Aktual.co.id – AS telah menyerang Iran sebagai balasan atas serangan pesawat tak berawak terhadap kapal kargo. Keadaan ini membuat gencatan senjata antara AS dan Iran menghadapi ujian terberat.
Serangan AS menargetkan beberapa fasilitas rudal dan drone di Iran dekat Selat Hormuz dan di Pulau Qeshm pada hari Jumat.
Dilaporkan oleh The Guardian, serangan ini merupakan serangan terbatas yang dimaksudkan untuk menanggapi serangan Iran terhadap kapal kargo berbendera Singapura tanpa meningkatkan konflik.
Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan AS menyerang lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran, dengan apa yang disebut sebagai tanggapan terhadap serangan Iran terhadap kapal M/V Ever Lovely.
Namun militer AS mengatakan akan menegakkan gencatan senjata yang rapuh dengan Iran meskipun muncul perbedaan pendapat mengenai ketentuan program nuklir Iran, masalah korban jiwa di Selat Hormuz, dan pertanyaan pelik lainnya termasuk program rudal balistik Iran.
“Militer AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, ditaati, dan berlaku sepenuhnya,” kata Centcom.
Iran telah menandatangani perjanjian gencatan senjata. Pihaknya telah menghormatinya. Jika memiliki perbedaan tentang nota kesepahaman itu diterapkan, Iran dapat menghubungi pihaknya demikian tulis JD Vance, wakil presiden AS, di media sosial setelah serangan tersebut.
Donald Trump mengatakan serangan pesawat tak berawak Iran melanggar gencatan senjata. Serangan itu terjadi tak lama setelah Trump mengatakan kepada wartawan “kalian akan tahu” apakah AS akan membalas. Presiden AS itu juga menyebut serangan itu sebagai “pelanggaran bodoh” terhadap gencatan senjata.
“Saya tidak suka kenyataan bahwa mereka melakukan serangan kemarin, sebenarnya empat serangan,” kata Trump sesaat sebelum serangan AS pada hari Jumat.
Media pemerintah Iran, mengutip sumber militer yang tidak disebutkan namanya, melaporkan serangan di pelabuhan Sirik setelah terdengar ledakan di sana.
Sumber tersebut mengatakan beberapa tembakan peringatan telah dilepaskan dari Sirik ke arah kapal-kapal yang melanggar peraturan Selat Hormuz sekitar lima jam sebelumnya, menambahkan bahwa dua rudal peringatan juga telah diluncurkan dari daerah Karpan di dekatnya ke arah jalur air strategis tersebut.
Garda Revolusi mengatakan bahwa sebagai tanggapan, angkatan laut mereka menyerang lokasi-lokasi tempat militer AS yang teroris ditempatkan di wilayah tersebut dan memperingatkan serangan AS lebih lanjut akan dibalas dengan respons yang lebih luas
Menurut Garda Revolusi, perjanjian gencatan senjata tersebut memberi Iran kendali atas lalu lintas kapal di selat itu.
“Namun, Amerika Serikat memprovokasi berbagai pihak, berupaya melanggar komitmen ini, dan tanggapan yang diperlukan telah diberikan dan akan terus diberikan. Jika agresi tersebut terulang, tanggapan kami akan lebih luas dari ini,” ungkapnya
Ebrahim Azizi, seorang pejabat keamanan senior Iran, mengatakan bahwa Iran tidak berupaya untuk meningkatkan konflik.
“Ini bukan pelanggaran gencatan senjata; ini adalah pengelolaan gencatan senjata,” tulis Azizi.
Serangan itu menyebabkan Organisasi Maritim Internasional PBB menghentikan sementara upaya evakuasi ratusan kapal yang terdampar di Teluk Persia karena konflik tersebut.
Belum jelas kondisi atau wewenang apa Ever Lovely berusaha keluar dari Selat Hormuz. Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris mengatakan tidak ada yang terluka dalam serangan terhadap Ever Lovely, yang merusak anjungan kapal.
“Sebuah kapal kargo telah dihantam di sisi kanan oleh proyektil yang tidak diketahui, menyebabkan kerusakan pada anjungan,” kata pihak berwenang.
Pada hari Kamis, Otoritas Selat Teluk Persia Iran mengatakan setiap perjalanan melalui rute di luar kerangka kerja yang ditetapkan oleh PGSA tidak akan tercakup dalam jaminan perjalanan aman dan tidak berhak atas perlindungan asuransi atau kewajiban terkait. (ndi/theguardian)
