Aktual.co.id – Para pejabat Iran mengatakan telah membatalkan pembukaan kembali Selat Hormuz dan memberlakukan kembali pembatasan pada jalur pelayaran vital tersebut setelah AS mengatakan tidak akan mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sebuah badan maritim Inggris melaporkan kapal-kapal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) telah menembaki sebuah kapal tanker saat kapal tersebut mencoba melewati selat pada hari Sabtu.
Reuters melaporkan bahwa sebuah kapal berbendera India yang membawa minyak mentah juga diserang saat berada di jalur perairan tersebut.
Komando militer gabungan Khatam al-Anbiya Iran mengatakan pada hari Sabtu bahwa Teheran telah mengembalikan selat tersebut ke “status sebelumnya” dan sekarang berada di bawah manajemen dan kendali ketat oleh angkatan bersenjata.
Iran mengatakan pembatasan tersebut akan tetap berlaku jika Washington tidak memastikan kebebasan navigasi penuh bagi kapal yang berlayar dari Iran ke tujuan dan dari tujuan ke Iran.
Hal ini ditegaskan kembali oleh wakil menteri luar negeri negara itu, Saeed Khatibzadeh, dan komando angkatan laut IRGC.
Berbicara kepada wartawan di sela-sela forum diplomatik tahunan Turki di Antalya, Khatibzadeh mengatakan bahwa AS tidak dapat memaksakan kehendaknya untuk mengepung Iran, sementara Iran, dengan niat baik, berupaya memfasilitasi jalur aman melalui Selat Hormuz.
Dalam sebuah unggahan di X, komando angkatan laut IRGC menulis: Selama pergerakan kapal dari dan ke Iran terancam, maka status Selat Hormuz akan tetap seperti sebelumnya. Setiap pelanggaran komitmen oleh Amerika Serikat akan mendapat tanggapan yang sesuai.
Iran secara resmi menutup selat tersebut pada 4 Maret 2026 sebagai tanggapan atas serangan udara AS-Israel terhadap negara itu, dan menyatakan selat tersebut kembali terbuka pada hari Jumat setelah kesepakatan gencatan senjata 10 hari disepakati antara Israel dan Lebanon, sebagai bagian dari negosiasi yang lebih luas untuk mencapai perdamaian di kawasan tersebut.
Delegasi AS dan Iran diperkirakan akan mengadakan putaran kedua pembicaraan perdamaian, meskipun waktunya belum dikonfirmasi.
Agence France-Presse melaporkan bahwa menteri luar negeri Mesir mengatakan pada hari Sabtu bahwa ada harapan untuk kesepakatan dalam beberapa hari mendatang.
“Kami berharap dapat mencapai kesepakatan dalam beberapa hari mendatang,” kata Badr Abdelatty. Dia menambakan bukan hanya pihaknya di kawasan ini, tetapi seluruh dunia menderita akibat berlanjutnya perang ini. (ndi/the guardian)
