Aktual.co.id – Matta Cinema Production yang berkantor pusat di Jakarta sedang menjajaki enam proyek di Asian Contents & Film Market di Busan, dengan anggaran berkisar antara $440.000 (Rp7 Miliar) hingga $1,1 juta (Rp183 Miliar) dan jadwal produksi hingga tahun 2028.
Menurut catatan yang dirilis oleh Variety, perusahaan ini meluncurkan jajarannya di bawah tajuk “True Stories of Indonesia : From Local Roots to Global Screen” di Acara Happy Hour ACFM, mencari kolaborasi internasional sambil mempertahankan CEO dan produser Nugroho Dewanto sebagai fokus 80% pada pemirsa Indonesia.
Inti dari daftar ini adalah trilogi drama kriminal yang dikembangkan melalui kerja sama dengan Tempo Media Group, organisasi media investigasi terbesar di Indonesia.
Ketiga film tersebut mengadaptasi kasus-kasus nyata dari investigasi kriminal Tempo, masing-masing berbujet $600.000 (Rp9,9 Miliar) dan dijadwalkan diproduksi antara tahun 2026-2028 bekerja sama dengan Pal8 Pictures, anak perusahaan produksi Tempo.
Judul-judul yang diproyeksikan untuk diproduksi antara lain.
“Pintu-Pintu Kanjuruhan” mendramatisasi tragedi sepak bola Stadion Kanjuruhan di Malang yang menewaskan 131 orang akibat gas air mata.
Sinopsisnya menggambarkan malam impian sebuah keluarga muda di sebuah derby sepak bola yang berubah menjadi mimpi buruk ketika gas air mata dan gerbang yang terkunci memivu kematian di stadion.
“Malam Terpanjang” diangkat dari kasus perundungan di sebuah universitas yang menyebabkan kematian seorang mahasiswa kedokteran di Semarang.
Mengisahkan seorang residen anestesiologi muda yang terjebak dalam budaya perundungan yang brutal dan bangkit dari percobaan bunuh diri untuk melawan balik dengan bukti.
“Village of the Hopefuls” mengangkat krisis perjudian daring nasional Indonesia melalui kisah tiga kehidupan di sebuah desa yang sedang berjuang seorang anak laki-laki yang ingin lepas dari kemiskinan, seorang perempuan yang terbebani tugas keluarga, dan seorang calon ayah yang menabung untuk kehidupan baru hingga perjudian daring mengancam menghancurkan kehidupan mereka.
“My Own Last Supper” akan memasuki tahap produksi. Cerita adaptasi dari novel pemenang penghargaan yang akan mulai diproduksi pada bulan November dengan anggaran $480.000 (Rp7 Miliar).
Film ini mengisahkan seorang duda berusia 76 tahun yang mengumpulkan anaknya untuk makan malam terakhir.
Mengungkap memoar tersembunyi tentang cinta, kehilangan, dan luka masa lalu sebelum memilih laut sebagai tempat reuni dengan mendiang istrinya.
Film ini akan disutradarai oleh Ismail Babseth, yang sebelumnya telah menyutradarai film “Sara” dan telah tayang perdana di Busan pada tahun 2023.
Dua proyek tambahan sedang dikembangkan bersama Ruang Basbeth Bercerita, yang dipimpin oleh Lyza Anggraheni, pemenang Penghargaan TAICCA pada Proyek Pitching Busan Asian Film School tahun lalu.
“Last Resort,” yang ditulis oleh mendiang Gertjan Zuilhof, mantan programmer Festival Film Internasional Rotterdam, memiliki anggaran tertinggi sebesar $1,2 juta (Rp199 Miliar).
Film ini berkisah tentang seorang ibu tunggal asal Jepang yang membangun bisnis “wisata bunuh diri” ilegal di sebuah pulau terpencil di Indonesia untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi putrinya, namun dunianya justru diguncang oleh kekerasan, cinta, dan hantu dari masa lalunya.
“The Unforgettable Flavours” terinspirasi dari “Mustika Rasa”, sebuah buku resep tahun 1965 yang diinisiasi oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno, dengan anggaran $720.000 (Rp11 Miliar).
Kisah ini tentang seorang perwira muda modern yang ditugaskan memimpin proyek buku masak dengan menjelajahi Indonesia untuk melestarikan jiwa kulinernya sembari mengarungi cinta yang rapuh yang diuji oleh badai tahun 1965.
Matta Cinema Production, Tempo Media Group, dan Ruang Basbeth Bercerita berpameran di Paviliun Jakarta, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Indonesia. (ndi)
