Aktual.co.id – Pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk pembunuhan massal oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter di el-Fasher, Sudan.
Dikutip dari Al Jazeera, PBB memperingatkan kepada Dewan Keamanan bahwa kota itu bagaikan neraka yang gelap.
RSF mengambil alih el-Fasher , ibu kota negara bagian Darfur Utara, pada hari Minggu setelah memaksa tentara Sudan mundur dari benteng terakhirnya di wilayah Darfur barat.
“Situasinya sungguh mengerikan,” ujar Martha Ama Akyaa Pobee, asisten sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Afrika, dalam sidang darurat Dewan Keamanan pada hari Kamis (30/10).
Dikatakan bahwa Kantor Hak Asasi Manusia PBB telah menerima laporan yang dapat dipercaya mengenai pembunuhan massal, eksekusi, dan penggeledahan dari rumah ke rumah saat warga sipil berusaha melarikan diri.
“Situasinya kacau. Dalam konteks ini, sulit memperkirakan jumlah warga sipil yang tewas. Meskipun ada komitmen untuk melindungi warga sipil, kenyataannya tidak ada yang aman di el-Fasher,” ujarnya.
Dikatakan bahwa tidak ada jalur aman bagi warga sipil untuk meninggalkan kota. Kepala kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan penduduk kota itu menjadi sasaran kekejaman dari RSF.
Kota itu kata Tom Tom Fletcher kepada Dewan Keamanan PBB sudah menjadi tempat penderitaan manusia yang sangat parah.
Fletcher mengatakan, ada laporan yang dapat dipercaya tentang eksekusi yang meluas setelah para pejuang Pasukan Dukungan Cepat memasuki kota tersebut.
“Kami tak bisa mendengar jeritan, kengerian terus berlanjut. Perempuan dan anak perempuan diperkosa, orang-orang dimutilasi dan dibunuh tanpa hukuman sama sekali,” katanya.
Jatuhnya el-Fasher ke tangan RSF dapat memicu perpecahan Sudan, lebih dari satu dekade setelah pembentukan Sudan Selatan.
Perang terbaru dimulai pada April 2023, ketika ketegangan antara militer dan RSF meletus menjadi pertempuran di ibu kota Khartoum. Konflik yang terjadi telah menewaskan puluhan ribu orang dan membuat lebih dari 12 juta orang mengungsi. (ndi/al Jazeera)
