Aktual.co.id – Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Psychological Reports menunjukkan bahwa hanya tiga menit bernapas secara perlahan dapat meningkatkan kemampuan seseorang mengelola emosional terhadap situasi negatif.
Setelah melakukan latihan pernapasan singkat, para peserta dalam studi melaporkan merasa tidak terlalu negatif dan tidak gelisah saat melihat gambar yang tidak menyenangkan.
Peserta juga merasa mampu menggunakan strategi mental untuk mengubah keadaan emosional, yang menunjukkan teknik sederhana ini memberikan dorongan pada pengaturan diri emosional.
Para peneliti memahami kemampuan mengelola emosi merupakan komponen kunci dalam kesejahteraan mental dan mengatasi tantangan hidup.
Ketika kemampuan ini menurun, terdapat hubungan dua arah yang kompleks antara stres dan kapasitas mengendalikan emosi.
Tingkat stres yang tinggi dapat mengganggu kemampuan mengatur perasaan, dan sebaliknya, pengaturan emosi yang buruk dapat membuat merasa lebih stres.
Gangguan ini terjadi melalui jalur biologis tertentu. Saat mengalami stres, sistem respons stres sentral tubuh, yang dikenal sebagai sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal, menjadi aktif dan melepaskan hormon stres seperti kortisol.
Hormon-hormon ini dapat mengganggu wilayah berpikir otak, khususnya korteks prefrontal, yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif seperti pengendalian diri dan pengambilan keputusan.
Proses ini melemahkan kontrol “atas-bawah” yang dimiliki otak terhadap pusat-pusat emosi yang lebih otomatis, sehingga lebih sulit untuk tenang dan rasional.
Latihan pernapasan memiliki efek langsung pada kondisi emosional peserta. Ketika diinstruksikan “mempertahankan” reaksi peserta terhadap gambar negatif, merasa lebih tenang.
ni menunjukkan bahwa latihan pernapasan berfungsi sebagai penyangga emosional, meredakan dampak langsung dari rangsangan yang tidak menyenangkan.
Yang lebih menarik lagi adalah temuan yang terkait penggunaan penilaian ulang kognitif secara aktif. Hasil yang paling mencolok datang dari penilaian keberhasilan yang dilaporkan sendiri.
Dalam kondisi kontrol, tanpa latihan pernapasan, peserta melaporkan kurang berhasil dalam menekan emosi negative. Peserta kesulitan menjauhkan diri mengurangi perasaan mereka.
Studi tersebut juga menemukan bahwa latihan pernapasan membantu individu menghindari situasi negatif. Bagi peserta yang mendapat skor lebih tinggi pada pengukuran Sistem Penghambatan Perilaku, yang mencerminkan kecenderungan menghindari rangsangan yang tidak menyenangkan, muncul pola yang menonjol.
Setelah latihan pernapasan dengan tempo lambat kecemasan bisa diredam. Temuan ini mengisyaratkan bahwa efek menenangkan dari pernapasan dapat memberikan rasa aman yang memungkinkan individu menghadapi dan terlibat dalam emosi yang tidak nyaman. (ndi/psypost)
