Aktual.co.id – Tiga dekade setelah dirilis pada 20 Oktober 1995, “ Dilwale Dulhania Le Jayenge Shah Rukh Khan dan Kajol/ Foto: Variety” karya Aditya Chopra terus berkuasa sebagai film romantis paling dicintai di India
Dengan bintang Shah Rukh Khan dan Kajol merenungkan dampak budaya yang belum pernah terjadi sebelumnya dari film laris bersejarah tersebut.
Produksi Yash Raj Films mengisahkan Raj dan Simran, dua pemuda India-Inggris yang jatuh cinta saat berlibur di Eropa, namun harus menghadapi tantangan untuk memenangkan hati ayah Simran yang tradisional.
Dikutip dari Variety, film ini menjadi fenomena budaya, terutama memegang rekor pemutaran teater terlama di bioskop Maratha Mandir Mumbai.
Penggambaran Khan dan Kajol tentang pasangan ikonik ini telah menjadi salah satu representasi sinematik cinta yang definitif di sinema India, mempertahankan status mereka sebagai batu ujian budaya pop bagi orang Asia Selatan di seluruh dunia.
“Rasanya belum genap 30 tahun sejak ‘Dilwale Dulhania Le Jayenge’ dirilis. Saya sungguh bersyukur atas semua cinta yang saya terima dari orang-orang di seluruh dunia karena memerankan Raj,” kata Khan
Menurutnya, tak seorang pun bisa membayangkan film ini mendapat tempat di hati orang-orang di seluruh dunia.
Aktor tersebut mencatat dampak nyata film ini terhadap penonton: “Begitu banyak pasangan yang bertemu saya dan mengatakan bahwa kami menikah atau jatuh cinta setelah menonton film ini,” tambah Khan.
Kajol, yang mengenang peran ikoniknya sebagai Simran, menyebut pencapaian ini “surealis” dan menyatakan bahwa film ini telah menjadi warisan dan pengalaman nostalgia bagi satu generasi.
“Bagi saya, Simran adalah babak yang tak kunjung berakhir dia mewakili jutaan perempuan di negeri ini, perempuan yang ingin melakukan apa yang orang tua katakan, yang memegang teguh tradisi di satu tangan tetapi tetap meraih kebebasan di tangan yang lain. Itulah mengapa ia masih bergema,” kata Kajol.
Menurutnya, para penonton yang memuja film ini di usia 16 tahun saat ini sudah menonton bersama anak-anak mereka, dan semakin mencintainya setiap tahun.
Film ini telah menjadi contoh bagaimana sinema India memimpikan cinta. Chimestry antara Khan dan Kajol dianggap sebuah satu frame yang bisa berjalan secara alami.
“Kami tidak pernah perlu berpikir berlebihan, merencanakan berlebihan, atau berusaha terlalu keras. Ada rasa saling menghormati dan rasa nyaman yang mendalam dalam persamaan kami,” kata Kajol.
Kajol memuji visi sutradara Chopra yang menjadikan “gagasan romansa ini obsesi terbesar bangsa,” seraya mencatat bahwa lagu, dialog, dan citra ikonik film tersebut “meresap ke dalam budaya pop dan bertahan di sana.” (ndi/Variety)
