Aktual.co.id – banyak yang mengalami harinya penuh tekanan. Ditandai keluhan jantung berdebar, tangan gemetar, pikiran berpacu, hingga membuat tidak bisa tidur. Penulis dan psikolog Olivia Reid memberikan saran di geediting untuk menghindari perilaku ini agar tidak stres
Berpikir Berlebihan (Overthingking)
Berpikir berlebihan bisa menjebak dalam pikiran dan bisa , menjauh dari momen saat ini di mana kehidupan sebenarnya terjadi. Overthingking Ini bisa memicu stres yang diciptakan sendiri yang dapat dikendalikan.
Penundaan
Penundaan memikat ke dalam rasa nyaman namun sesungguhnya terjebak pada kesalahan. Karena terbuai dengan kalimat “selalu ada hari esok”. Namun kenyataannya, penundaan adalah tiket menuju stres.
Penundaan memang memberi kelegaan yang sesaat, tetapi akan mengorbankan kedamaian jangka panjang. Setiap tugas yang diselesaikan hari ini akan mengurangi satu kekhawatiran untuk esok hari.
Mengabaikan Perawatan Diri
Merawat diri bukanlah hal yang egois. Itu mengisi ulang tenaga sehingga dapat menjadi yang terbaik bagi dunia di sekitar adalah sesuatu yang penting. Ini bisa berarti mandi santai, berjalan-jalan, atau sekadar mencari waktu untuk bernapas. Prioritaskan kebutuhan sendiri dan ucapkan selamat tinggal pada pengabaian perawatan diri sendiri.
Menyimpan Dendam
Menyimpan dendam itu seperti membawa ransel yang berat ke mana pun pergi. Jalan menuju kehidupan yang lebih tenang dan tidak terlalu stress adalah belajar untuk melepaskan. Ini tidak berarti melupakan apa yang terjadi atau membiarkan diri terluka. Melainkan memilih kedamaian daripada kepahitan yang berkepanjangan.
Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Ketahuilah membandingkan diri sendiri dengan orang lain adalah resep untuk ketidakpuasan dan stres. Mengukur kemajuan dengan menggunakan tolok ukur orang lain tidak hanya tidak adil tetapi juga melelahkan. Menghargai pencapaian sekecil apa pun dapat menghasilkan rasa puas yang tidak dapat disamai oleh validasi eksternal apa pun.
Mengejar Kesempurnaan
Kesempurnaan adalah ilusi atau fatamorgana berkilau yang membuat orang terus berputar-putar yang tidak pernah mampu mencapainya. Seiring bertambahnya usia, melepaskan pengejaran kesempurnaan dapat membuka jalan bagi kehidupan yang lebih tenang dan lebih autentik.
Hidup di Masa Lalu atau Masa Depan
Masa lalu sudah berlalu, dan tidak ada perenungan yang dapat mengubah apa yang telah terjadi. Masa depan adalah misteri yang tidak dapat diprediksi oleh kekhawatiran apa pun. HIndari obsesi terhadap masa lalu dan masa depan. Sebaliknya, sambut kesadaran dan nikmati ketenangan hidup di masa kini.
Mengabaikan Perasaan
Perasaan adalah kompas internal yang menuntun kita ke arah yang terasa benar dan tidak. Seiring bertambahnya usia, mengasah kesejahteraan emosional menjadi sangat penting untuk kehidupan yang lebih tenang dan bebas stres. Mari mendengarkan perasaan, mengakuinya, dan mengatasi dengan cara yang sehat. Sudah saatnya kembali ke diri sendiri. (ndi)
