Aktual.co.id – Jutaan orang berkumpul untuk mengikuti prosesi pemakaman pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei. Kerumunan bergerak dari timur ke barat melintasi Teheran, dari Lapangan Revolusi ke Lapangan Azadi, setelah jenazah pemimpin tertinggi dan anggota keluarga yang terbunuh dimakamkan selama dua hari di Masjid Agung Masalla di Teheran.
Dilaporkan oleh media The Guardian, para pelayat mengenakan pakaian hitam dengan membawa bendera dengan slogan “kita akan bangkit” serta foto Khamenei. Kota Teheran penuh sesak karena kerumunan berusaha bergabung dalam pawai.
Khamenei tewas akibat bom Israel saat perang pada bulan Februari 2026 dalam upaya menggoyahkan dan akhirnya menggulingkan pemerintah.
Prosesi pemakaman kemungkinan akan berlangsung antara 10 hingga 12 jam tergantung jumlah peserta, dan diperkirakan menarik kerumunan terbesar karena banyak orang akan memasuki masjid Masalla.
Pada hari Minggu, seluruh pimpinan Iran hadir salat subuh kecuali pemimpin tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei, yang kini menggantikan ayahnya. Sementara ketiga saudara laki-lakinya hadir bersama para pejabat Iran.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memuji perilaku massa. Ia mengungkapkan harapan bahwa gambar-gambar yang muncul dari Iran akan memaksa barat merenungkan tekadnya mengubah Iran dari luar. “Jika saya ingin dengan bahasa Persia perilaku dan kehadiran orang-orang tersebut akan dipahami oleh seluruh dunia.”
Dia menolak klaim Presiden AS Donald Trump bahwa air mata di pemakaman palsu. “Keagungan ini, air mata yang mengalir dari mata para gadis, pria, dan anak-anak, bukanlah sesuatu yang dapat diciptakan atas perintah. Air mata muncul dari rasa sakit dan kesedihan yang meluap di dalam diri seseorang, dan dunia melihat kebenaran ini,” katanya
Lebih dari 300 jurnalis asing, di samping para reporter asing yang berbasis di Iran, telah diberikan visa langka untuk meliput pemakaman dan menunjukkan persatuan nasional.
Pezeshkian, seorang reformis yang terpilih dua tahun lalu mengatakan tidak menerima interpretasi perpisahan; ini adalah perjanjian untuk melanjutkan jalan yang sama. “Ini sebenarnya bukan perpisahan, melainkan pakta untuk melanjutkan jalan yang sama,” katanya
Menurutnya musuh yang misinya untuk memeceh belah tapi saat ini justru menyatukan kekompakan antar sesama umat Islam di dunia
Menekankan bahwa AS dan Israel telah membuktikan dalam perang ini bahwa isu-isu kebebasan dan hak asasi manusia yang diangkatnya hanyalah kebohongan.
“Zionis adalah pelaku semua kejahatan yang terjadi di kawasan ini, dan ini dilakukan dengan dukungan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa,” katanya. (ndi/The Guardian)
