Aktual.co.id – Seorang mantan anggota unit juru bicara Israel mengatakan bahwa militer telah memanipulasi kebenaran tentang operasi di Gaza dan Tepi Barat.
Dia adalah Ayelet Kroizer yang membongkar mengatakan bahwa warga Palestina yang tidak bersalah dicap sebagai “teroris” dan pernyataan militer dirancang untuk memperkuat dukungan publik dan mengamankan legitimasi internasional bagi operasi militer.
Ia menyampaikan pernyataan dalam sebuah unggahan di platform media sosial AS, X, dengan mengumumkan pengangkatannya sebagai juru bicara Breaking the Silence, sebuah organisasi Israel yang menerbitkan kesaksian mantan tentara tentang pelanggaran militer di wilayah Palestina.
“Selama masa tugas saya, saya memanipulasi detail yang dirilis ke media. Saya melihat bagaimana kata ‘teroris’ dilekatkan pada warga Palestina yang tidak bersalah dan pernyataan disesuaikan target audiens dan tujuan yang ditetapkan untuknya,” tulisnya.
Kroizer mengatakan pekerjaannya tidak hanya memperlihatkan kondisi di Tepi Barat dan Gaza, tetapi bagaimana militer memilih menampilkan kondisi tersebut kepada publik.
Dia menggambarkan kendali luas juru bicara militer atas pemahaman publik tentang peristiwa tersebut, dengan mengatakan juru bicara itu menangani kebenaran seperti sebuah lembaga humas daripada sebuah lembaga yang bertanggung jawab kepada publik.
Tujuan dinyatakan unit tersebut ketika berbicara kepada warga Israel adalah memperkuat kepercayaan publik terhadap militer, katanya, menambahkan “hak publik untuk mengetahui adalah hal yang sekunder.”
Bagi khalayak internasional, tujuannya untuk memperkuat dan memperluas legitimasi operasi militer. Kroizer juga menjelaskan pernyataan yang melaporkan korban jiwa massal diikuti ungkapan penyesalan yang rutin.
“Saya belajar melaporkan puluhan kematian dalam satu serangan dan secara otomatis menambahkan kami menyesali kerugian yang diderita oleh orang-orang yang tidak terlibat. Itulah rutinitas dinas saya,” katanya.
“Saya tidak pandai berdiam diri menghadapi ketidakadilan, tetapi di sinilah saya diminta melakukan humas untuk hal itu,” tambahnya.
Kroizer mengatakan dia dibesarkan di komunitas ultra-Ortodoks dan melepaskan pengecualian wajib militernya tiga tahun lalu untuk mendaftar selama perang.
“Saya mendaftar untuk ikut serta dalam apa yang saya yakini saat itu sebagai membela negara,” tulisnya.
Dia tidak pernah membayangkan setelah menyelesaikan masa baktinya, akan bergabung dengan Breaking the Silence daripada bepergian atau memulai studinya.
Organisasi tersebut menyambut baik pengangkatannya dengan mengatakan sudah saatnya mengungkap kebenaran tentang pendudukan tersebut kepada publik.
Kroizer mengakhiri unggahannya dengan mendesak orang lain yang bertugas selama perang untuk angkat bicara.
Sejak Oktober 2023, perang Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 74.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 175.000 lainnya, menurut data dari Kementerian Kesehatan Gaza. Perang tersebut juga telah menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil Gaza. (Anadolu/ndi)