Aktual.co.id – Konflik geopolitik memicu kenaikan harga diberbagai sektor salah satunya harga plastik. Mengutip Blooberg Technos, harga plastik rata – rata naik Rp5 ribu per item.
“Jadi harga Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu untuk harga plastik biasa. Sementara yang jumbo naik dari harga Rp25 ribu menjadi Rp50 ribu,” kata penjual plastik.
Dikatakan jika kenaikan ini sudah terjadi sebelum lebaran. Bahlan Styrofoam dari Rp35.000 ke Rp43.000, naik lagi menjadi Rp55.000. Gelas-gelas plastik dari Rp17.000 ke Rp23.000 per item.
Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) melalui Sekjen Inaplas, Fajar Budiono mengatakan pelaku industri mulai menghadapi tekanan serius dari sisi pasokan bahan baku.
Disampaikan jika gangguan distribusi global, terutama di jalur strategis seperti Selat Hormuz mempengaruhi kebaikan harga yang ada di pasaran.
Fajar mengatakan, dalam rantai industri plastik, Selat Hormuz sebagai jalur utama nafta memegang peran vital sebagai bahan baku utama industri petrokimia hulu.
“Bahan baku tersebut nantinya menghasilkan olefin; seperti etylene dan propylene yang akan menjadi resin. Indonesia sangat bergantung terhadap pasokan impor nafta hingga 100% dari kebutuhan domestik,” katanya seperti dikutip Bloomberg Technos.
Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), sejak 2019 hingga 2023 nilai impor plastik dan barang dari plastik menunjukkan pertumbuhan, puluhan hingga ratusan juta kilogram per periode.
Per Juni 2024, volume impor sekitar 90,98 juta kg dengan nilai sekitar US$202,11 juta. Kemudian, pada September 2024 BPS mencatat kenaikan tajam impor plastik sebesar +21,33 % yoy dengan nilai mencapai US$0,92 miliar dan berat 0,56 juta ton, menempatkan plastik sebagai salah satu komoditas impor non‑migas utama Indonesia.
Data terbaru BPS tahun 2026 menunjukkan nilai impor plastik dan barang dari plastik diperkirakan mencapai sekitar US$949,2 juta pada Januari 2026.
Angka ini meningkat sekitar 5,9 % yoy jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Februari 2026, angka ini tercatat US$873,2 juta, dengan kontribusi signifikan dari negara pemasok utama seperti China, Thailand, dan Korea Selatan. (ndi/Bloomberg technoz)
