Aktual.co.id – Situasi di wilayah Spanyol, Ceuta, di Afrika Utara, menjadi kacau karena puluhan ribu migran telah menyeberangi perbatasan dari Maroko.
Mengutip pejabat Spanyol diperkirakan 49.000 migran menyeberangi perbatasan dari Maroko ke wilayah seberang laut Spanyol, Ceuta, di Afrika Utara dalam 24 jam terakhir.
Jumlah ini jauh melebihi angka sekitar 8.000 orang yang menyeberangi perbatasan selama krisis dua hari pada tahun 2021.
Dua hari lalu, gelombang migrasi besar-besaran dari Maroko melalui Ceuta. Otoritas Spanyol mengkonfirmasi pada 30 Juli 2026 mereka telah mengirim unit militer ke Ceuta untuk memulihkan ketertiban setelah otoritas setempat menggambarkan situasi tersebut sebagai “kekacauan total”.
Ceuta adalah kota otonom Spanyol di pesisir Afrika Utara, dekat Selat Gibraltar. Kota ini memiliki sekitar 85.000 penduduk dan berbagi perbatasan darat sepanjang 6,4 km dengan Maroko, yang dilindungi oleh pagar setinggi 10 m.
Video dari lokasi kejadian menunjukkan ribuan orang, sebagian besar laki-laki juga perempuan dan anak-anak, berenang di sekitar pemecah gelombang atau menyeberangi pantai Tarajal dari Maroko ke Ceuta. Beberapa orang meneriakkan “Hidup Spanyol!” saat mereka tiba di Ceuta.
Pihak berwenang di Ceuta mengumumkan setidaknya sembilan orang tewas saat mencoba menyeberangi perbatasan pada tanggal 30 Juli 2026.
Ini jumlah kematian akibat memasuki kota dalam beberapa bulan terakhir menjadi 60 orang. Penyebab pasti kematian belum diumumkan, tetapi sejumlah mayat ditemukan mengambang di laut.
Pada tanggal 30 Juli 2026, Juan Jesus Vivas, walikota Ceuta, menyatakan gelombang migran baru telah membanjiri sistem penerimaan kota tersebut.
Ia mengkhawatirkan bahwa Ceuta menghadapi darurat kemanusiaan dan sosial. Menurut Vivas, fasilitas untuk anak di bawah umur tanpa pendamping saat ini beroperasi hingga 2.400% dari kapasitas yang direncanakan dan dengan demikian jauh melampaui batas kemampuannya.
Organisasi bantuan pengungsi memperingatkan tentang berlanjutnya arus masuk orang ke kota Fnideq di Maroko, dengan harapan dapat mencapai Ceuta. Sebagian besar migran berasal dari Maroko dan Afrika sub-Sahara.
Penyebab gelombang migrasi ini masih belum jelas. Pemerintah Spanyol menduga geng penyelundup memanfaatkan putusan Mahkamah Agung Spanyol mengenai penanganan migran yang dicegat di laut untuk memicu penyeberangan perbatasan ilegal.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengkonfirmasi bahwa Madrid bekerja sama erat dengan Maroko untuk mengendalikan situasi, dan menyatakan pihak berwenang telah mencegah ribuan penyeberangan perbatasan ilegal dalam beberapa hari terakhir.
CBS News melaporkan bahwa Italia menyatakan keprihatinannya tentang situasi di Ceuta. Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyatakan Roma siap mengambil langkah luar biasa, termasuk kemungkinan penangguhan Perjanjian Schengen dengan Spanyol, untuk “melindungi perbatasannya dan memastikan keselamatan warganya.” (ndi/Vietnam)
