adalah faktor panas berlebih, yang mempertimbangkan lonjakan suhu jangka pendek dan tren jangka panjang, yang memungkinkan tentang intensitas gelombang panas dan aklimatisasi.
Data suhu udara harian untuk setiap lokasi sekolah diambil dari kumpulan data ERA5-Land, yang menawarkan estimasi suhu beresolusi tinggi.
Dengan melakukan geocoding lokasi sekolah dan menghitung rata-rata besarnya gelombang panas selama 12 bulan sebelumnya, para peneliti dapat memperkirakan paparan setiap siswa terhadap gelombang panas di lingkungan setempat.
Para peneliti menggunakan model regresi logistik untuk menguji hubungan antara paparan gelombang panas dan dampak kesehatan mental, dengan menyesuaikan faktor pengganggu potensial seperti jenis kelamin, tingkat kelas, wilayah, latar belakang sosial ekonomi, aktivitas fisik, dan kondisi lingkungan seperti curah hujan.
Peneliti menemukan bahwa paparan gelombang panas yang lebih besar, secara signifikan berpengaruh pada depresi, kecemasan, dan kemunculan kedua kondisi tersebut secara bersamaan.
Untuk setiap peningkatan satuan dalam besarnya gelombang panas, kemungkinan depresi meningkat sebesar 13%, dan kecemasan meningkat sebesar 12%.
Metrik yang sama juga dikaitkan dengan depresi dan kecemasan yang terjadi bersamaan, serta kasus-kasus di mana depresi atau kecemasan terjadi secara terpisah.
“Temuan kami menunjukkan paparan gelombang panas berkaitan dengan risiko depresi dan gejala kecemasan di kalangan remaja Tiongkok,” kata Yu kepada PsyPost.
Hal ini menyoroti pentingnya kesehatan mental sebagai bagian integral dari ketahanan iklim. Maka sekolah, keluarga, dan pembuat kebijakan agar memberikan perhatian khusus pada kesejahteraan psikologis remaja selama peristiwa cuaca ekstrem.
Siswa laki-laki tampak lebih rentan terhadap kesehatan mental akibat paparan panas, terutama kecemasan. Di antara anak laki-laki, paparan gelombang panas yang lebih besar dikaitkan dengan peningkatan 22% dalam mengalami kecemasan.
Sementara peningkatannya lebih kecil dan tidak signifikan secara statistik di antara anak perempuan. Temuan ini bertentangan dengan tren umum dalam penelitian kesehatan mental, di mana anak perempuan sering ditemukan lebih mungkin melaporkan gejala internalisasi seperti kecemasan dan depresi.
“Perubahan iklim merupakan ancaman yang meningkat terhadap kesehatan mental, khususnya bagi populasi yang rentan seperti remaja,” imbuh Yu.
Sangat penting meningkatkan kesadaran akan isu-isu ini sekaligus memberdayakan kaum muda dengan strategi penanggulangan dan mengadvokasi agar ikut dalam diskusi kebijakan iklim.
Para pembuat kebijakan harus mengintegrasikan ketahanan panas ke dalam strategi kesehatan masyarakat, misalnya, dengan merevisi protokol keselamatan sekolah selama gelombang panas.
Kolaborasi di seluruh sektor kesehatan, pendidikan, dan lingkungan sangat penting melindungi dan meningkatkan kesehatan mental kaum muda dalam menghadapi tantangan iklim. (ndi/psypost)
