Aktual.co.id – Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Psychological Medicine menemukan bahwa individu dengan gangguan depresi mayor memiliki otak yang jauh lebih tua daripada usia sebenarnya.
Sebuah penelitian menjelaskan bagaimana depresi tidak sebatas memengaruhi suasana hati, tetapi juga memengaruhi struktur fisik otak. Meski penuaan adalah proses alami, namun depresi bisa memicu penuaan pada otak maupun fisik.
Dipimpin oleh Ruibin Zhang dari Southern Medical University di Tiongkok, tim peneliti berusaha menyelidiki faktor biologis yang mendasari penuaan otak. Peneliti tertarik pada bagaimana perubahan struktural otak dapat dikaitkan dengan perubahan neurotransmitter utama dan pola ekspresi gen.
Studi ini menganalisis data dari 670 peserta, termasuk 239 orang dengan gangguan depresi mayor dan 431 orang sehat sebagai kontrol, yang dikumpulkan dari beberapa lokasi di Jepang.
Dengan menggunakan teknik pencitraan otak, para peneliti mengukur ketebalan berbagai wilayah otak. Kemudian menerapkan pendekatan pembelajaran mesin untuk menganalisis gambar dan menghitung “usia otak”.
Temuannya mengejutkan. Orang dengan gangguan depresi mayor memiliki otak yang jauh lebih tua daripada otak rekan-rekan yang sehat. Area otak tertentu, yaitu bagian daerah ventral kiri dan bidang mata premotorik, menunjukkan penipisan kortikal yang nyata.
“Wilayah-wilayah tersebut yang terkait dengan fungsi-fungsi seperti perhatian, memori kerja, penalaran, dan inhibisi, mengalami penuaan lebih cepat,” Zhang dan rekan-rekannya menjelaskan.
Para peneliti menemukan bahwa area penipisan terbesar dikaitkan dengan perubahan dalam sistem neurotransmitter, khususnya yang melibatkan dopamin, serotonin, dan glutamat.
Neurotransmitter ini memainkan peran penting dalam pengaturan suasana hati dan proses kognitif, dan perubahan ekspresinya pada individu dengan depresi. Dalam penelitian itu gangguan biokimia dapat menyebabkan penuaan otak.
Selain itu, tim meneliti pola ekspresi gen menemukan beberapa gen yang terlibat dalam pemrosesan protein lebih aktif di daerah yang menunjukkan penipisan kortikal. Gen-gen ini penting menjaga struktur dan fungsi sel yang sehat.
Gangguan pada jalur ini dapat menyebabkan degradasi jaringan dan mempercepat penuaan otak pada individu yang depresi.
Meskipun temuannya meyakinkan, penulis mengakui masih menemukan keterbatasan. Meski demikian peneliti ini bersifat cross-sectional, artinya penelitian mengambil data pada satu titik saja.
Karena penuaan otak adalah proses bertahap, diperlukan penelitian longitudinal untuk memahami bagaimana frekuensi dan tingkat keparahan depresi memengaruhi penuaan otak dari waktu ke waktu. (ndi)
