Aktual.co.id – Pemilihan kalimat untuk bercakap dengan lawan bicara membutuhkan kehati – hatian agar tidak menjadi orang yang menjengkelkan serta kurang cerdas. Berikut kalimat yang tidak tepat berdasarkan kajian psikologi.
Hanya Bercanda
Humor adalah cara yang ampuh untuk mencairkan suasana dalam percakapan. Namun, menggunakan frasa “hanya bercanda” setelah menyampaikan maksud tertentu dapat membuat seseorang terdengar kurang cerdas.
Pendekatan ini melemahkan posisi seseorang dan dapat membingungkan pendengar. Apakah serius atau tidak?
Jika ingin menyampaikan maksud, sampaikan secara jelas. Jika humor merupakan bagian dari gaya komunikasi , pastikan humor tidak merusak pesan yang ingin disampaikan.
Berkata Um atau Eee
Kata-kata pengisi “um,” “uh,” dan seterusnya bisa membuat seseorang yang mendengar merasa bingung dan jengkel. Kata-kata pengisi itu membuat seseorang yang mengucapkan terdengar kurang percaya diri dan kurang cerdas.
Saya Bukan Ahli, Tetapi
Mengawali pernyataan dengan “Saya bukan ahli, tetapi…” langsung merusak kredibilitas seseorang Hal ini menunjukkan tidak memercayai pengetahuan atau wawasan sendiri, yang pada gilirannya, membuat orang lain tidak memercayai dirinya juga.
Jadi, daripada diremehkan maka akui saja jika tidak ahli dibidang tersebut. Artinya jika tidak yakin tentang sesuatu, tidak apa-apa untuk mengakuinya. Hindari saja mengkualifikasi pernyataan yang bisa merendahkan kecerdasan
Sejujurnya…
Ketika mengawali sebuah pernyataan dengan “sejujurnya,” hal tersebut menyiratkan tidak jujur sebelumnya. Frasa ini secara tidak sengaja menimbulkan keraguan di benak pendengar tentang kredibilitas orang yang mengucapkan.
Daripada menggunakan “sejujurnya,” nyatakan saja maksudnya dan katakan dengan kebenaran yang autentik, tidak perlu menonjolkan.
Bukan Salahku
Frasa “bukan salahku…” dapat membuat seseorang terdengar kurang cerdas. Hal ini menunjukkan kurangnya tanggung jawab dan akuntabilitas, dua kualitas yang sering dikaitkan dengan kedewasaan dan kecerdasan.
Daripada menyalahkan orang lain, mengakui kesalahan dapat menunjukkan kemampuan untuk bertanggung jawab, belajar, dan berkembang.
Tidak Tahu, Bukan Urusanku
Ketika merasa kewalahan dan frustrasi, maka sering berkata, “Saya tidak tahu bukan urusanku” Frasa ini l menjadi bahan pelemah semangat dalam percakapan apa pun.
Tidak hanya berdampak negatif pada harga diri tetapi dapat membuat kurang cerdas. Sebenarnya, semua memiliki saat-saat ragu dan frustrasi. Itu wajar saja. Namun, membiarkan perasaan ini mendominasi percakapan dapat menciptakan kesan negatif.
Terserahlah
Frasa “terserahlah…” sering kali dianggap meremehkan dan tidak tertarik. Itu bisa menghentikan percakapan dan membuat terdengar kurang cerdas .
Bayangkan ketika sedang berdiskusi dan sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan kemudian menanggapi dengan “terserahlah.” Itu menghilangkan nilai percakapan dan melemahkan kontribusi.
Saya Tidak Bisa
Frasa “Saya tidak bisa…” sangat membatasi. Tidak hanya menutup kemungkinan, tetapi menggambarkan kurangnya kepercayaan diri. Hal ini dapat langsung membuat terdengar kurang cerdas.
Sebaliknya, gantikan “Saya tidak bisa” dengan “Saya akan menemukan cara untuk…” atau “Saya sedang berusaha…”. Perubahan bahasa ini membuka kemungkinan adanya transaksi tentang pertumbuhan dan pemecahan masalah.
Yang terpenting, menjadi seseorang yang tidak menghindar dari tantangan tetapi menerimanya sebagai peluang untuk berkembang. (ndi)
