Aktual.co.id – Pernahkah bertemu seseorang yang tampak yakin pada dirinya sendiri padahal hanya untuk menutupi kelemahannya yang rapuh?
Psikolog Olivia Reid memberikan gambaran seseorang yang terlihat percaya diri namun menyimpan kerapuhan dalam diri sehingga kurang stabil dalam kepribadian. Berikut ciri orang yang terlihat menarik namun sesungguhkan ada kekosongan dalam dirinya.
Mendominasi Setiap Percakapan
Bila seseorang terus-menerus mengarahkan setiap diskusi kembali kepada dirinya sendiri menjadi pertanda dirinya rapuh.
“Orang yang berpura-pura merasa terancam ketika perhatian teralih darinya. Mereka menyela, menyela pembicaraan, dan mengulang setiap topik kembali ke pengalaman pribadi mereka,” kata Olivia Reid.
Bahasa Tubuh Menceritakan Kisah yang Berbeda
Seseorang yang menunjukkan kepercayaan diri palsu berdiri tegak dan berbicara keras, tetapi tangannya menunjukkan tanda yang berbeda. Bermain-main dengan perhiasan, menyentuh wajah berulang kali, atau menyilangkan lengan dengan kaku merupakan tanda-tanda ketidaknyamanan.
“Saya ingat pernah bekerja dengan seorang rekan kerja yang selalu tampak begitu percaya diri saat rapat. Namun, saya perhatikan tangannya terus bergerak, menyetel jam tangannya, merapikan rambutnya, mengetuk-ngetuk meja,” kata Olivia.
Penelitian menunjukkan bahwa menutup mulut atau menyentuh leher melambangkan rasa tidak aman dan ragu. Ketika merasa benar-benar percaya diri, jarak di antara jari-jari akan melebar, tetapi jarak tersebut akan mengecil ketika merasa tidak aman.
Tidak Bisa Menerima Kritik
Ketika seseorang bereaksi terhadap umpan balik sekecil apa pun dengan kemarahan, penolakan, atau pembenaran yang rumit, mereka melindungi sesuatu yang rapuh di baliknya.
Seseorang yang berpura-pura percaya diri menganggap umpan balik sebagai serangan pribadi karena khawatir rahasia dalam dirinya terbongkar.
Membutuhkan Validasi dari Orang Lain
Seseorang yang berpura-pura tangguh akan terus-menerus mencari pujian atau persetujuan. Orang ini selalu ingin mendapat pengakuan kali mereka cerdas, menarik, sukses, atau kualitas apa pun yang membuat merasa tidak aman.
Kebutuhan konstan akan validasi eksternal ini menciptakan sebuah siklus. Orang ini merasa tidak aman, mencari validasi, mendapatkan dorongan sementara, membutuhkan lebih banyak validasi segera setelah dorongan itu memudar.
Melakukan Kompensasi Berlebihan di Area Tertentu
Orang ini akan menyebut-nyebut mobil mahal, gelar Ivy League atau jabatan yang mengesankan. Memastikan semua orang tahu tentang kesuksesannya.
Ini adalah kompensasi berlebihan, dan merupakan tanda klasik dari rasa tidak aman yang tersembunyi.
Penelitian psikologis menjelaskan bahwa kompensasi menjadi mekanisme pertahanan yang berbahaya ketika menggunakan untuk menyembunyikan kekurangan atau frustrasi dengan mengalihkan energi menuju pencapaian di bidang lain.
Berjuang dengan Kerentanan
Seseorang yang berpura-pura percaya diri melihat kerentanan sebagai kelemahan. Dirinya tak mampu menunjukkan celah apa pun pada pertahanan karena takut seluruh topengnya akan runtuh.
Jadi dirinya tidak pernah minta maaf, tidak pernah mengakui kesalahan, dan selalu punya jawaban ketika di kritik meskipun isinya tidak jelas.
Kepercayaan Diri yang Berubah-ubah
Kepercayaan diri yang sejati relatif stabil dalam berbagai situasi. Seseorang yang percaya diri akan bertindak kurang lebih sama, baik di hadapan atasan, rekan kerja, maupun orang yang mereka anggap lebih rendah.
Namun kepercayaan diri yang palsu berubah seperti bunglon, tergantung siapa yang ada di ruangan itu. Orang-orang ini tampak sangat percaya diri di hadapan bawahan atau orang yang mereka anggap kurang penting.
Namun, ketika bersama orang anggap lebih unggul atau lebih sukses, dan kepercayaan diri yang ada pada dirinya itu menguap. Tiba-tiba mereka bersikap hormat bahkan mungkin menjilat.
Perubahan ini mengejutkan karena menunjukkan kepercayaan diri yang tidak pernah dibangun di atas fondasi yang kokoh. Kepercayaan diri bergantung pada perasaan menjadi orang terpenting di ruangan tersebut.
