Aktual.co.id – Produsen pikap dan SUV listrik Rivian mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka akan memberikan CEO RJ Scringe paket gaji senilai $4,6 miliar (Rp76 triliun)
Langkah dari dewan Rivian ini merujuk dari komisaris Tesla yang memberikan paket gaji kepada Elon Musk sebesar $1 triliun (Rp 16 kuadriliun). Dengan pemberian paket gaji $4,6 miliar (Rp76 triliun) untuk RJ Scaringe ini maka menjadi salah satu orang terkaya dalam sejarah.
Rivian mengatakan, rencana tersebut akan mempertahankan pendirinya dan membuatnya tetap fokus pada pertumbuhan dan profitabilitas saat pembuat mobil tersebut.
Industri ini dikenal dengan SUV R1S dan truk pikap R1T, bersiap meluncurkan SUV R2 yang lebih kecil dan lebih terjangkau dan akan bersaing dengan crossover Model Y terlaris Tesla.
Rencana Rivian menggantikan rencana yang menurut dewan tidak mungkin tercapai, dengan rencana baru yang memiliki tujuan lebih rendah dalam hal pertumbuhan saham.
Penghapusan kredit pajak utama untuk kendaraan listrik diperkirakan akan memangkas penjualan hingga akhir tahun ini. Rivian telah menggandakan pemangkasan biaya, dan baru-baru ini memberhentikan sekitar 600 karyawan, atau 4,5% dari total tenaga kerjanya.
Pemegang saham Tesla pada hari Kamis menyetujui paket gaji rekor $1 triliun (Rp16 kuadriliun) untuk CEO Elon Musk berdasarkan kombinasi tonggak operasional dan penilaian selama 10 tahun
“Meskipun Rivian bukan peniru langsung, namun Elon Musk memiliki karakteristik serupa,” kata Yonat Assayag, mitra di firma konsultan kompensasi ClearBridge Compensation Group.
Menurutnya, tawaran tersebut menunjukkan perusahaan lain mengikuti model Tesla dalam mengaitkan imbalan CEO yang besar dengan potensi keuntungan pasar yang besar.
Ditambahkan bahwa beberapa perusahaan telah menghubungi perusahaannya sendiri untuk mencari desain gaji eksekutif yang serupa. “Ini bukan untuk menyaingi Musk, tetapi terinspirasi oleh penghargaan Musk,” katanya
Meskipun paket gaji terdengar menarik, namun struktur seperti itu tidak selalu berhasil bagi para pemimpin perusahaan. “Banyak di antaranya berjuang mencapai target dengan perubahan kebijakan dan hambatan ekonomi selama bertahun-tahun,” kata Amit Batish, direktur firma riset Equilar. (reuters/ndi)
