Aktual.co.id — Dalam rangka mendukung gerakan Eco Pesantren, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik-Inovasi Pesantren (KKNT-IP) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur menggelar sosialisasi pengolahan limbah organik menjadi Eco Enzyme, cairan fermentasi serbaguna yang ramah lingkungan. KKNT-IP yang berada di bawah LPPM UPN “Veteran” Jawa Timur ini diadakan di Pondok Pesantren Baitul Hikmah Tempurejo, Jember, dan diikuti dengan antusias oleh para santriwati serta pengurus pesantren.
Santriwati tidak hanya menjadi peserta sosialisasi, namun juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan Eco Enzyme. Melalui kegiatan ini, mereka dilatih untuk mampu secara mandiri mengolah limbah organik di lingkungan pesantren menjadi produk yang bermanfaat. Inisiatif ini bertujuan membangun kesadaran dan kemandirian dalam pengelolaan limbah ramah lingkungan.
Persiapan kegiatan dilakukan melalui koordinasi intensif dengan pengurus pondok, mulai dari pengumpulan bahan seperti kulit buah, molase (tetes tebu), hingga pemilihan wadah fermentasi. Mahasiswa menyiapkan materi edukatif berupa banner, modul panduan, serta sesi praktik langsung yang dikemas interaktif melalui workshop dan tanya jawab.
Pemateri utama, Ghulyarma Aushafinaz, mahasiswa Ilmu Komunikasi dan penggiat Eco Enzyme menyampaikan materi sosialisasi sekaligus demonstrasi pembuatan. Modul praktis yang dibagikan kepada santriwati berisi formula dan langkah-langkah pengolahan. Kegiatan ini diikuti oleh lima pengurus santriwati dan 15 santriwati lainnya setelah selesai kegiatan belajar mengajar.
“Manfaat Eco Enzyme yang dijelaskan mencakup banyak aspek, yaitu sebagai penjernih air, pembersih alami kamar mandi dan dapur, disinfektan ringan, hingga pupuk organik dan pembasmi hama untuk lahan pertanian. Eco Enzyme juga berguna dalam menghilangkan bau apek dari ruangan maupun pakaian,” kata dia.
Menurutnya, pemateri menekankan pentingnya pemilihan bahan dan alat yang tepat. Wadah plastik bermulut lebar dianjurkan, sementara wadah logam atau kaca dihindari karena rentan korosi dan pecah. Sisa kulit buah sebaiknya terdiri dari minimal tiga jenis berbeda. Air yang digunakan harus bersih, dan gula sebagai bahan fermentasi harus murni tanpa pengawet, seperti molase atau gula merah.
“Bahan kulit buah diperoleh dari sisa dapur asrama maupun dari para pedagang sekitar pondok pesantren, seperti kulit nanas, jeruk, dan pisang. Pengumpulan bahan ini menjadi langkah awal untuk mengurangi volume sampah organik sekaligus memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan limbah rumah tangga,” ujarnya.

Demonstrasi dilakukan menggunakan formula 1:3:10, yakni 600 gram molase, 1800 gram kulit buah, dan 6 liter air dalam wadah 10 liter. Semua bahan dicampur dan disegel rapat, kemudian difermentasi selama tiga bulan. Eco Enzyme yang berhasil akan mengeluarkan aroma manis khas fermentasi, sedangkan bau tidak sedap menandakan kegagalan.
Para santriwati, termasuk Barata dari kelas 3 SMP, mengikuti praktik pembuatan dengan antusias. Sesi tanya jawab pun berlangsung aktif dengan pertanyaan seputar bahan terbaik, teknik fermentasi, dan penggunaan Eco Enzyme dalam pertanian dan kebersihan rumah tangga. Pemateri memberikan kiat penting seperti menjaga rasio bahan dan kondisi penyimpanan agar fermentasi berhasil.
Kegiatan diakhiri dengan kuis interaktif untuk menguji pemahaman para peserta. Vivi, santriwati kelas 1 SMK, menyatakan rasa senangnya, “Saya jadi sadar bahwa limbah yang kita hasilkan setiap hari bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna,” katanya.
Pemateri berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai proyek sementara, melainkan menjadi langkah awal perubahan berkelanjutan di lingkungan pesantren. “Saya sangat senang bisa berbagi ilmu. Semoga Eco Enzyme bisa terus dibuat dan dimanfaatkan oleh para santriwati. Terima kasih kepada seluruh tim KKN yang telah membantu,” tuturnya.
Respon positif dari para peserta membuktikan bahwa kegiatan ini sukses membangun semangat kolaboratif antara kampus dan pesantren dalam menciptakan budaya pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan. (Penulis: Ghulyarma Aushafinaz dan Regina Tifara Wicaksono)
