Aktual.co.id – Korban perudungan banyak yang tidak menampakkan secara kasat mata karena menampilkan kondisi yang baik-baik saja, hal itu disampaikan oleh dr.Riko Lazuardi, Sp.KJ, dokter spesialis kedokteran jiwa dari RS Bakti Dharma Husada, Surabaya, Sabtu (8/11).
Menurut dr. Riko, membutuhkan proses pemeriksaan dan penilaian yang hati-hati dan cermat untuk memastikan seorang anak menjadi korban perundungan. “Karena gejala tidak selalu tampak di permukaan atau dikatakan langsung. Namun seringkali tanda – tanda samar mulai dapat dikenali, mulai dari masalah akademik, sering ijin sakit, sering bolos, prestasi menurun, tampak menyendiri di sekolah, gangguannya emosional seperti mudah marah, menangis, atau bahkan apatis. Jika ada tanda – tanda seperti ini, sebaiknya mulai waspada,” katanya ketika dihubungi aktual.

Disampaikan jika deteksi dini bisa melibatkan banyak pihak, mulai guru atau teman yang ada di sekitarnya. “Untuk pengamatan dari guru bisa dilihat dari menyendiri, emosional, sering ke UKS, jadi lebih murung atau pendiam, nilai jelek,” katanya.
Ditambankan oleh dr. Riko, jika ada tanda – tanda luka atau memar di badan ada barang – barang yang sering rusak atau hilang apalagi kalo ada kultur bullying yang dilaporkan segera mendapatkan penanganan.
“Sementara untuk pengamatan teman bisa ditanyakan apakah ada perubahan sikap korban? Apakah ada tanda – tanda menyendiri atau ketakutan? Adakah saksi dari perundungan? Sering kali pengamat bullying atau bystander ini sering kali juga korban secara tidak langsung,” katanya.
Umumnya kata dr.Riko, mereka tidak berani membela atau melaporkan karena takut dibully juga. Jadi perlu pendekatan yang baik Selain di sekolah juga butuh pengamatan orang tua, katanya, seperti perubahan sikap anak di rumah yang lebih pemarah, tidak mau ke sekolah, ingin pindah sekolah, sering sakit dan lain-lain.
“Ketiga ini perlu saling melengkapi. Ada salah satu saja laporan dari satu pihak, maka perlu ditelusuri. Screening tentunya dengan menanyakan langsung pada korban,” ungkap dr.Riko.
Ditambahkan memadukan tiga pengamatan dan laporan tadi, dari guru, teman, dan orang tua, jika diperlukan konsul, maka tidak perlu ragu konsul ke profesional.
“Beberapa ada yang terlihat kasat mata, bahkan pengakuan dari korban, tapi beberapa tidak diketahui. Karena itu perlu cermat memperhatikan perubahan kecil yang ada,” ungkapnya.
Di fase lanjut tambah dr. Riko, ada yang justru jadi agitasi, sering marah, agresif, dan membahayakan diri sendiri atau orang lain, karena sudah putus asa. “Yang lebih penting, sebetulnya memang upaya pencegahan, dengan membuat sistem yang meningkatkan kesadaran gangguan jiwa di sekolah. Sehingga meminimalisir kasus yang terjadi,” kata dr.Riko. (ndi)
