Aktual.co.id – dalam sebuah komunitas kantor atau kelompok pasti ada seseorang yang memprediksi hal terburuk. Misalnya dalam kelompok komunitas ada yang selalu menyampaikan hal terburuk ketika menjalankan kegiatan bersama.
Ternyata menurut psikolog Eliza Hartley perilaku ini sering kali berasal dari sifat-sifat tersembunyi tertentu. Orang-orang yang selalu meramalkan skenario terburuk bukan sekadar pesimis, biasanya punya prediksi lebih penting daripada yang terlihat. Berikut ini sifat terdalamnya.
Berpengalaman dalam Pecahkan Masalah
Mungkin ciri paling penting dari orang yang terbiasa memprediksi skenario terburuk adalah keterampilan dalam memecahkan masalah. Orang-orang ini memiliki bakat untuk mengidentifikasi masalah dan menyusun solusi.
Sifat ini merupakan hasil dari analisisnya yang terus-menerus terhadap berbagai kemungkinan. Ketika meramalkan suatu masalah, orang ini mulai memikirkan cara menyelesaikannya. Dirinya tidak hanya meramalkan malapetaka tetapi juga bagaimana cara memecahkan persoalannya.
Secara Alami Lebih Berhati-hati
Orang yang secara konsisten memprediksi skenario terburuk memiliki kecenderungan untuk berhati-hati. Dirinya suka bertindak hati-hati dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan.
Kehati-hatian ini dapat menjadi sifat yang berharga, karena dapat mencegah keputusan yang tergesa-gesa dan perilaku impulsif. Namun, hal itu dapat menyebabkan kekhawatiran yang berlebihan dan kecenderungan mengharapkan yang terburuk.
Perfeksionis
Perfeksionisme umum terjadi bagi yang terbiasa meramalkan malapetaka dan kesuraman. Orang ini menetapkan standar yang tinggi untuk diri sendiri dan takut konsekuensi jika tidak memenuhi standar tersebut.
Memahami hubungan antara perfeksionisme dan prediksi skenario terburuk dapat membantu bersimpati dengan orang-orang ini dan memberi dukungan yang dibutuhkan untuk mengelola ekspektasi dengan cara yang lebih sehat.
Berorientasi pada Detail
Karakteristik lain yang sering temukan yang terbiasa memprediksi skenario terburuk adalah perhatian terhadap detail.
Orang-orang ini tidak hanya melihat permukaannya tapi menyelami hal-hal yang lebih dalam. Di mana akan memperhatikan hal detail-detail yang diabaikan orang lain. Dan detail-detail yang diabaikan inilah yang membuat mengantisipasi masalah.
Berorientasi pada detail bisa menjadi aset yang hebat, terutama di bidang yang membutuhkan ketepatan dan ketelitian. Namun dalam kehidupan sehari-hari, sifat ini dapat menimbulkan gangguan kecemasan karena memikirkan hal yang tidak perlu.
Sangat Berempati
Orang yang mengetahui sering mempridiksi hal terburuk memiliki sifat empati yang lebih dalam. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Jurnal Kepribadian dan Psikologi Sosial menemukan bahwa individu dengan tingkat empati tinggi lebih cenderung mengantisipasi hasil negatif.
Ini karena memahami emosi orang lain dan menyadari potensi hasil negatif dapat memengaruhinya. Ketika teman atau kolega meramalkan skenario terburuk bukan berarti mengartikan pesimisme, melainkan kekhawatiran mandalam terhadap kesejahteraan orang lain
Memiliki Rasa Tanggung Jawab yang Tinggi
Orang seperti ini selain mempridiksikan kemungkinan terburuk, dirinya juga memikirkan bagaimana penyelesaian jika kemungkinan tersebut terjadi.
Dirinya merasa bertanggung jawab jika prediksinya ternyata benar, sehingga di dalam komunikasi kelopok orang ini akan berupaya menyelesaikan masalah tersebut.
Potensi tersembunyi ini tidak bisa dilihat sekilas melainkan perlu pendekatan ketika mengenali orang yang mampu memprediksikan hal terburuk.
Sangat Analitis
Jika pernah berbicara dengan orang yang secara konsisten memprediksi skenario terburuk, akan melihat betapa sangat analitisnya orang tersebut.
Orang ini tidak hanya meramalkan potensi masalah, dirinya akan membedahnya, menyelidikinya, dan mengeksplorasi setiap sudut pandang untuk menyelesaikannya.
Sifat analitis ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, sifat ini memungkinkan untuk menemukan masalah sebelum masalah itu muncul, yang bisa sangat bermanfaat dalam bidang atau situasi tertentu.
Di sisi lain, analisis terus-menerus dapat menyebabkan stres dan kecemasan. Tidak mudah memikul beban setiap potensi bencana di pundak orang seperti ini. (ndi)
