• Indeks
Aktual.co.id
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Reading: Kepemimpinan Narsisistik pada Hitler, Putin, dan Trump Memiliki Akar yang Sama
Share
Aktual.co.idAktual.co.id
Search
  • Beranda
  • Big Data
  • Viral
    • Pemerintahan
    • Politik
    • Hukum Kriminal
  • Mental Health
  • Travel & Kuliner
  • Pakar Menulis
  • Indeks
Have an existing account? Sign In
Follow US
Copyright 2025 - Aktual.co.id
Mental Health

Kepemimpinan Narsisistik pada Hitler, Putin, dan Trump Memiliki Akar yang Sama

Redaktur III Selasa, 3 Juni 2025
Share
5 Min Read

Aktual.co.id – Sebuah studi baru-baru ini yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology membuat kasus bahwa sifat-sifat narsisistik Adolf Hitler, Vladimir Putin, dan Donald Trump dapat ditelusuri kembali ke pola umum di masa kanak-kanak dan lingkungan keluarga mereka.

Menurut penelitian, ketiga pemimpin tersebut mengalami bentuk trauma psikologis dan frustrasi selama tahun-tahun, tumbuh dengan ayah otoriter dan ibu yang mendukung secara emosional, dan menunjukkan tanda-tanda narsisme patologis di masa dewasa.

Penelitian ini, yang ditulis oleh Yusuf Çifci dari Universitas Muş Alparslan di Türkiye, bertujuan mengeksplorasi bagaimana kondisi anak usia dini dan struktur keluarga berkontribusi pada pengembangan kepemimpinan politik narsisistik. 

Penelitian ini berfokus secara khusus pada perbandingan pengasuhan Hitler, Putin, dan Trump untuk mengidentifikasi penyebab keluarga bersama dari narsisme. 

Penelitian psikologis telah lama mengakui hubungan antara narsisme dan kepemimpinan. 

Para narsisis sering mencari perhatian, persetujuan, dan kekaguman. Danmotivasi inilah yang memicu ambisi politik. 

Para penelitian sebelumnya telah memeriksa retorika, perilaku, atau kepribadian publik para pemimpin politik, yang berfokus pada pengaruh perkembangan sebelumnya. 

Terutama peran dinamika keluarga dalam membentuk ciri-ciri narsisisme.

Karena tidak mungkin menilai para pemimpin ini melalui wawancara klinis secara langsung, maka Çifci menggunakan metode interpretatif yang mengacu pada catatan biografis dan sejarah. 

Baca Juga:  Perilaku Orang yang Memilih Transaksi di Teller Bank Dibanding Lewat Online

Dengan menganalisis fakta-fakta yang diketahui tentang masa kecil Hitler, Putin, dan Trump, terutama dikaitkan dengan  perilaku orang tua, trauma, dan dukungan emosional, maka para pemimpin tersebut berusaha mengidentifikasi kondisi formatif yang berkontribusi pada kepribadian dan gaya kepemimpinan di kemudian hari.

Inti dari penelitian ini adalah perbedaan antara dua jenis narsisme: narsisme yang sehat (atau konstruktif) dan narsisme yang tidak sehat (atau reaktif/patologis). 

Narsisme yang sehat mendukung harga diri dan kepercayaan diri. Kepribadian ini muncul ketika anak-anak menerima perawatan yang tepat dan menghadapi frustrasi yang dapat dikelola yang membantu membangun ketahanan. 

Sebaliknya, narsisme yang tidak sehat cenderung dihasilkan dari gangguan emosional selama perkembangan awal, terutama dikaitkan dengan trauma, pengasuhan yang tidak konsisten, atau pengasuhan yang sombong.

Menurut penelitian, Hitler, Putin, dan Trump semuanya mengalami stres psikologis yang signifikan selama masa kecil yang mungkin mengganggu perkembangan narsisistik yang sehat. 

Setiap pemimpin tumbuh dalam rumah tangga yang didominasi sosok ayah yang otoriter dan seorang ibu yang menawarkan kehangatan dan perhatian. 

Kombinasi ini perpaduan antara disiplin yang keras dari satu orang tua dan kasih sayang kompensasi dari yang lain, 

Baca Juga:  5 Kebiasaan Halus yang Membuat Seseorang Jadi Sosok Melelahkan

Pola asuh ini dapat menciptakan ketidakstabilan emosional pada anak dan membuatnya membentuk citra diri yang megah sebagai pertahanan terhadap perasaan tidak berharga. 

Misalnya, catatan sejarah menunjukkan bahwa Hitler sering mengalami pelecehan fisik oleh ayahnya dengan cara memukulinya menggunakan ikat pinggang.

Sedangkan ibunya sangat mencintainya, terutama setelah kehilangan tiga anak sebelumnya. 

Ketidakseimbangan ini berkontribusi pada konsep diri Hitler yang meningkat dan kebutuhan yang kuat akan dominasi dan pengakuan.

Kisah keluarga Putin mengungkapkan dinamika yang serupa. Orang tuanya kehilangan dua putra sebelum dia lahir, dan dia tumbuh dengan mendengar cerita tentang penderitaan masa perang. 

Putin telah secara terbuka menggambarkan dipukuli dengan ikat pinggang oleh ayahnya saat masih kecil. 

Seperti Hitler, dia adalah “anak pengganti” yang menjadi fokus perhatian emosional ibunya. 

Menurut penelitian, konteks ini menumbuhkan rasa diri yang rapuh yang membutuhkan penguatan melalui tampilan kontrol dan kekuatan.

