Aktual.co.id – Ketika seseorang berhenti membalas pesan, maka akan diasumsikan orang yang tidak peduli. Namun, penelitian menunjukkan orang yang membiarkan pesan tidak terjawab cenderung lebih buruk keheningan yang dirasakan oleh mereka.
Temuan yang dipublikasikan Personality and Social Psychology Bulletin ini menunjukkan balasan singkat dapat mempersempit kesalahpahaman emosional.
Ghosting terjadi ketika seseorang tiba-tiba berhenti menanggapi pesan orang lain tanpa penjelasan yang lengkap. Dalam konteks komunikasi digital, hal ini terjadi ketika satu orang dalam percakapan yang percaya keheningan bersifat permanen.
Ghosting dapat berkisar dari keputusan yang disengaja untuk mengakhiri hubungan romantis hingga kelalaian di mana seseorang membaca pesan tetapi teralihkan dan lupa untuk membalas.
Para peneliti menyebut orang yang berhenti menanggapi sebagai ghoster dan orang yang dibiarkan menunggu sebagai ghostee.
Studi menunjukkan memutuskan hubungan emosional berdampak buruk pada orang yang melakukan penolakan. Misalnya, sebuah studi tahun 2013 menemukan pengucilan sosial menyebabkan tekanan emosional bagi orang yang melakukan pengucilan tersebut.
Berdasarkan gagasan ini, sebuah studi tahun 2022 terhadap orang-orang yang melakukan ghosting dan yang di-ghosting menemukan bahwa pelaku ghosting lebih menggambarkan perasaan bersalah, tetapi juga lega, sementara yang di-ghosting sering menggambarkan kesedihan dan rasa sakit hati.
Penelitian ini dipimpin oleh Sophia Li dari Haas School of Business di Universitas California, Berkeley, dan Coral Zheng, seorang kandidat PhD dalam perilaku organisasi di Judge Business School Universitas Cambridge, yang memberikan kontribusi yang sama pada penelitian ini. Mereka ingin memperluas dinamika psikologis ini.
“Ghosting menjadi fenomena yang umum, populer, tetapi menjengkelkan bagi banyak orang saat ini. Jadi saya pikir, pertama-tama, kami sangat termotivasi untuk mempelajari ghosting sebagai masalah di dunia nyata,” kata Zheng kepada PsyPost.
Untuk menangkap hal ini, para peneliti merancang serangkaian studi untuk melihat apakah korban ghosting benar-benar mengenali penderitaan batin yang dialaminya.
Jika korban ghosting gagal menyadari rasa bersalah ini, mereka mungkin berasumsi orang lain sepenuhnya dingin atau bermusuhan.
Dalam studi pertama, peneliti merekrut 195 orang dewasa dan meminta mengingat waktu ketika berkomunikasi daring dengan seseorang yang mereka kenal.
Setengah dari peserta mengingat waktu ketika mengabaikan seseorang (ghosting), sementara setengah lainnya mengingat waktu ketika diabaikan.
Para peserta menilai seberapa buruk perasaan mereka tentang situasi tersebut dan memprediksi seberapa buruk perasaan orang lain pada skala 1 hingga 5, di mana 1 berarti “tidak buruk sama sekali” dan 5 berarti “sangat buruk.”
Para peneliti menemukan orang yang melakukan ghosting melaporkan perasaan yang lebih buruk (skor rata-rata 2,27) daripada yang diprediksi oleh korban (skor rata-rata 1,56).
Para korban meremehkan seberapa besar rasa bersalah dan kesedihan yang dirasakan oleh pelaku ghosting, tetapi seberapa leganya mereka.
Perbedaannya ketika ghosting tidak disengaja seperti lupa membalas pesan: pelaku ghosting merasa buruk. Menariknya, pelaku ghosting akurat dalam memprediksi seberapa buruk perasaan orang yang di-ghosting (rata-rata 2,11 untuk perasaan aktual dan prediksi).
Dalam studi kedua, para peneliti menguji 601 orang dewasa menggunakan skenario imajiner. Para peserta membayangkan saling berkirim pesan teks dengan teman yang tidak mereka kenal dengan baik.
Setengahnya membayangkan menjadi orang yang berhenti membalas, dan setengahnya membayangkan menjadi orang yang menunggu.
Setiap peserta mempertimbangkan dua versi skenario: satu tidak ada balasan sama sekali, dan satu di mana teman tersebut mengirim pesan singkat yang berbunyi, “Maaf, tapi saya tidak bisa bicara sekarang.”
Sekali lagi, mereka membayangkan pelaku ghosting memperkirakan akan merasa lebih buruk (skor rata-rata 3,23) daripada prediksi orang yang membayangkan menjadi korban ghosting (1,94).
Mengirim balasan singkat mempersempit kesenjangan ini: para penerima balasan memperkirakan akan merasa kurang buruk (2,33), dan prediksi penerima (1,82) lebih mendekati kenyataan.
Pesan singkat mengurangi rasa menyalahkan diri sendiri. Ketika menjadi korban ghosting, sekitar sepertiga penerima berasumsi telah mengganggu teman mereka, dibandingkan sekitar satu dari lima setelah balasan singkat, dengan sebagian besar berasumsi teman tersebut hanya sibuk.
Seperti halnya penelitian, ada beberapa hal yang perlu diingat. Eksperimen yang paling realistis dari ketiganya, tidak menemukan efek keseluruhan; efek tersebut hanya muncul di antara peserta yang melihat perilaku tersebut sebagai tindakan menghilang tanpa kabar (ghosting), sebuah analisis yang tidak direncanakan sebelumnya oleh para peneliti.
Orang-orang yang dibiarkan menunggu juga diberi tahu pasangan mereka tidak akan kembali, yang mungkin mengurangi ketidakpastian yang biasanya menyertai tindakan ghosting.
Interaksi juga melibatkan obrolan daring singkat antara orang asing, yang tidak menangkap beban emosional yang intens akibat diabaikan pasangan romantis jangka panjang atau teman dekat.
Keterbatasan lainnya semua peserta berbasis di Amerika Serikat. Dalam budaya di mana menghindari konfrontasi dianggap sopan, orang mungkin tidak merasa bersalah atas tindakan mengabaikan, dan korban mungkin menafsirkan keheningan tersebut secara berbeda.
Terdapat perdebatan yang berlangsung di kalangan psikolog tentang mendefinisikan secara tepat perilaku “ghosting”. Seperti yang ditunjukkan studi ketiga, dua orang mengalami percakapan yang persis sama dan tidak sepakat apakah perilaku “ghosting” benar-benar terjadi.
Ke depan, Zheng menunjukkan keheningan total hanyalah satu bagian dari teka-teki yang lebih besar. “Selain keheningan total, yang disebut ghosting, ada banyak aspek lain dalam komunikasi daring yang masih belum banyak dieksplorasi,” katanya kepada PsyPost.
Misalnya, bagaimana orang merasakan dan memprediksi perasaan orang lain berdasarkan kecepatan respons, panjang pesan, nada pesan, ada atau tidaknya emoji/tanda baca, apakah nadanya positif atau netral, dan lain sebagainya. Unsur-unsur dalam dinamika komunikasi daring sangat menarik. (ndi/psypost)
