Aktual.co.id – Guna memperkuat Langkah menangani kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurrofiq, turun langsung ke lokasi terdampak karhutla di Kabupaten Rokan Hilir.
Dalam keterangannya, dirinya mengapresiasi atas upaya-upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah daerah dan seluruh jajarannya.
“Namun demikian, perlu ada peningkatan intensitas pemadaman api agar karhutla di Rokan Hilir ini terselesaikan dalam waktu secepatnya,” ujar Hanif, Kamis (24/7).

Langkah ini dilaksanakan akibat ada lonjakan titik panas (hotspot) di Rokan Hilir yang mencapai 354 titik. Dengan 9 firespot aktif per 20 Juli 2025, menjadikan wilayah ini sebagai daerah dengan kejadian karhutla tertinggi di Provinsi Riau.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Hanif melakukan pantauan udara meliputi Kecamatan Bangko Pusako, Kubu, Kubu Babussalam. Lalu Simpang Kanan, dan Pasir Limau Kapas.
Dari pengamatannya, kebakaran terpantau melanda lahan gambut yang kering dengan akses minim terhadap sumber air.
“Titik api juga ditemukan pada hutan produksi dan hutan produksi terbatas yang rentan terhadap penyebaran api secara masif,” ujar Hanif.
Menanggapi situasi ini, KLH/BPLH memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, dan pemerintah daerah. Untuk meningkatkan kecepatan dan efektivitas respons.
Sebanyak lima helikopter water bombing milik BNPB telah dikerahkan. Hingga pertengahan Juli 2025, tercatat 594 sortie pengeboman air telah dilakukan dengan total volume 2.376.000 liter.
Guna menekan kebakaran meluas, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kembali dijalankan sejak 21 Juli 2025 dengan target wilayah Rokan Hilir dan sekitarnya.
Pemerintah daerah juga diimbau percepatan langkah pemadaman dengan keterlibatan aktif dari tingkat tapak. “Kita akan berkoordinasi dengan semua pihak mengakhiri munculnya bahaya asap yang ada di Rokan Hilir,” katanya. Dirinya akan menghubungi Kepala BNPB untuk mengirimkan bantuan pemadaman. (ndi)
