Aktual.co.id – Nasi goreng memiliki awal yang sama dengan versi nasi goreng lainnya, yakni menghindari pemborosan nasi.
Menggoreng nasi dapat mencegah penyebaran kuman, bakteri, mikroba berbahaya, terutama dalam teknologi pra-pembekuan di Indonesia dan menghindari kebutuhan membuang makanan yang berharga.
Nasi goreng secara tradisional disajikan di rumah untuk sarapan dan secara tradisional dibuat dari nasi sisa dari malam sebelumnya.
Nasi goreng sebenarnya terinspirasi oleh sebuah hidangan Timur Tengah yang disebut Pilaf, yaitu nasi yang dimasak dengan kuah kaldu yang dibumbui.
Saran ini cukup masuk akal dalam kaitannya dengan varian tertentu, yaitu nasi goreng kambing Betawi, yang menggunakan daging kambing, rempah-rempah yang kaya dan minyak Samin yang menunjukkan pengaruh Timur Tengah.
Nasi goreng dianggap sebagai bagian dari budaya India. Penyebutan nasi goreng muncul dalam kesusastraan kolonial Hindia Belanda, seperti dalam cerita murid Hidjo karya Marco Kartodikoromo, yang dimuat di surat kabar Sinar Hindia tahun 1918.
Disebutkan dalam buku masak Belanda tahun 1925 Groot Nieuw Vollemenggali Oost Indisch Kookbook. Perdagangan antara Belanda dan Hindia Belanda pada saat itu telah meningkatkan popularitas nasi goreng ke dunia.
Setelah Indonesia merdeka, nasi goreng dianggap sebagai hidangan nasional. Itu ada di menu yang diperkenalkan, ditawarkan dan disajikan di Restoran Teater Indonesia 1964 di dalam paviliun Indonesia di pameran dunia New York.
Howard Palfrey Jones, Duta Besar AS untuk Indonesia pada tahun terakhir pemerintahan Ir. Soekarno pada pertengahan dasawarsa 1960-an, dalam memoarnya “Indonesia: a dream possible”, mengatakan bahwa dia seperti nasi goreng.
Dia menggambarkan keberaniannya untuk nasi goreng yang dimasak oleh Hartini, salah satu istri dari Soekarno, dan memujinya sebagai nasi goreng paling enak yang pernah dia rasakan. (ndi/Wikipedia)
