Aktual.co.id Dalam budaya kerja keras orang cenderung mengaitkan produktivitas dengan jam kerja yang panjang. Namun fakta penelitian bekerja jam kerja panjang menciptakan kesalahan.
Jam Kerja Panjang Menurunkan Produktivitas.
Sebuah studi di Islandia yang melibatkan 2.500 karyawan menemukan bahwa produktivitas karyawan tetap sama atau meningkat ketika jam kerja mereka dikurangi dari 40 menjadi 35 jam seminggu. Bekerja berjam-jam tidak membuat karyawan lebih produktif karena otak membutuhkan istirahat secara teratur.
Jam Kerja Panjang Menciptakan Kesalahan
Ketika karyawan bekerja dengan sedikit istirahat, cenderung membuat kesalahan yang memengaruhi kinerja tim. Karyawan yang kelelahan menjadi kurang fokus dan melewatkan hal yang seharusnya diperhatikan.
Bekerja Berjam-jam Merusak Keseimbangan Kerja.
Agar karyawan produktif dalam bekerja, perlu memiliki keseimbangan kehidupan kerja yang sehat. Waktu yang dihabiskan di luar kantor bersama orang-orang terkasih atau melakukan hobi yang disukai sangatlah berharga.
Jam Kerja Panjang Menyebabkan Kelelahan.
Karyawan yang bekerja berlebihan sering kali mengalami kelelahan dan tidak dapat melakukan pekerjaan mereka. Laporan dari MyPerfectResume menemukan 88% karyawan merasa kelelahan di tempat kerja, dan memengaruhi kerja secara keseluruhan.
Bekerja Waktu Lama Menimbulkan Ekspektasi Buruk.
Penelitian menunjukkan bahwa bekerja secara produktif hanya dua jam. Sementara durasi bekerja di kantor bisa 8 jam sehari. Artinya sebagian besar waktu ada di tempat kerja yang tidak sepenuhnya produktif.
Jam Kerja Panjang Tidak Efisiensi.
Jam kerja yang panjang tidak efisien karena ketika karyawan bekerja jam kerja panjang, maka sering kali berfokus pada waktu agar segera pulang, daripada menghasilkan sesuatu yang berkualitas. (ndi)
