• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Penelitian Menunjukkan Orang yang Ghosting Memiliki Perasaan Lebih Buruk daripada yang Dighosting
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Mental Health

Penelitian Menunjukkan Orang yang Ghosting Memiliki Perasaan Lebih Buruk daripada yang Dighosting

Redaktur III Rabu, 14 Oktober 2026
Share
6 Min Read
Ilustrasi Ghosting/ Foto: Psypost
Ilustrasi Ghosting/ Foto: Psypost

Aktual.co.id – Ketika seseorang berhenti membalas pesan, maka akan diasumsikan orang yang tidak peduli. Namun, penelitian menunjukkan orang yang membiarkan pesan tidak terjawab cenderung lebih buruk keheningan yang dirasakan oleh mereka.

Temuan yang dipublikasikan Personality and Social Psychology Bulletin ini menunjukkan balasan singkat dapat mempersempit kesalahpahaman emosional.

Ghosting terjadi ketika seseorang tiba-tiba berhenti menanggapi pesan orang lain tanpa penjelasan yang lengkap. Dalam konteks komunikasi digital, hal ini terjadi ketika satu orang dalam percakapan yang percaya keheningan bersifat permanen.

Ghosting dapat berkisar dari keputusan yang disengaja untuk mengakhiri hubungan romantis hingga kelalaian di mana seseorang membaca pesan tetapi teralihkan dan lupa untuk membalas.

Para peneliti menyebut orang yang berhenti menanggapi sebagai ghoster dan orang yang dibiarkan menunggu sebagai ghostee.

Studi menunjukkan memutuskan hubungan emosional berdampak buruk pada orang yang melakukan penolakan. Misalnya, sebuah studi tahun 2013 menemukan pengucilan sosial menyebabkan tekanan emosional bagi orang yang melakukan pengucilan tersebut.

Berdasarkan gagasan ini, sebuah studi tahun 2022 terhadap orang-orang yang melakukan ghosting dan yang di-ghosting menemukan bahwa pelaku ghosting lebih menggambarkan perasaan bersalah, tetapi juga lega, sementara yang di-ghosting sering menggambarkan kesedihan dan rasa sakit hati.

Penelitian ini dipimpin oleh Sophia Li dari Haas School of Business di Universitas California, Berkeley, dan Coral Zheng, seorang kandidat PhD dalam perilaku organisasi di Judge Business School Universitas Cambridge, yang memberikan kontribusi yang sama pada penelitian ini. Mereka ingin memperluas dinamika psikologis ini.

Baca Juga:  Merasa Sibuk Terus-Menerus Namun Tidak Pernah Maju, Bisa Jadi di Sini Masalahnya

“Ghosting menjadi fenomena yang umum, populer, tetapi menjengkelkan bagi banyak orang saat ini. Jadi saya pikir, pertama-tama, kami sangat termotivasi untuk mempelajari ghosting sebagai masalah di dunia nyata,” kata Zheng kepada PsyPost.

Untuk menangkap hal ini, para peneliti merancang serangkaian studi untuk melihat apakah korban ghosting benar-benar mengenali penderitaan batin yang dialaminya.

Jika korban ghosting gagal menyadari rasa bersalah ini, mereka mungkin berasumsi orang lain sepenuhnya dingin atau bermusuhan.

Dalam studi pertama, peneliti merekrut 195 orang dewasa dan meminta mengingat waktu ketika berkomunikasi daring dengan seseorang yang mereka kenal.

Setengah dari peserta mengingat waktu ketika mengabaikan seseorang (ghosting), sementara setengah lainnya mengingat waktu ketika diabaikan.

Para peserta menilai seberapa buruk perasaan mereka tentang situasi tersebut dan memprediksi seberapa buruk perasaan orang lain pada skala 1 hingga 5, di mana 1 berarti “tidak buruk sama sekali” dan 5 berarti “sangat buruk.”

Para peneliti menemukan orang yang melakukan ghosting melaporkan perasaan yang lebih buruk (skor rata-rata 2,27) daripada yang diprediksi oleh korban (skor rata-rata 1,56).

Para korban meremehkan seberapa besar rasa bersalah dan kesedihan yang dirasakan oleh pelaku ghosting, tetapi seberapa leganya mereka.

Perbedaannya ketika ghosting tidak disengaja seperti lupa membalas pesan: pelaku ghosting merasa buruk.  Menariknya, pelaku ghosting akurat dalam memprediksi seberapa buruk perasaan orang yang di-ghosting (rata-rata 2,11 untuk perasaan aktual dan prediksi).

Baca Juga:  Mencegah Gejala Stroke Ringan Seperti yang Diderita oleh Kak Seto

Dalam studi kedua, para peneliti menguji 601 orang dewasa menggunakan skenario imajiner. Para peserta membayangkan saling berkirim pesan teks dengan teman yang tidak mereka kenal dengan baik.

Setengahnya membayangkan menjadi orang yang berhenti membalas, dan setengahnya membayangkan menjadi orang yang menunggu.

Setiap peserta mempertimbangkan dua versi skenario: satu tidak ada balasan sama sekali, dan satu di mana teman tersebut mengirim pesan singkat yang berbunyi, “Maaf, tapi saya tidak bisa bicara sekarang.”

Sekali lagi, mereka membayangkan pelaku ghosting memperkirakan akan merasa lebih buruk (skor rata-rata 3,23) daripada prediksi orang yang membayangkan menjadi korban ghosting (1,94).

Mengirim balasan singkat mempersempit kesenjangan ini: para penerima balasan memperkirakan akan merasa kurang buruk (2,33), dan prediksi penerima (1,82) lebih mendekati kenyataan.

