Aktual.co.id – Seorang psikolog Tara Whitmore yang tinggal di Merlboune menuliskan tanda-tanda orang yang memiliki banyak beban dalam hidupnya.
Dari beban yang dipikulnya tersebut, membuat hidupnya serba kacau penuh dengan tekanan mental. Berikut jenis kekacauan yang membuat kualitas hidup menjadi tidak nyaman.
Kurang Perawatan Diri
Mengabaikan peraatan diri adala bentuk kekacauan yang berdampak serius pada energi dan kesejahteraan secara keseluruhan.
Merawat diri bukan tentang pergi ke spa atau liburan mahal. Ini menjaga kesehatan fisik melalui olahraga teratur dan diet seimbang. Ini tentang tidur yang cukup dan mengelola stres.
Mengabaikan aspek-aspek penting dari perawatan diri ini membuat hidup berantakan membuat merasa lelah, kewalahan, dan stres.
Kebisingan Visual
Gangguan visual merupakan bentuk kekacauan yang sering kali diabaikan. Bila mata terus-menerus bergerak ke sana kemari, menyerap informasi dari segala arah, hal itu dapat membuat kewalahan dan lelah.
Itulah sebabnya desain minimalis dan bersih dapat begitu menenangkan dan menyejukkan. Cobalah untuk mengurangi kebisingan visual di sekitar dan pilih desain sederhana, bersih, dan warna yang menenangkan. Sesekali mengistirahatkan mata dari layar.
Pembicaraan Negatif Terhadap Diri Sendiri
Pembicaraan negatif terhadap diri sendiri telah menjadi bagian yang rutin dalam lanskap mental banyak orang. Sadarlah, bahwa mengutuk diri sendiri membuat terkuran secara emosi dan mental.
Menuntut diri untuk selalu menjadi yang terbaik membuat kelelahan yang tiada ujungnya. Dada terasa sesak apabila keiginan tidak tercapai, sehingga membuat hidup lelah dan tidak punya gairah.
Dengan mengurangi pembicaraan negative terhadap diri sendiri membuat perbedaan yang signifikan terutama dalam menjaga kualitas mental psikologis.
Hubungan yang Menguras Energi
Tara Whitmore menuliskan tentang hubungan di mana seseorang terhubung dengan orang yang racun dalam menjalin hubungan.
“Hubungan-hubungan ini dapat berdampak besar pada kesejahteraan mental dan emosional kita,” katanya. Silakan saja membangun hubungan yang melelahkan mental, namun tetap kenali batasan untuk kesehatan jiwa.
Membersihkan hubungan yang menguras tenaga bukanlah hal yang mudah, tetapi bisa sangat membebaskan. Dan pada akhirnya, hal itu memberi ruang bagi hubungan yang lebih positif dan saling menjaga.
Sulit Membagi Waktu
Kesulitan membagi waktu salah satu bentuk kekacauan yang paling sering diabaikan. “Kekacauan ini terjadi ketika jadwal padat sehingga hampir tidak punya waktu untuk bernapas,” ketik Tara Whitore.
Menurutnya, jika seseorang terlalu banyak menjadwalkan sesuatu, akan banyak menciptakan stres, serta menghilangkan waktu untuk bersantai, mengisi ulang tenaga, dan sekadar menikmati hidup.
Mulailah dengan mengatakan tidak pada komitmen yang tidak perlu. Tetapkan prioritas dan delegasikan tugas. Yang terpenting, pastikan menjadwalkan waktu untuk diri sendiri
Beban Emosional
Kekacauan emosional, seperti melihat media digital, dapat membebani pikiran dan jiwa. “Ini bukan trauma masa lalu atau ketakutan yang mendalam. Ini bisa berkaitan kekesalan sehari-hari, pertengkaran yang tidak terselesaikan, dan frustrasi yang terpendamlah yang menciptakan kekacauan emosional,” ungkap Tara Whitmore.
Menurut Tara, menyikapi masalah ini adalah pengakuan perasaan emosi saat muncul. Entah itu dengan menulis jurnal, berbicara dengan teman yang dapat dipercaya, atau mencari bantuan profesional untuk menemukan temukan jalan keluar yang sehat untuk emosi.
Proyek yang Belum Selesai
Dalam bagian ini Tara Whitemore mencoba menceritakan pengalamannya. Diriya mengerjakan banyak proyek yang bisa dikerjakan. “Karena saya yakin bisa menyelesaikan seluruh pekerjaan tersebut,” tulisnya.
Namun apa yang terjadi, proyek tersebut tidak terselesaikan dengan tuntas, sehingga membuat kekacauan di dalam mentalnya. “Jadi pernah saya mengerjakan proyek renovasi rumah, kemudian menulis blog, namun yang didapatkan justru kelelahan dan pekerjaan tidak selesai,” katanya.
Kekacauan Digital
Meskipun digital menghadirkan banyak kemudahan, namun digital juga memicu kekacauan. “Notifikasi yang tak ada habisnya, email yang belum dibaca, dan berkas yang tidak tertata semuanya berkontribusi pada peningkatan stres dan penurunan produktivitas,” ungkapnya
Dampak terburuk adalah kekacauan digital diam-diam terkumpul di alam bawah sadar sehingga menganggu kualitas hidup psikologis seseorang.
Menurutnya, luangkan waktu merapikan dunia digital, atur berkas-berkas, saring email-email, dan batasi notifikasi-notifikasi. “Percayalah, otak akan berterima kasih karenanya,” katanya. (ndi)
