Aktual.co.id – Ledakan hebat telah menghancurkan anjungan pengeboran lepas pantai di Deepwater Horizon Teluk Meksiko pada Senin Malam 20 April 2010.
Akibat kejadian tersebut 11 pekerja tewas dan 17 lainnya luka – luka. Insiden fatal ini terjadi saat fasilitas milik Transocean yang disewa oleh perusahaan BP tersebut menyelesaikan tahap akhir penutupan sementara sumur Macondo.
Kecelakaan diakibatkan ketika gas bertekanan tinggi menerobos lapisan semen pelindung dan memicu ledakan besar setelah sistem pengaman otomatis gagal berfungsi.
Berdasarkan laporan Britannica, sumur yang terletak 1.500 meter di bawah permukaan laut tersebut terus menyemburkan minyak mentah selama hampir tiga bulan pasca-ledakan.
Saksi mata menggambarkan situasi di lokasi sangat mencekam saat api mulai melahap seluruh area anjungan. “Seluruh anjungan berguncang. Rasanya seperti berjalan langsung ke neraka,” kata Stephen Davis, salah satu pekerja kilang, dalam kesaksiannya kepada The Guardian.
Dampak minyak yang tumpah ke laur diperkirakan mencapai 4,9 juta barel detelah kebocoran melonjak dari 1.000 menjadi 60.000 barel per hari.
Semburan baru berhasil dihentikan sepenuhnya pada Juli 2010 sebelum sumur disegel secara permanen dua bulan kemudian.
Investigasi resmi yang dibentuk Presiden Amerika Serikat menyimpulkan bahwa tragedi ini dipicu oleh keputusan manajemen untuk memangkas biaya dan waktu.
Laporan investigasi yang dikutip BBC International menyebutkan bahwa sejumlah kejanggalan pada uji tekanan sebenarnya telah terdeteksi beberapa jam sebelum ledakan terjadi.
“Perusahaan-perusahaan yang terlibat membuat keputusan untuk memangkas biaya dan menghemat waktu, yang pada akhirnya berkontribusi pada bencana ini,” tulis laporan investigasi tersebut sebagaimana dilansir BBC International pada Senin (20/4/2026).
Akibat bencana lingkungan terbesar dalam sejarah ini, BP dijatuhi sanksi denda dan kompensasi senilai lebih dari US$60 miliar (Rp1 kuadrilyun).
Dampak kerusakan ekosistem dan kerugian ekonomi bagi masyarakat pesisir di sekitar Teluk Meksiko masih dirasakan hingga bertahun-tahun setelah kejadian. (ndi/ the guardian)