Pesan singkat mengurangi rasa menyalahkan diri sendiri. Ketika menjadi korban ghosting, sekitar sepertiga penerima berasumsi telah mengganggu teman mereka, dibandingkan sekitar satu dari lima setelah balasan singkat, dengan sebagian besar berasumsi teman tersebut hanya sibuk.

Seperti halnya penelitian, ada beberapa hal yang perlu diingat. Eksperimen yang paling realistis dari ketiganya, tidak menemukan efek keseluruhan; efek tersebut hanya muncul di antara peserta yang melihat perilaku tersebut sebagai tindakan menghilang tanpa kabar (ghosting), sebuah analisis yang tidak direncanakan sebelumnya oleh para peneliti.

Baca Juga:  Mendikdasmen Imbau Guru Berhati-Hati Gunakan Medsos

Orang-orang yang dibiarkan menunggu juga diberi tahu pasangan mereka tidak akan kembali, yang mungkin mengurangi ketidakpastian yang biasanya menyertai tindakan ghosting.

Interaksi juga melibatkan obrolan daring singkat antara orang asing, yang tidak menangkap beban emosional yang intens akibat diabaikan pasangan romantis jangka panjang atau teman dekat.

Keterbatasan lainnya semua peserta berbasis di Amerika Serikat. Dalam budaya di mana menghindari konfrontasi dianggap sopan, orang mungkin tidak merasa bersalah atas tindakan mengabaikan, dan korban mungkin menafsirkan keheningan tersebut secara berbeda.

Terdapat perdebatan yang berlangsung di kalangan psikolog tentang mendefinisikan secara tepat perilaku “ghosting”. Seperti yang ditunjukkan studi ketiga, dua orang mengalami percakapan yang persis sama dan tidak sepakat apakah perilaku “ghosting” benar-benar terjadi.

Ke depan, Zheng menunjukkan keheningan total hanyalah satu bagian dari teka-teki yang lebih besar. “Selain keheningan total, yang disebut ghosting, ada banyak aspek lain dalam komunikasi daring yang masih belum banyak dieksplorasi,” katanya kepada PsyPost.

Misalnya, bagaimana orang merasakan dan memprediksi perasaan orang lain berdasarkan kecepatan respons, panjang pesan, nada pesan, ada atau tidaknya emoji/tanda baca, apakah nadanya positif atau netral, dan lain sebagainya. Unsur-unsur dalam dinamika komunikasi daring sangat menarik. (ndi/psypost)

 

SHARE
Tag :gangguan kepribadianMental healthNarsisistic Personality Disorder
Ad imageAd image

Berita Aktual

Emas Antam/ Foto: pajak
Emas Antam Tidak Mengalami Perubahan Harga RpRp2.5 Juta/ Gram
Rabu, 14 Oktober 2026
Ilustrasi Ghosting/ Foto: Psypost
Penelitian Menunjukkan Orang yang Ghosting Memiliki Perasaan Lebih Buruk daripada yang Dighosting
Rabu, 14 Oktober 2026
Bendera Arab Saudi/ Foto: anadolu
Arab Saudi Memperingatkan Kelompok Houthi Atas Serangan Makkah dan Madinah
Rabu, 14 Oktober 2026
Kantor BNPB / Foto: courtesy Suara Surabaya
KPK Menangkap 14 Orang dalam OTT di Lingkungan BNPB
Rabu, 14 Oktober 2026
Antrian BBM di Bali/ Foto: Ist
Dirut PT Pertamina Meminta Maaf Atas Antrian Konsumen BBM di Bali
Selasa, 13 Oktober 2026

Mental Health

Ilustrasi Ghosting/ Foto: Psypost

Penelitian Menunjukkan Orang yang Ghosting Memiliki Perasaan Lebih Buruk daripada yang Dighosting

Ilustrasi kebosanan/ Foto: freepik

Penelitian Menyebutkan Kebosanan Bisa Memicu Sikap Agresif

Ilustrasi peduli terhadap kasus bunuh diri/ Foto: Freepik

Pencegahan Bunuh Diri Menekan Angka Kematian Akibat Bunuh Diri di Dunia

Ilustrasi olah raga/ Foto: psypost

Studi Menjelaskan Olah Raga Mampu Meredam Gangguan Depresi

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Penelitian Menyebutkan Kebosanan Bisa Memicu Sikap Agresif

Israel Menolak Penerbangan Ethiopian Airlines Tujuan Tel Aviv Kerena Pilot WNI

Pemerintah Thailand Mendorong Pensiun Dini Bagi Pegawai Negeri Sipil

Tiga Negara Mengeluarkan Bersama Mengutuk Serangan Houthi

Arab Saudi Menangguhkan Penerbangan Setelah Serangan Houthi di Bandara.

More News

Ilustrasi meningitis/ Foto: Ist

Kenali Gejala Meningitis yang Mirip Flu

Minggu, 5 Oktober 2025
Terlalu banyak bicara membuat lawan bicara tidak nyaman / Foto : Freepik

Perilaku yang Membuat Seseorang Dianggap Tidak Peduli dengan Orang Baru

Kamis, 3 April 2025
Orang dengan bertambahnya usia sulit mendapatkan masukan dari orang lain/ Foto : freepik

Berikut Alasan Orang Tidak Tahan Diperintah Saat Bertambah Usia

Jumat, 25 April 2025
Bintitan/ Foto: Ist

Bintitan Bisa Menimbulkan Nyeri dan Tidak Nyaman pada Mata

Minggu, 5 Oktober 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id