Aktual.co.id – Serangkaian penelitian baru yang diterbitkan dalam Journal of Social Issues menunjukkan bahwa dendam dapat membantu seseorag tertarik pada teori konspirasi.
Penelitian yang dilakukan psikolog di Staffordshire University dan University of Birmingham ini menemukan bahwa perasaan tidak diuntungkan secara kompetitif memicu pola pikir dendam, yang membuat orang mudah menerima teori konspirasi.
Dalam tiga studi pra-terdaftar yang melibatkan sampel representatif orang dewasa di Inggris, para peneliti menemukan bahwa perasaan tidak berdaya atau tidak dihargai secara sosial dikaitkan dengan meningkatnya pemikiran konspirasi.
Hasilnya menunjukkan dendam merupakan benang merah psikologis yang menghubungkan motif-motif rasa kecewa tersebut. Teori konspirasi memiliki konsekuensi serius. Teori ini dapat merusak kepercayaan pada sains, mendorong perpecahan sosial, dan menghambat tindakan kolektif terhadap isu-isu perubahan iklim atau kesehatan masyarakat.
“Sebagai seorang psikolog, saya mengikuti perkembangan penelitian terbaru dan memberikan kuliah tentang subjek tersebut selama bertahun-tahun. Dari sana merasa telah menemukan area topik yang belum dieksplorasi,” kata penulis studi David Gordon , seorang dosen senior di University of Staffordshire .
Dendam, dalam konteks ini, didefinisikan keinginan menyakiti orang lain meskipun tindakan tersebut akan merugikan pribadi. Meskipun perilaku ini tidak rasional, namun para ahli teori evolusi berpendapat bahwa dendam dapat berfungsi sebagai fungsi kompetitif.
Para peneliti berhipotesis bahwa teori konspirasi dapat berfungsi sebagai saluran budaya untuk motivasi dendam ini. Dengan menolak otoritas atau keahlian lembaga yang berkuasa, para penganut agama secara simbolis dapat “menyeimbangkan kedudukan.”
Untuk menguji apakah dendam dapat menyebabkan pemikiran konspirasi, para peneliti melakukan studi ketiga dengan 405 orang. Peserta mendapat tugas untuk membayangkan skenario di mana karakter yang diidentifikasi ditolak secara sosial demi pesaing yang lebih populer.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap kepercayaan teori konspirasi merupakan produk dari kekhawatiran yang lebih biasa (tetapi penting), khususnya seputar perasaan dirugikan dalam berbagai aspek kehidupan.
Artinya seseorang harus mencoba berempati terhadap teman atau anggota keluarga yang terjerumus ke dalam lubang kelinci itu. Hal tersebut juga menyerukan secara otomatis menolak ‘garis resmi’ untuk berhenti sejenak dan merenungkan apakah tindakan tersebut bisa mengancam diri sendiri.
Para peneliti menyarankan bahwa penelitian di masa mendatang dapat menggunakan paradigma ekonomi perilaku seperti permainan kompetitif yang memunculkan perilaku dengki.
Para peneliti juga mengusulkan untuk mengklarifikasi apakah skala dengki menggambarkan keadaan sementara atau sifat kepribadian yang stabil. (ndi)
