Aktual.co.id – Militer Amerika Serikat mengatakan akan menarik 5.000 tentara dari Jerman di tengah ketegangan yang berlangsung dengan sekutu utama Eropa terkait perang AS melawan Iran,
Reuters melaporkan bahwa Pentagon mengambil keputusan tersebut pada hari Jumat, beberapa hari setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengatakan Iran mempermalukan AS selama negosiasi tentang pengakhiran perang.
“Presiden sudah tepat menanggapi pernyataan-pernyataan yang kontraproduktif ini,” demikian laporan tersebut mengutip pernyataan seorang pejabat anonim.
Kantor berita tersebut melaporkan bahwa penarikan pasukan diperkirakan akan berlangsung dalam enam hingga 12 bulan ke depan. Keputusan tersebut juga dilaporkan oleh CBS News, mengutip pejabat senior pertahanan.
Presiden Donald Trump mengecam sekutu-sekutu Eropa karena tidak berbuat lebih banyak untuk membantu perang AS-Israel melawan Iran. Pada hari Rabu menyatakan ia sedang mempertimbangkan menarik pasukan dari negara-negara Eropa yang dianggap kurang mendukung.
Media AS, Politico, melaporkan awal pekan ini bahwa ancaman Trump untuk menarik pasukan dari negara-negara Eropa mengejutkan militer, mengutip beberapa pejabat pertahanan anonim dan seorang ajudan kongres.
Trump menyerang rekan sejawatnya dari Jerman dalam unggahan media sosial lainnya pada hari Kamis, dengan menyatakan bahwa Merz seharusnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk mencoba mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina dan lebih sedikit waktu untuk “mencampuri urusan mereka yang menyingkirkan ancaman nuklir Iran, sehingga menjadikan dunia, termasuk Jerman, tempat yang lebih aman”.
Sementara negara-negara Eropa ragu-ragu untuk mengerahkan pasukannya ke dalam perang AS melawan Iran. Para pemimpin seperti Merz pada awalnya ragu-ragu memberikan kritik terhadap serangan AS, yang secara luas dianggap ilegal menurut hukum internasional .
Namun, kritik meningkat seiring guncangan yang ditimbulkan perang terhadap perekonomian global akibat gangguan serius terhadap pasokan energi regional.
Awal pekan ini, Merz membandingkan perang tersebut dengan krisis militer sebelumnya seperti invasi AS ke Irak dan Afghanistan.
“Saat ini, situasinya cukup rumit. Dan ini merugikan kita banyak uang. Konflik ini, perang melawan Iran, berdampak langsung pada output ekonomi kita,” katanya. (ndi/Aljazeera)
