Aktual.co.id – Yahya Saree, juru bicara militer Houthi , mengatakan kelompok tersebut menggunakan sejumlah besar rudal balistik, rudal jelajah, dan drone dalam dua operasi militer.
“Operasi pertama menargetkan lokasi-lokasi sensitif di ibu kota, Riyadh,” kata Saree mengumumkan di televisi. Kemudian operasi kedua menargetkan fasilitas minyak Saudi Aramco di kota pesisir Yanbu.
Pihak Houthi mengklaim serangan tersebut menyebabkan kebakaran di lokasi-lokasi tersebut. Pihak berwenang Saudi belum memberikan komentar mengenai kerusakan tersebut.
Namun, pada tanggal 19 September 2026, Badan Pertahanan Sipil negara itu mengaktifkan dua peringatan keamanan di ibu kota, Riyadh, dan dua di provinsi Al-Kharj.
Untuk membenarkan serangan mereka, pihak Houthi menuduh Arab Saudi melakukan total 732 serangan udara terhadap Yaman menggunakan jet tempur F-15 dan Typhoon, yang menyebabkan korban jiwa di kalangan warga sipil dan kerusakan infrastruktur.
Serangan-serangan terbaru oleh Houthi merupakan bagian dari kampanye “blokade laut” yang menurut kelompok tersebut diberlakukan terhadap Arab Saudi mulai tanggal 20 Juli.
Para analis meyakini serangan berkelanjutan Houthi terhadap infrastruktur energi dan aktivitas maritim di Laut Merah menimbulkan ancaman terhadap rantai pasokan minyak global.
Mengingat blokade berkelanjutan di Selat Hormuz, Laut Merah saat ini berfungsi sebagai jalur ekspor energi alternatif yang sangat penting bagi kawasan Teluk. (ndi/Vietnam)
