Aktual.co.id – Sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology membuat kasus bahwa sifat-sifat narsisistik Adolf Hitler, Vladimir Putin, dan Donald Trump dapat ditelusuri kembali ke pola umum di masa kanak-kanak dan lingkungan keluarga mereka.
Menurut penelitian, ketiga pemimpin tersebut mengalami bentuk trauma psikologis dan frustrasi selama tahun-tahun, tumbuh dengan ayah otoriter dan ibu yang mendukung secara emosional, dan menunjukkan tanda-tanda narsisme patologis di masa dewasa.
Penelitian ini, yang ditulis oleh Yusuf Çifci dari Universitas Muş Alparslan di Türkiye, bertujuan mengeksplorasi bagaimana kondisi anak usia dini dan struktur keluarga berkontribusi pada pengembangan kepemimpinan politik narsisistik.
Penelitian ini berfokus secara khusus pada perbandingan pengasuhan Hitler, Putin, dan Trump untuk mengidentifikasi penyebab keluarga bersama dari narsisme.
Penelitian psikologis telah lama mengakui hubungan antara narsisme dan kepemimpinan.
Para narsisis sering mencari perhatian, persetujuan, dan kekaguman. Danmotivasi inilah yang memicu ambisi politik.
Para penelitian sebelumnya telah memeriksa retorika, perilaku, atau kepribadian publik para pemimpin politik, yang berfokus pada pengaruh perkembangan sebelumnya.
Terutama peran dinamika keluarga dalam membentuk ciri-ciri narsisisme.
Karena tidak mungkin menilai para pemimpin ini melalui wawancara klinis secara langsung, maka Çifci menggunakan metode interpretatif yang mengacu pada catatan biografis dan sejarah.
Dengan menganalisis fakta-fakta yang diketahui tentang masa kecil Hitler, Putin, dan Trump, terutama dikaitkan dengan perilaku orang tua, trauma, dan dukungan emosional, maka para pemimpin tersebut berusaha mengidentifikasi kondisi formatif yang berkontribusi pada kepribadian dan gaya kepemimpinan di kemudian hari.
Inti dari penelitian ini adalah perbedaan antara dua jenis narsisme: narsisme yang sehat (atau konstruktif) dan narsisme yang tidak sehat (atau reaktif/patologis).
Narsisme yang sehat mendukung harga diri dan kepercayaan diri. Kepribadian ini muncul ketika anak-anak menerima perawatan yang tepat dan menghadapi frustrasi yang dapat dikelola yang membantu membangun ketahanan.
Sebaliknya, narsisme yang tidak sehat cenderung dihasilkan dari gangguan emosional selama perkembangan awal, terutama dikaitkan dengan trauma, pengasuhan yang tidak konsisten, atau pengasuhan yang sombong.
Menurut penelitian, Hitler, Putin, dan Trump semuanya mengalami stres psikologis yang signifikan selama masa kecil yang mungkin mengganggu perkembangan narsisistik yang sehat.
Setiap pemimpin tumbuh dalam rumah tangga yang didominasi sosok ayah yang otoriter dan seorang ibu yang menawarkan kehangatan dan perhatian.
Kombinasi ini perpaduan antara disiplin yang keras dari satu orang tua dan kasih sayang kompensasi dari yang lain,
Pola asuh ini dapat menciptakan ketidakstabilan emosional pada anak dan membuatnya membentuk citra diri yang megah sebagai pertahanan terhadap perasaan tidak berharga.
Misalnya, catatan sejarah menunjukkan bahwa Hitler sering mengalami pelecehan fisik oleh ayahnya dengan cara memukulinya menggunakan ikat pinggang.
Sedangkan ibunya sangat mencintainya, terutama setelah kehilangan tiga anak sebelumnya.
Ketidakseimbangan ini berkontribusi pada konsep diri Hitler yang meningkat dan kebutuhan yang kuat akan dominasi dan pengakuan.
Kisah keluarga Putin mengungkapkan dinamika yang serupa. Orang tuanya kehilangan dua putra sebelum dia lahir, dan dia tumbuh dengan mendengar cerita tentang penderitaan masa perang.
Putin telah secara terbuka menggambarkan dipukuli dengan ikat pinggang oleh ayahnya saat masih kecil.
Seperti Hitler, dia adalah “anak pengganti” yang menjadi fokus perhatian emosional ibunya.
Menurut penelitian, konteks ini menumbuhkan rasa diri yang rapuh yang membutuhkan penguatan melalui tampilan kontrol dan kekuatan.
Dalam kasus Trump, di usia 12 tahun, dia dikirim ke sekolah asrama militer, yang tafsirkan sebagai penolakan atas dirinya di dalam keluarga.
Pengalaman diusir dari kenyamanan rumah keluarga dan ditempatkan di lingkungan yang ketat dan hierarkis membentuk dorongan dewasa untuk dominasi dan pujian.
Kematian kakak laki-lakinya Fred karena alkoholisme juga berkontribusi pada suasana keluarga yang tegang secara emosional dan trauma yang tak terucapkan.
Di ketiga kasus tersebut, peneliti mengidentifikasi pengalaman trauma atau frustrasi yang tidak sesuai dengan usia sebagai faktor sentral.
Ketika tuntutan pada anal – anak luar biasa traumatis, maka gangguan psikologis yang dihasilkan dapat menyebabkan pembentukan narsisme reaktif.
Studi ini juga membahas faktor risiko keluarga lainnya, termasuk tumbuh sebagai anak pengganti dan hidup dengan anggota keluarga pecandu alkohol.
Sementara Hitler dan Putin cocok dengan profil anak pengganti, pengalaman Trump agak berbeda. Namun, kematian kakak laki-lakinya karena alkohol telah menciptakan lingkungan keluarga yang tidak stabil secara emosional.
Penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan akan kekaguman, permusuhan terhadap kritik, dan kurangnya empati yang diamati para pemimpin tidak hanya berasal dari ambisi atau ideologi pribadi, tetapi juga dari luka masa kecil yang belum terselesaikan.
Selain itu, variasi individu dalam menanggapi kesulitan masa kecil akan berpengaruh pada kepribadian Narsisistik.
Penelitian ini juga terbatas pada pemimpin laki-laki dari latar belakang budaya da
