Aktual.co.id – Empati dan kasih sayang adalah kekuatan seseorang untuk menjadi sukses.
Ketika seseorang telah menguasai kekuatan empati dan kasih sayang maka akan membentuk sikap dan perilakunya dalam kehidupan.
Berikut sikap seseorang yang menguasai empati ketika berkomunikasi dengan masyarakat sosial berdasarkan analisa tulisan psikolog Farley Ledgerwood.
Berlatih Belas Kasih pada Diri Sendiri
Seorang pria yang telah menguasai empati dan kasih sayang memahami pentingnya memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan.
Psikolog Kristin Neff, seorang peneliti terkemuka di bidang welas asih diri, mengatakannya,”Dengan welas asih pada diri sendiri, memberi kebaikan dan perhatian yang sama seperti yang diberikan kepada teman baik.”
Berlatih belas kasih pada diri sendiri melibatkan mengakui perasaan sendiri, menerima kekurangan, dan memahami bahwa setiap orang pernah berbuat kesalahan.
Tidak Takut Mengatakan Tidak
Banyak yang menyangka individu yang empati adalah yang menyenangkan semua orang. Tetapi kenyataannya adalah, empati sejati adalah kemampuan untuk mengatakan “tidak.”
Individu ini menyadari bahwa menetapkan batasan sangat penting untuk kesejahteraan diri sendiri dan menjaga hubungan yang sehat.
Mengatakan “tidak” bisa jadi sulit, terutama bagi yang peduli dengan perasaan orang lain. Tetapi ini adalah hal yang paling penuh kasih yang bisa dilakukan untuk diri sendiri.
Mempraktikkan Kebaikan
Kebaikan adalah konsep yang sederhana, tetapi sangat kuat manfaatnya.
Tindakan kebaikan kecil dapat membuat perbedaan besar dalam hari seseorang—dan pria yang telah menguasai empati dan kasih sayang memahami hal ini.
Individu yang mewujudkan empati dan kasih sayang memahami tentang arti kebaikan.
Dalam mempraktikkan kebaikan, akan memperkuat nilai-nilai empati dan kasih sayang yang mengarah pada pertumbuhan pribadi dan rasa kepuasan yang lebih dalam.
Bersyukur
Syukur lebih dari sekadar mengatakan “terima kasih.”
Ini adalah pola pikir, cara melihat dunia dari sisi kepositifan dan apresiasi terhadap hal-hal baik dalam hidup.
Individu yang telah menguasai empati dan kasih sayang membuat kebiasaan mengungkapkan rasa terima kasih.
Orang ini akan mengenali kebaikan dalam hidupnya dan berusaha mengakuinya.
Orang yang secara teratur mengungkapkan rasa terima kasih mengalami tingkat emosi positif yang lebih tinggi, kepuasan hidup, dan optimisme tentang masa depan.
Tidak Takut Menunjukkan Kerentanan
Banyak masyarakat yang kesulitan menunjukkan kerentanan ketika hatinya terluka.
Hal ini wajar karena di masyarakat sering menyamakan kerentanan dengan kelemahan. Namun individu yang menguasai empati dan kasih sayang memahami menunjukkan kerentanan bukanlah tanda kelemahan justru hal tersebut tanda kekuatan.
Orang-orang ini memahami bahwa bersikap terbuka tentang perasaan, ketakutan, dan rasa tidak aman tidak mengurangi kekuatannya untuk menjalani kehidupan.
Dengan menunjukkan kerentanan, mereka menciptakan ruang yang aman bagi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Berlatih Kesabaran
Kesabaran sering diuji dalam hiruk pikuk kehidupan. Bagi yang menguasai empati dan kasih sayang, kesabaran menjadi respons alami.
Individu yang menguasai empati dan kasih sayang berlatih kesabaran, bukan sebagai kebajikan tetapi cara untuk memahami dan terhubung dengan orang-orang di sekitar.
Orang seperti ini melihat sesuatu dari perspektif orang lain, sehingga pola perilakunya tidak sampai menyakiti orang lain.
Mendengarkan Secara Aktif
Mendengarkan secara aktif bukan hanya tentang mendengar apa yang dikatakan orang lain. Sikap ini adalah memberi perhatian kepada lawan bicara. Dalam kata-kata Carl Rogers, salah satu psikolog paling berpengaruh di abad ke-20, “Ketika seseorang mendengarkan tanpa menghakimi, tanpa mencoba meminta tanggung jawab, rasanya sangat menyenangkan!.”
Mendengarkan secara aktif membuat percakapan lebih bermakna dan memperkuat hubungan, meningkatkan kepercayaan dan menumbuhkan rasa saling menghormati. (ndi)
