Aktual.co.id – Nama Abigail Limuria mendadak jadi perbincangan public karena sering tampil di berbagai ajang diskusi berskala internasional.
Kehadiran dia ini membuat banyak yang penasaran tentang sosok Abigail Limurai. Nama ini menjadi sering disebut karena beberapa kali menjadi narasumber dari media Al Jazeera English dan DW News.
Melalui wawancara yang dilakukan dengan Al Jazeera, Abigail Limuria menilai bahwa demo yang muncul belakangan ini menjadi bentuk keresahan masyarakat yang merasa tak didengar oleh wakil rakyat di parlemen.
Abigail Limuria dikenal sebagai salah satu pegiat isu-isu sosial politik, dan penulis muda Indonesia. Namanya disorot usai menjadi narasumber media global di tengah demo massal yang terjadi pada 28 Agustus 2025.
Abigail diketahui menempuh pendidikan di Biola University, Amerika Serikat dari tahun 2013 hingga 2017 dengan mengambil program studi Media and Cinema Arts.
Selama kuliah, ia juga terlibat aktif dalam berbagai produksi film dan program komunikasi yang makin memperkuat keterampilannya di bidang media.
Profil Abigail Limuria dikenal sebagai sosok yang aktif dalam mengedukasi anak muda tentang isu politik dan sosial.
Dirinya turut mendirikan berbagai platform informasi politik dan sosial untuk generasi muda, seperti What Is Up Indonesia? (WIUI), Bijak Memilih, hingga Malaka Project.
Sejak tahun 2020, Abigail menjadi co-founder What Is Up Indonesia?, sebuah media independen yang menyajikan informasi politik Indonesia dalam bahasa Inggris.
Dalam waktu singkat, platform tersebut berhasil menarik puluhan ribu pengikut. Hal ini membuktikan tingginya minat anak muda terhadap informasi politik yang mudah diakses.
Pada tahun 2017-2021, Abigail Limuria sempat menjadi co-founder PT Lalita Project Indonesia. Bahkan, berkontribusi dalam penulisan dan penerbitan buku Lalita: 51 Cerita Perempuan Hebat Indonesia.
Hingga kini, Abigail Limuria terus konsisten mendorong keterlibatan generasi muda dalam isu-isu publik, baik skala nasional maupun internasional.
Terakhir, ia ikut menyuarakan aspirasi terkait tuntutan publik terhadap pemerintah atau 17+8 bersama beberapa tokoh muda lainnya. (ndi/jp)