Dalam kasus Trump, di usia 12 tahun, dia dikirim ke sekolah asrama militer, yang  tafsirkan sebagai penolakan atas dirinya di dalam keluarga. 

Pengalaman diusir dari kenyamanan rumah keluarga dan ditempatkan di lingkungan yang ketat dan hierarkis membentuk dorongan dewasa untuk dominasi dan pujian. 

Baca Juga:  Bekerja Terlalu Lama Menurunkan Produktifitas Karyawan

Kematian kakak laki-lakinya Fred karena alkoholisme juga berkontribusi pada suasana keluarga yang tegang secara emosional dan trauma yang tak terucapkan.

Di ketiga kasus tersebut, peneliti mengidentifikasi pengalaman trauma atau frustrasi yang tidak sesuai dengan usia sebagai faktor sentral. 

Ketika tuntutan pada anal – anak luar biasa traumatis, maka gangguan psikologis yang dihasilkan dapat menyebabkan pembentukan narsisme reaktif. 

Studi ini juga membahas faktor risiko keluarga lainnya, termasuk tumbuh sebagai anak pengganti dan hidup dengan anggota keluarga pecandu alkohol. 

Sementara Hitler dan Putin cocok dengan profil anak pengganti, pengalaman Trump agak berbeda. Namun, kematian kakak laki-lakinya karena alkohol telah menciptakan lingkungan keluarga yang tidak stabil secara  emosional.

Penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan akan kekaguman, permusuhan terhadap kritik, dan kurangnya empati yang diamati para pemimpin tidak hanya berasal dari ambisi atau ideologi pribadi, tetapi juga dari luka masa kecil yang belum terselesaikan. 

Selain itu, variasi individu dalam menanggapi kesulitan masa kecil akan berpengaruh pada kepribadian Narsisistik. 

Penelitian ini juga terbatas pada pemimpin laki-laki dari latar belakang budaya da

SHARE
Tag :kesehatan jiwaMental healthpsikologiPsikologi Kepribadian
Ad imageAd image

Berita Aktual

Salah satu adegan film Salmokji: Whispering Water / Foto: Ist
Film Korsel ‘Salmokji: Whispering Water’ Menawarkan Horor yang Berbeda
Kamis, 16 April 2026
Kasad Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir/ Foto: Ist
KASAD Pakistan Bertemu Pejabat Iran Terkait Putaran Negoisasi Baru dengan AS
Kamis, 16 April 2026
Grup BTS/ Foto: Allkpop
BigHit Melaporkan Pembocoran Album BTS ARIRANG Sebelum Perilisan
Kamis, 16 April 2026
Gerai pakaian Lululemon/ Foto: Ist
Kejakgung Texaz Melakukan Penyelidikan Zat Kimia pada Pakaian Olahraga Lululemon
Kamis, 16 April 2026
Kepala Pengadilan Militer (Kadilmil) II-08 Jakarta Kolonel Chk Fredy Ferdian Isnartanto (kanan) bersama Kepala Oditur Militer Kolonel Chk Andri Wijaya (kiri)/ Foto: capture ANTARA
Persidangan Kasus Penganiayaan Aktivis KontraS Andrie Yunus Segera Digelar
Kamis, 16 April 2026

Mental Health

Ilustrasi penyakit Chagas/ Foto: national today

Mengenal Penyakit Chagas yang Diperingati 14 April untuk Menekan Penyebaran

Main games strategi bisa meningkatkan kinerja otak/ Foto: freepik

Begini Cara Meningkatkan Kerja Otak Menjadi Maksimal

Ilustrasi cara melihat orang lain / Foto: freepik

Berikut Melihat Karakter Seseorang dari Cara Bersikap

ILustrasi sombong/ Foto: freepik

Berikut Cara Menghadapi Orang yang Sombong

Ad imageAd image

TRENDING NEWS

Film The Legend of Aang: The Last Airbender Bocor Secara Online

Jembatan Suramadu Ditutup Sementara untuk Uji Beban Bentang Tengah

Meski Sempat Pingsan Anwar Usman Mengaku Lega Purna MK

Peringatan Tenggelamnya Kapal Titanic Tanggal 15 April

Menhaj Memastikan Kesiapan Pemberangkatan Haji Sudah Hampir Selesai

More News

Ilustrasi mendidik anak/ Foto: freepik

Berikut Pola Asuh yang Bisa Merusak Mental Psikologi Anak

Minggu, 1 Maret 2026
Kekecewaan memberkan keinginan untuk konspirasi / Foto : freepik

Penelitian Menyoroti Kebencian Salah Satu Pendorong Teori Konspirasi

Minggu, 1 Juni 2025
Ilustrasi dua orang mengobrol/ Foto: freepik

Orang Rendah Hati Menunjukkan Empati dan Ketahanan Emosional yang Tinggi.

Jumat, 21 November 2025
Terlalu banyak bicara membuat lawan bicara tidak nyaman / Foto : Freepik

Perilaku yang Membuat Seseorang Dianggap Tidak Peduli dengan Orang Baru

Kamis, 3 April 2025
Aktual.co.id

Aktual.co.id adalah portal berita berbasis big data dan analisis digital terdepan di Indonesia yang berada di bawah naungan ASIGTA Group.

  • Redaksi
  • Tentang
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Beranda
  • Indeks
  • Big Data
  • Mental Health
  • Pakar Menulis
  • Viral

Follow Us

Copyright 2025 – Aktual.co.id