Aktual.co.id – Pendidikan di masa pertumbuhan anak – anak sangat berperan penting untuk menciptakan individu di masa dewasa.
JIka di usia anak sering terabaikan emosinya secara terus menerus oleh orang tua, maka akan terbentuk individu yang sulit untuk mengekspresikan emosionalnya.
Menurut Isabella Chase, ada perilaku yang dipengaruhi oleh pendidikan tumbuh kembang semasa kecil sehingga terpengaruh ketika dewasa.
Merasa Bersalah karena Bersantai
Waktu senggang membuatnya merasa tidak nyaman karena istirahat selalu diidentikkan rasa “malas”. Liputan terkini di TIME menyoroti “kecemasan saat relaksasi,” yang menunjukkan banyak orang dewasa merasa bersalah ketika beristirahat.
Pandangan ini bisa dikaitkan dengan pendidikan anak karena orang tua selalu menuntut lebih kepada anaknya tersebut dengan istilah kesempurnaan.
“Waktu itu orang tua tidak mewadahi emosi anaknya sehingga kebutuhan pribadinya menjadi tergerus dan tidak mendapatkan tempat yang terbaik,” ungkap Isabella.
Meminimalkan Preferensi Pribadi
Kalimat “terserah anda” adalah yang sering terucap ketika orang ditawarkan sesuatu seperti tempat makan. “Kalimat ini bisa muncul karena di masa anak-anak selalu dalam kontrol sehingga tidak mendapatkan piliha individu untuk sekedar tempat makan,” kata Isabella.
Kenapa ini bisa terjadi? Karena sejak dini tertekan karena mengungkapkan preferensi berisiko menimbulkan kekecewaan atau ejekan.
Peneliti mindfulness di Mindful.org menekankan bahwa mengidentifikasi preferensi sederhana yakni menawarkan banyak pilihan seperti minum the, kopi atau jalan sore. Teknik ini untuk mengembangkan kepercayaan pada individu untuk memilih sesuai referensinya.
Terlalu Banyak Menjelaskan Batasan
Ketika kata “tidak” memicu rasa bersalah di rumah, batasan orang dewasa mulai terdengar seperti ringkasan ruang sidang.
Kebiasaan ini terjadi karena sering termanipulasi sejak mendapat asuhan orang tua. Seringnya termanipulasi ini membuat kebutuhan pribadi tidak mendapatkan tempat yang terbaik.
“Pengungkapan rasa lelah, penolakan, akan terjadi ketika dewasa sehingg memunculkan sikap menolak ketika mendapatkan pembagian tugas. Di dalam otaknya tertanam akan termanipulasi,” jelasnya.
Berlatihlah memberikan batasan yang singkat dan hangat: “Saya tidak bisa bergabung malam ini, tetapi terima kasih sudah mengundang saya.”
Ragu untuk Meminta Bantuan
Kurangnya pendidikan emosional di masa anak – anak akan menciptakan individu untuk memita bantuan. Hal ini karena seringnya di manipulasi serta tingginya tingkat permisif terhadap setiap manipulasi saat masih anak-anak.
Meminta bantuan dianggap tabu karena dicap sebagai kelemahan. Padahal meminta tolong bagian dari kesehatan mental untuk membagi peran dalam kehidupan.
Maka kecanggungan dalam meminta tolong ini dapat dilatih denga bermitra dalam komunitas. Di sana individu akan berbagi peran untuk mendapatkan fungsinya masing – masing.
Menolak Pujian
Ketika pujian tersebut datang orang tersebut menepisnya dengan lelucon untuk merendahkan diri. “Baginya Pujian terasa mencurigakan karena, di masa kanak-kanak tidak mendapatkan pujian secara konstan dari orang tuanya,” katanya
Isabella memberikan saran jika ada orang yang memujinya maka berhentilah sesaat, ambil napas, kemudian ucapkan terima kasih.
Kecanggungan mendapatka pengakuan ini bisa didapatkan dari orang terdekat untuk melatih agar tidak menolak ketika diberi sanjungan.
Membutuhkan Validasi Melalui Pencapaian Tanpa Henti
Harvard Business Review mencatat bahwa orang-orang dengan kinerja tinggi yang mengejar pujian eksternal tumbuh dengan jiwa yang melelahkan.
Jika rak piala sudah penuh namun masih merasa hampa, tanyakan pada diri sendiri suara siapa yang ingin Anda puaskan.
Etos kerja itu berharga, tetapi bisa menjadi topeng ketika harga diri bergantung pada keinginan untuk mendapatkan validasi.
Menutup Diri Saat Terjadi Konflik
Individu ini terbentuk karena emosi besar di rumah yang pernah dirasa tidak aman atau tidak ada gunanya untuk dibagikan.
Kepribadian ini akan hadir dalam konflik kecil atau besar dan di dalam hatinya berucap konflik ini akan mengganggunya.
Konflk ini akan membuat orang ini menghindar demi keamanan mentalnya yang tidak dibiasanya untuk berkompromi ketika berhadapan dengan konflik.
Meminta Maaf atas Keberadaannya
“Maaf” terucap bahkan sebelum pelanggaran sebenarnya terjadi. Permintaan maaf yang terus-menerus ini menutupi rasa takut
Mengganti permintaan maaf otomatis dengan “terima kasih sudah menunggu” atau “permisi” akan membentuk kembali refleks tersebut seiring berjalannya waktu.
Ini bukan tentang menjadi terus terang atau kasar, ini tentang membiarkan diri mengambil ruang yang sesuai.
Berjuang Menyebutkan Perasaan
Indivu yang tumbuh dengan orangtua yang meremehkan atau mengabaikan emosi, sering kali memiliki kosakata emosional yang sedikit.
Dampaknya akan mempengaruhi anak kesulitan mengungkapkan perasaannya. “Saya baik-baik saja” atau “Saya lelah,” meski sebenarnya perasaan itu adalah marah, malu, atau gembira.
Jika tak seorang membantu menyebutkan perasaannya, maka dampak yang dirasakan adalah masuk akal jika kata-kata itu masih tersembunyi dari Anda hingga kini. (ndi)
