Aktual.co.id – Korps Garda Revolusi Iran mengumumkan telah menyerang dan menyita sebuah kapal tanker minyak yang berlayar di bawah bendera Togo di Selat Hormuz. Inggris juga mengkonfirmasi insiden keamanan di jalur pelayaran yang strategis ini.
Menurut kantor berita negara Iran, IRNA, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan kapal tanker minyak bernama “Trend” diduga berupaya melakukan aktivitas di jalur “ilegal” melalui Selat Hormuz.
Tanggal 17 September 2026, Otoritas Perdagangan Maritim Inggris mengumumkan mereka telah menerima laporan insiden keselamatan di Selat Hormuz, sekitar 29,6 km timur laut Khasab di Oman.
Otoritas tersebut menyatakan bahwa awak kapal selamat dan tidak ada dampak lingkungan yang terdeteksi, tetapi tidak memberikan informasi tentang kapal yang terlibat.
Saat ini masih belum jelas apakah kapal “Trend” adalah kapal yang disebutkan oleh Otoritas Perdagangan Maritim Inggris.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang penting secara strategis untuk transportasi energi global. Insiden tersebut terjadi di tengah pembatasan transit yang diberlakukan oleh Iran menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Teheran bermaksud mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melewati selat tersebut dan menyerang kapal-kapal yang diklaim mencoba menggunakan jalur alternatif.
Dalam konteks ini, Presiden AS Donald Trump menyatakan hampir mengambil keputusan penting mengenai apakah akan melanjutkan serangan skala besar terhadap Iran.
Menurut saluran televisi Israel 12, Trump mengatakan dalam sebuah wawancara telepon pada 17 September bahwa ia hampir membuat keputusan penting tentang apakah melanjutkan operasi militer terhadap Iran.
Presiden Trump diperkirakan bertemu para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York pada tanggal 22 September 2026.
Dalam ranah diplomasi, Departemen Luar Negeri AS mengumumkan pada 17 September bahwa delegasi Iran akan diizinkan menghadiri Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York minggu depan.
Departemen tersebut menegaskan keputusan ini sesuai komitmen negara tuan rumah, tetapi mencatat bahwa delegasi Iran akan lebih kecil daripada tahun lalu dan dikenakan pembatasan perjalanan serta larangan pembelian barang tertentu dan produk lainnya.
Sebuah sumber yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa keputusan tersebut juga mencakup mengizinkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk menghadiri acara tersebut.
Situasi seputar program nuklir Iran terus menarik perhatian. Menurut laporan dari Institut Sains dan Keamanan Internasional (ISIS) yang berbasis di Washington tertanggal 17 September 2026, citra satelit terbaru menunjukkan Iran mempercepat pembangunan kembali dan penguatan fasilitas Taleghan 2, bagian dari kompleks militer Parchin yang terletak sekitar 30 km di tenggara Teheran.
Citra satelit tanggal 13 September 2026 menunjukkan aktivitas konstruksi yang luas di wilayah tersebut. Iran dilaporkan membangun penutup di atas bagian-bagian fasilitas bawah tanah yang diperkuat yang sebelumnya telah hancur, menggunakan truk, buldoser, pompa beton, pengaduk beton, dan derek.
Taleghan 2 diserang oleh Israel pada Oktober 2024 dan oleh Angkatan Udara Israel pada Maret 2026 selama konflik yang kembali memanas.
Badan intelijen Israel dan Barat meyakini fasilitas tersebut digunakan untuk penelitian sensitif terkait program senjata nuklir Iran. Atas tudinga tersebut Teheran membantah mengembangkan senjata nuklir. (ndi/vn)