Aktual.co.id – Kecelakaan yang menimpa aktor Gary Iskak menjadi perhatian banyak pihak. Kecelakaan tunggal yang terjadi di Tanah Kusir, Jakarta tersebut disebutkan karena kehilangan kontrol saat mengendarai motor Yamaha RX-King.
“Semula kendaraan sepeda motor Yamaha RX King NRKB B-6888-WDV melaju dari arah timur ke barat di Jalan Kesehatan Raya wilayah Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Sesampainya di depan Rainbow Car Wash, menabrak pohon sehingga terjadi kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan meninggal dunia dan kerusakan kendaraan,” ujar Kombes Budi.
Peristiwa ini pun mengingatkan kembali tentang performa motor Yamaha RX-King. Dikutip dari laman OTO, bahwa motor Yamaha RX-King salah satu motor idola bagi anak muda tahun 1980 hingga 2000 an
Suara knalpot yang garing nan berisik. Akselerasi yang sekejap. Hingga asap putih yang mengebul dari buritan menjadi ciri khasnya.
RX-King memulai kiprahnya di Indonesia lewat RX-K yang diimpor langsung dari Jepang pada 1980 sebagai versi lebih bertenaga dari RX 100 dan RX 125 di era 1970an.
Mesin 135 cc (tepatnya 132 cc) digunakan RX-K membuatnya cukup dilirik. Tapi tak banyak yang memiliki apalagi saat itu masih berstatus motor CBU (completely built up). Nasibnya pun bertahan kurang lebih tiga tahun.
Melihat pertumbuhan motor RX-K yang turun para konseptor asal Jepang Nobuo Aoshima, Chikao Kimata dan Motoaki Hyodo mendapat masukan yang cukup mendasar.
Masyarakat Indonesia ingin motor yang gagah, tidak boros bahan bakar dan powerful di putaran rendah. Dari masukan itulah, RX-King dirilis di 1983 dengan teknologi Yamaha Energy Induction System (YEIS).
Tampang lebih gagah dengan desain yang lebih modern, tangki bersudut, dengan lampu kotak, serta stang tinggi berjuluk kobra lantaran bentuknya.
Mesin 135 cc dengan konfigurasi 2 langkah (2-tak) dijadikan andalan. Meski saat itu, kompetitor, Honda menjagokan GL-Series dengan dapur pacu 4-tak, Yamaha sukses menjadikan RX-King berkarakter.
Proses penciptaan tenaga yang lebih cepat yang membutuhkan 2 langkah menjadikan grafik tenaganya mudah memuncak.
Isu emisi dan regulasi pada 2006 membuat Yamaha merilis New RX-King. Mesinnya tetap sama, hanya saja proses pengolahan gas buang diperbaiki. Knalpotnya sudah diberi catalytic converter untuk mereduksi emisi.
Asap sudah direduksi berkurang sehingga banyak yang menyindir TX-King 4 tak, apalagi bentuk fisik pun ikut berubah. Salah satu yang mendasar adalah lampu bulat menjadi pencahayaan utama, menggantikan lampu kotak yang menemani lebih dari 20 tahun.
Sayang nasib RX-King harus berakhir di 2009 di mana tren konsumen lebih memilih motor skutik sehingga mempengaruhi performa penjualan RX-King. Kini RX-King jadi buruan fans di mana motor dalam kondisi tak terawat dan sekadar lengkap surat-surat sudah bernilai.
Sedangkan versi orisinil yang mengenakan seluruh peranti asli, diburu kolektor. Nilai intrinsik rasanya tak bisa membayar nilai sentimental yang kadung merasuk para pemiliknya. (ndi/OTO)
