Aktual.co.id – Penelitian terbaru menemukan bahwa individu dengan tingkat sifat narsistik yang lebih tinggi lebih rentan terhadap lamunan maladaptif.
Selain itu, individu yang rentan terhadap lamunan maladaptif cenderung kurang menggunakan pertahanan psikologis yang matang dan lebih menggunakan pertahanan psikologis yang neurotik dan imatur. Makalah ini diterbitkan dalam Psychiatric Research and Clinical Practice
Lamunan maladaptif adalah fenomena psikologis di mana seseorang terlibat dalam lamunan yang berlebihan, mendalam, dan nyata.
Tidak seperti lamunan normal, lamunan maladaptif ini intens dan menyita waktu. Lamunan maladaptif sering kali dipicu oleh peristiwa kehidupan nyata, musik, atau kebosanan.
Orang dengan lamunan maladaptif dapat menciptakan dunia, karakter, atau plot imajiner yang rumit, meski terkadang lebih menyukainya daripada interaksi di dunia nyata.
Perilaku ini dapat menyebabkan tekanan yang signifikan, masalah tidur, dan gangguan fungsi akademik, pekerjaan, atau sosial.
Lamunan maladaptif sering dikaitkan dengan kondisi yang mendasarinya seperti kecemasan, depresi, gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas, atau trauma.
Meskipun lamunan maladaptif ini belum diakui sebagai gangguan mental formal, penelitian menunjukkan bahwa hal itu dapat menyebabkan gangguan yang substansial.
Penulis studi, Alessia Renzi dan Rachele Mariani, bertujuan mengeksplorasi hubungan antara lamunan maladaptif, ciri-ciri kepribadian narsistik, mekanisme pertahanan psikologis, usia, dan jenis kelamin.
Mereka juga meneliti apakah mekanisme pertahanan dapat memediasi hubungan antara lamunan maladaptif dan ciri-ciri narsistik.
Ciri-ciri kepribadian narsistik meliputi rasa penting diri yang berlebihan, kebutuhan yang kuat akan kekaguman, kurangnya empati, dan kecenderungan mengeksploitasi orang lain demi keuntungan pribadi.
Pada tingkat yang sangat tinggi, ciri-ciri ini dapat menjadi bagian dari kondisi kesehatan mental yang dikenal sebagai gangguan kepribadian narsistik.
Mekanisme pertahanan psikologis adalah strategi bawah sadar yang digunakan pikiran untuk melindungi diri dari kecemasan atau tekanan.
Mekanisme-mekanisme ini biasanya diklasifikasikan sebagai matang (misalnya, humor, sublimasi), neurotik (misalnya, represi, pemindahan), atau belum matang (misalnya, penyangkalan, proyeksi), tergantung pada tingkat adaptif atau fungsionalnya.
Studi ini melibatkan 562 partisipan yang direkrut melalui platform media sosial dan situs web populer di kalangan dewasa muda.
Usia rata-rata mereka adalah 27 tahun. Tiga puluh enam persen partisipan berasal dari Italia, 18% Yunani, dan 8% Turki, sementara sisanya berasal dari berbagai negara lain.
Peserta menyelesaikan survei daring yang mencakup penilaian lamunan maladaptif (Skala Lamunan Maladaptif yang terdiri dari 16 item), mekanisme pertahanan psikologis (Skala Penilaian Mekanisme Pertahanan Laporan Diri), dan ciri-ciri narsistik (Inventaris Narsisme Patologis).
Hasil penelitian menunjukkan individu yang memiliki skor lebih tinggi dalam lamunan maladaptif juga cenderung memiliki tingkat sifat kepribadian narsistik yang lebih tinggi.
Peserta cenderung tidak menggunakan pertahanan diri yang matang dan lebih cenderung mengandalkan pertahanan diri yang tidak matang dan neurotik.
Individu yang lebih muda lebih rentan terhadap lamunan maladaptif, tetapi tidak ada perbedaan gender yang signifikan.
Para peneliti menguji model statistik yang menunjukkan bahwa pertahanan psikologis mungkin memediasi hubungan antara narsisme dan lamunan maladaptif.
Analisis menunjukkan bahwa pertahanan imatur dan neurotik sebagian memediasi hubungan ini. Dengan kata lain, sifat narsistik dapat menyebabkan peningkatan penggunaan pertahanan imatur dan neurotik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemungkinan lamunan maladaptif. Namun, mekanisme pertahanan ini tidak sepenuhnya menjelaskan hubungan tersebut.
Studi ini menyoroti hubungan antara narsisme dan lamunan maladaptif. Namun, perlu dicatat bahwa desain studi ini tidak memungkinkan penarikan kesimpulan kausal apa pun dari hasil penelitian. (ndi/psypost)
