Aktual.co.id – Sebuah studi menemukan individu dengan gangguan cemas cenderung merasa lebih depresi ketika merasa pasangannya sering mengabaikan dan lebih cenderung membalas. Makalah ini diterbitkan di Journal of Personality .
Phubbing adalah tindakan mengabaikan atau kurang memperhatikan seseorang yang berada di dekatnya karena fokus pada ponsel.
Kata ini menggabungkan “phone (telepon seluler)” dan “snubbing (pengabaian)”. Hal ini terjadi selama percakapan, makan, rapat, kencan, waktu bersama keluarga, atau situasi apa pun di mana seseorang terus memeriksa pesan, media sosial, notifikasi, atau konten ponsel lainnya.
Phubbing cenderung membuat orang lain merasa tidak penting, ditolak, atau kurang terhubung secara emosional. Dalam hubungan romantis, phubbing sering terjadi sehingga mengurangi kepuasan hubungan.
Dalam persahabatan dan hubungan keluarga, perilaku Phubbing bisa membuat komunikasi terasa dangkal atau terputus-putus.
Penulis studi, Katherine B. Carnelley dan rekan-rekannya mencatat persepsi perilaku phubbing dikaitkan dengan fungsi hubungan yang lebih rendah.
Perilaku phubbing cenderung memicu emosi negatif yang menyebabkan pasangan membalas perilaku phubbing yang dirasakan menggunakan ponsel pintar mereka sendiri.
Mereka melakukan penelitian yang menyelidiki bagaimana keterikatan seseorang memoderasi hubungan antara persepsi phubbing dengan kepuasan hubungan dibanding kemarahan/frustrasi, kesejahteraan pribadi, dan keinginan untuk membalas.
Keterikatan dewasa mengacu pada ikatan emosional yang dibentuk seseorang dengan orang-orang penting lainnya, terutama pasangan dekat, yang melibatkan kebutuhan kedekatan, keamanan, dukungan, dan kenyamanan.
Penghindaran keterikatan cendering menjaga jarak emosional dan mengandalkan kemandirian. Sementara kecemasan keterikatan adalah kecenderungan untuk khawatir tentang penolakan, pengabaian, atau tidak cukup dicintai.
Dalam situasi seperti itu, partisipan dengan kecemasan lebih menonjol melaporkan rasa kesal, rasa ingin tahu, dan pembalasan sebagai respons terhadap phubbing.
Frekuensi alasan pembalasan dilaporkan bergantung pada pola keterikatan seseorang. Orang kecemasan keterikatan lebih menonjol membalas mencari dukungan dan persetujuan dari orang lain.
Sedangkan yang memiliki penghindaran keterikatan cenderung melakukan untuk mendapatkan persetujuan dari orang lain.
Menariknya, individu dengan perilaku penghindaran keterikatan justru melaporkan tingkat konflik yang lebih rendah dibandingkan yang memiliki penghindaran keterikatan rendah.
Hasil ini berkontribusi pada pemahaman ilmiah tentang bagaimana pola keterikatan orang dewasa memengaruhi interaksi pasangan di dunia modern.
Perlu dicatat sampel sebagian besar terdiri dari perempuan dan heteroseksual, yang hasilnya tidak sepenuhnya dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih beragam. Selain itu, semua data berasal dari laporan diri, sehingga ada kemungkinan bias pelaporan memengaruhi hasilnya. (ndi/psypost)
