Aktual.co.id – Sebuah studi baru mengungkapkan dua jenis wajah narsisisme yang berbeda, satu berdasarkan keegoisan dan yang lainnya berdasarkan kesombongan.
Diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin, penelitian ini menemukan bahwa meskipun kedua wajah tersebut dipandang negatif, versi yang sombong justru dianggap lebih kompeten dan menarik, terutama bagi orang-orang yang memiliki narsisisme yang tinggi.
Tim peneliti yang dipimpin oleh Sarah Smith di Universitas Cardiff ini ingin mengeksplorasi mental narsisistik secara lebih langsung dan melibatkan partisipan.
Mereka tertarik pada orang memandang narsisis pada tingkat wajah dan representasi visual ini memengaruhi penilaian sosial, seperti kredibilitas atau potensi kepemimpinan.
Para peneliti berfokus pada dua tema umum dalam definisi narsisme yang populer: keegoisan dan kesombongan. Para ilmuwan menggunakan teknik inovatif yang disebut korelasi terbalik untuk menghasilkan citra wajah dari pikiran partisipan.
Dalam metode ini, partisipan diperlihatkan wajah dasar netral yang telah dilapisi dengan pola acak gangguan visual. Pada setiap percobaan, mereka melihat dua versi wajah ini, mereka diminta memilih gambar yang paling mewakili kategori tertentu, misalnya, seorang “narsisis”.
Dengan mengulangi proses ini ratusan kali dan merata-ratakan semua pola kebisingan yang dipilih peserta, peneliti dapat menciptakan gambar komposit yang mencerminkan representasi mental individu tersebut terhadap kategori tersebut.
Secara keseluruhan, kedua wajah narsistik tersebut dinilai kurang menarik untuk pertemanan dan hubungan dibandingkan dengan wajah non-narsistik. Mereka dianggap terlibat dalam perilaku hubungan yang toksik.
Namun, ketika membandingkan kedua wajah narsistik tersebut, wajah narsistik-sombong dinilai lebih menarik secara fisik dan lebih menarik untuk hubungan jangka pendek dibandingkan wajah narsistik-egois.
Sekali lagi, penilai dengan skor narsisme yang lebih tinggi melaporkan merasakan lebih banyak kesamaan dan keakraban dengan wajah narsistik-sombong, yang pada gilirannya memprediksi bahwa wajah tersebut akan lebih menarik secara romantis.
Temuan menunjukkan bahwa representasi visual seseorang tidaklah monolitik. Sebaliknya, representasi tersebut berbeda berdasarkan apakah keegoisan atau kesombongan yang muncul dalam pikiran.
Citra yang diasosiasikan dengan kesombongan tampaknya membawa beberapa sifat yang dihargai secara sosial terkait agensi dan kompetensi, yang tidak ada dalam citra yang diasosiasikan dengan keegoisan.
Penelitian ini juga memajukan pemahaman tentang apa yang disebut sebagai toleransi narsistik. Yaitu kecenderungan narsistik untuk memandang narsisisme lain secara lebih positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan penampilan wajah, tanpa informasi eksplisit apa pun kesombongan menjadi faktor utama memicu efek ini..
Para penulis mengakui keterbatasan dalam penelitian mereka. Penelitian ini berfokus pada keegoisan dan kesombongan, tetapi aspek narsisme lainnya, seperti kerentanan, dapat menghasilkan representasi wajah yang berbeda.
Karena penelitian ini dilakukan pada satu titik waktu, mereka tidak dapat secara pasti membuktikan bahwa kesamaan yang dirasakan menyebabkan penilaian positif.
Perlu dicatat partisipan yang menghasilkan wajah tersebut adalah mahasiswa dan sampelnya diambil dari negara Barat. Sehingga penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi persepsi ini pada populasi yang lebih beragam dan lintas budaya untuk melihat apakah gambaran mental ini bersifat universal. (ndi/psypost)
