Aktual.co.id – Beberapa hari ini hawa kota di Indonesia mulai terasa dingin setelah memasuki musim kemarau.
Di media sosial publik ramai-ramai memposting dingin banget sebagai respon hawa dingin yang dirasakan olehnya.
Dari platform X terpantau beberapa akun menceritakan di tempatnya dingin banget hingga mencapai 10 derajat selsius di kawasan Dieng, Jawa Tengah.
“Dingin banget, kalo gini terus kaum mermaid kaya aku bisa jadi frozen food,” ketik @miyo***
“Dingin banget kayanya minggu depan turun salju coba komen di daerahmu berapa suhunya!,” ungkap @Anggi***
“Perasaan waktu di Dieng 13-15° ga sedingin ini deh, dingin banget Semarang,” tulis @simpfo***

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa udara dingin yang dirasakan masyarakat di Indonesia, khususnya di wilayah selatan Khatulistiwa seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur, bukan disebabkan oleh fenomena Aphelion.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan bahwa Aphelion merupakan fenomena tahunan yang tidak berkaitan langsung dengan udara dingin yang saat ini dirasakan.
“Mengenai hawa dingin yang sekarang itu sebenarnya lebih didominasi oleh kejadian yang di selatan Khatulistiwa, khususnya di pulau Jawa, Jawa Tengah, Jawa Timur,” ungkapnya.
Hal ini terjadi karena udara kering dari Australia, monsun Australianya sifatnya lebih kering. Hal ini ditegaskan dalam jumpa pers pada Senin, 7 Juli 2025 lalu.
Kondisi ini menyebabkan suhu udara malam hari terasa lebih dingin, sementara siang hari pun tidak sepanas bulan-bulan lain yang memiliki kandungan uap air lebih tinggi, sehingga panasnya terasa lebih menyengat.
Secara waktu, fenomena Aphelion dan cuaca dingin ini terjadi bersamaan. Namun, Aphelion merupakan fenomena astronomis berskala global, sehingga tidak dapat dijadikan penyebab langsung cuaca dingin di satu wilayah tertentu. (ndi/X)
